Ikan-Ikan Kerinduan

ikan-ikan kerinduan

ada …
ada yang putih
yang itam … yang abu-abu
yang belang … yang kuning

ikan-ikan kerinduan pukul 13.00
ngap-ngap pada bibir sjuta harap
pada kerinduan yang tak pernah sia-sia
nantikan bulir-bulir cinta
dari tangan terulur
yang slalu rindu berbagi tabur

pukul 13
heiii … ikan-ikan kerinduan
membagi telah selesai,
kembali OPA pada tahta segala
tempat smua bertaut harap
‘tuk slalu merindu
pada maha samudra
yang empunya segala

Tak pernah ada yang tahu, semuanya akan berakhir begini. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Hidup memang merupakan “suatu datang dan pergi yang terus”. Karena itulah, ia selalu menyambung generasi dan membawa angkatan. Mengalami yang ada, meninggalkannya, lalu merindukan yang akan datang. Bermula dari yang sementara, lalu menuju dan menetap pada yang paripurna dan kekal, Sementara itu fana, sedangkan yang paripurna dan kekal adalah tujuan. Ketika itu menjadi sebuah keyakinan, kekekalan lalu menjadi pilihan untuk senantiasa diper¬juang¬kan dalam menata hidup.

Tidak pernah juga ada yang tahu, pikiran ini singgah di benak dan nurani Opa. Begitulah sapaan akrab setiap anggota komunitas Berkhmawan saat berjumpa Romo Domi Balo. Namun, saya yakin sekali, Opa pasti mengangkat sedikit kacamatanya, mengusap-usap kening, mengelus-elus rambutnya yang memutih, lalu tersenyum tanda setuju. Namun saya tahu, matanya pasti lebih terpaut pada kolam Yobermans di hadapan kami. Pada ikan-ikan kerinduan yang menanti taburan bulir-bulir santap siang dari tangan sang Opa.

Tidak pernah saya duga bahwa kolam Yobermans itu telah menjadi saksi berlangsungnya sebuah keyakinan bahwa “hidup adalah suatu datang dan pergi yang terus … tapak-tapak yang menyambung generasi dan membawa angkatan.” Dari Kolam Yobermans, perisai air tempat pijak St. Yohanes Berkhmans, kita bertolak mengikuti jejak-jejak hidup Opa yang masih tersimpan.

 

Pukul 13.00
Setelah Opa pensiun melaksanakan tugas regular sebagai guru di kelas bagi para seminaris, pukul 13.00 jadi saat unik. Awalnya, saya anggap biasa karena Opa “Pensiun” selalu mengunjungi penghuni kolam. Saudara-saudara ikan(bahasa St. Fransiskus Asisi” sudah menjadi teman akrab Opa. Memang tidak setiap hari saya mengikuti aktivitas Opa yang satu ini. Suatu saat, pukul 13.00, sambil “seret-seret langkah” dengan segelas penuh makanan ikan, Opa melangkah menuju kolam Yobermans, lalu berhenti tepat di belakang patung Orang Kudus itu. Saya mengikuti Opa dan berdiri di sampingnya. Opa tidak segera memberi makan ikan-ikan kesayangannya. Hal pertama yang Opa lakukan adalah bersiul-siul mendendangkan not “do re do re do re” dengan halus beberapa saat. Sementara saya memperhatikan kolam yang sejak tadi tenang dengan sedikit riak kecil. Awalnya, saya pikir Opa sekadar bersiul karena baru selesai santap siang. Ternyata “doredore” yang unik itu, cara Opa mengundang sobat-sobat ikannya santap siang. Riak-riak kolam semakin besar karena ikan-ikan Opa meluncur berebutan makan siang. Tak lama berselang gelas makanan ikan pun kosong, laris manis santap siang bawaan Opa buat sobat-sobatnya. Cukup banyak kali, Opa tidak langsung kembali. Saya dan Opa masih melanjutkan bincang-bicang kami tentang banyak hal.

Saat Opa sudah tidak bisa lagi menemui sobat-sobatnya karena tidak sanggup melangkah karena sakitnya, saya merasa perlu memasuki waktu uniknya “pukul 13”. Gelas pakan ikan saya isi penuh, melangkah ke kolam, lalu berdiri di belakang patung Orang Kudus itu. Seperti Opa, saya mendendangkan “doredore-nya”. “Lihat! Ikan-ikan sobat Opa bermunculan berebutan santap siang, yang saya taburkan sambil terus ber-doredore.”

Persahabatan yang istimewa. Ikan-ikan itu telah menyatu dengan siul – senandung Sang Opa. Taburan kasih sayang Opa telah memberi mereka hidup. Kebiasaan Opa yang indah telah membuat ikan-ikan itu mengenal dan berebutan kasih yang ditaburkan melalui tangan hatinya dengan cinta. Sobat-sobat itu tak akan pernah lagi mendengar senandung “doredore”. Namun, habitus cinta dan persahabatan yang abadi telah menyatu dalam komunitas kolam Yobermans. Riak-riak kecil itu meninggalkan kenangan manis. Pernah terjalin kisah persahabatan Sang Opa dengan ikan-ikannya melalui senandung siul “doredore”-mu dengan tangan yang selalu siap menabur. Selamat jalan OPA. Selamat memasuki kolam abadi bersama Ikan-ikan kerinduanmu akan selalu menanti taburan kasih.

Rm. Alex Dae Laba, Pr

Rekoleksi: Momen Pembaharuan Komitmen

Rekoleksi: Momen Pembaharuan Komitmen

Jelang Perayaan Puncak Dies Natalis ke-89

 

Tiga hari menjelang perayaan puncak Dies Natalis ke-89, Seminari Mataloko  menyelenggarakan rekoleksi komunitas (12/09/2018). Rekoleksi menjadi momen yang istimewa bagi segenap anggota komunitas guna memaknai hari-hari persiapan menjelang perayaan puncak 15 September mendatang.

Ketua Panitia Pesfam 2018, RD. Beny Lalo dalam kata pengantarnya, menyebutkan bahwa rekoleksi bukan sekadar menjadi bagian dari rangkaian perayaan Pesfam (Pesta famili) melainkan lebih dari pada itu, menjadi hari yang istimewa untuk merenungkan tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota komunitas “Dari sekian banyaknya  hari yang kita habiskan untuk pertandingan dan perlombaan, hari ini menjadi hari yang spesial bagi kita untuk bermenung sepanjang hari,” tegasnya.

Kegiatan rekoleksi diawali dengan adorasi bergilir  dari beberapa kelompok kelas yang dimulai dari pukul 06.30. Di sela-sela adorasi, pada pukul 08.00-09.15, semua anggota komunitas yang terdiri atas para imam, suster, frater, guru dan pegawai serta seminaris SMP dan SMA mengikuti renungan dan sharing yang dibawakan oleh Romo Praeses, RD. Gabriel Idrus di Kapela St. Alfonsus Maria de Liguori, Kapela SMA Seminari.

Adapun RD. Idrus pada tahun ini merayakan Perak, 25 tahun Imamatnya. Momen Dies Natalis ke-89 pada tahun ini menjadi kian semarak lantaran adanya perayaan perak imamat Romo Praeses. Rekoleksi pada hari ini bernaung di bawah tema umum Pesfam 2018 yakni “Menabur kasih menuai panggilan”.

Napak Tilas Panggilan Sang Gembala

Romo Idrus mengawali rekoleksi dengan mencoba kembali bernapak tilas, melihat ke masa-masa awal ketika panggilan hidup menjadi imam mulai bertumbuh. “Keinginan untuk menjadi imam hanyalah keinginan kecil dari sekian banyak keinginan yang ada ketika saya berada di bangku Sekolah Dasar,” demikian Romo Idrus mengawali kisahnya.

“Keinginan itu tumbuh tatkala menyaksikan pastor Paroki Lela dan pastor misionaris Belanda lainnya duduk bersama di pastoran Paroki Lela. Selain itu, kontak dengan imam pribumi dan kehadiran Para Frater dari Ritapiret dan Ledalero juga membangkitkan rasa senang saya terhadap mereka. Kehadiran para Frater menjadi kesempatan bagi kami yang masih kanak-kanak untuk menyaksikan orang-orang hebat di lapangan bola kaki, lapangan bola voli dan basket. Selain itu, keterampilan memainkan drama dan alat musik menjadi daya tarik tersendiri bagi saya yang pada saat itu masih kecil. Akan tetapi, setelah menamatkan pendidikan SD saya berniat untuk melanjutkan pendidikan di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) selain karena belum ada niat masuk seminari juga karena sang ayah tidak setuju karena sebagaimana pendapat umum, sekolah di seminari itu mahal. Namun, karena didesak oleh Wakil Kepala Sekolah, bapak mengiyakan saya untuk masuk seminari.”

Begitulah awal kisah panggilan Sang Gembala ketika mulai memasuki kehidupan sebagai seorang seminaris. Dalam refleksinya, Romo Idrus menginsafi bahwa sesungguhnya keluarga mempunyai pengaruh yang cukup besar di awal panggilannya. Jawaban yang sederhana itu ternyata mempunyai konsekuensi yang besar bagi dirinya pribadi dan bagi keluarganya. Banyak hal yang berubah ketika ia mulai masuk ke seminari dan ketika ia perlahan-lahan mulai menapaki ziarah sebagai orang yang terpanggil hingga menjadi seorang gembala yang telah berziarah selama 25 tahun dalam tapak Imamat.

Panggilan Imamat sebagai Rahmat dan Tanda Keselamatan

Imamat bagi Romo Idrus pertama-tama adalah rahmat Allah yang menyelamatkan bahwasannya, cara keselamatan Allah telah lama dimulai dalam dirinya dengan segala keberadaannya sebagai seorang manusia. Merefkleksikan keselamatan Allah yang telah lama dimulai ini, Romo Idrus mengambil inspirasi dari sosok Nabi Yeremia. Seperti Allah mengenal Yeremia dengan segala keberadaan dirinya bahkan sejak Yeremia berada dalam kandungan ibunya dan dalamnya karya keselamatan Allah terlaksana, demikianpun cara keselamatan Allah telah lama dimulai dalam diri Romo Idrus. Keselamatan Allah nyata dalam diri pribadi yang terpanggil.

“Bagi seorang imam, imamat sebagai rahmat yang menyelamatkan bukan hanya tejadi dalam diri orang yang dilayani melainkan pertama-tama terjadi dalam dirinya sebagai orang yang terpanggil. Sebab bagaimana mungkin ia dapat menghayati tritugas panggilan Kristus sebagai imam, nabi dan raja kalau ia tidak merasa ada rahmat keselamatan dalam panggilan hidupnya. Kesadaran akan rahmat Allah yang menyelamatkan terasa nyata dalam panggilan saya sebagai imam dan bahkan rahmat itu menjadi nyata dalam pengalaman dilematis.”

Imam kelahiran 24 Maret 1965 ini menambahkan bahwa rahmat Allah bekerja di saat-saat yang tepat dan rahmat itulah yang membawa keselamatan bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang dilayaninya. Karena itu, dalam tugas pengabdiannya sebagai seorang gembala, ia mempunyai prinsip yakni menempatkan karya pelayanan imamat di atas kepentingan keluarga. Menjadi imam berarti menjadi pribadi yang lepas bebas dari berbagai ikatan. Prinsip inilah yang selalu dipegang teguh ketika ia berhadapan dengan pengalaman dilematis yang memaksanya untuk mengambil keputusan dengan cepat.

Romo Idrus percaya bahwa ketika menjadi pribadi yang lepas bebas, maka ia akan mendapatkan banyak saudara seperti sabda Tuhan dalam Injil. Pengalamanan pengembaraan 25 tahun imamat sudah menunjukkan bahwa Sabda Tuhan dalam Kitab Suci itu hidup, nyata dan berdaya guna “Tuhan selalu punya cara dan bahkan di saat-saat yang sulit dan tak ada harapan sekalipun, sabda Tuhan menjadi nyata,” demikian imam yang mengambil moto imamat dari Sir. 42:15 ini melanjutkan refleksi imamatnya.

Bertahan dalam Pelayanan Kasih

Imamat menurut RD. Idrus adalah jabatan dan profesi yang mengedepankan pelayanan kasih. Dengan ini hendak ditunjukkan wajah personal dan sosial dari sebuah karya pelayanan. Ketika merayakan Kurban Ekaristi dan sakramen serta hadir dalam karya pelayanan kasih, imam hadir dalam dua wajah yaitu personal dan sosial. Karya pelayanan inilah yang dihidupinya dalam hidup imamatnya.

Lebih lanjut, Romo Idrus membagikan tiga hal pokok yang membuatnya setia dan bertahan selama 25 tahun dalam hidup imamatnya. “Seandainya ditanya, apa yang membuat saya setia dan bertahan hingga usia perak ini, maka saya akan menjawab, pertama-tama adalah selalu berusaha membangun hidup rohani yang baik melalui doa, ibadat dan Ekaristi. Lalai dalam melaksanakan hal ini akan menimbulkan rasa cemas dari dalam diri dan saya bersyukur atas rasa cemas yang kudus ini. Kedua, kesadaran akan keseimbangan antara ora et labora. Doa dan bekerja bagi saya adalah mata rantai yang mengikat imamat. Kata Aristoteles, musuh kehidupan rohani yang baik adalah terlalu banyak melakukan sesuatu. Jika saya hanya bekerja dan lupa berdoa, atau menggantikan doa dengan kerja, apa bedanya saya yang imam dengan para pekerja sosial. Ketiga, selain karena kekuatan Allah, saya juga percaya pada kekuatan manusia yang adalah sahabat dan rekan kerja saya. Saya percaya bahwa masing-masing orang adalah pribadi yang unik dan karena itu, saya selalu berusaha sedapat mungkin menghindari kerja sendiri dan lebih mementingkan kerja tim.”

Sebagai seorang imam, Romo Idrus berusaha untuk menghidupi spritualitas hidup Yesus sendiri yang selalu menyeimbangkan antara doa dan bekerja. Bekerja keras tidak boleh sampai melupakan doa demikianpun sebaliknya, doa yang tekun jangan sampai mengabaikan waktu kerja. Doa dan bekerja harus berjalan seimbang. Itulah perisai yang menjaga tubuh imamat tetap bertahan hingga seperempat abad ini.

Menabur Kasih, Menuai Panggilan

Di akhir rekoleksinya, Romo Gabriel Idrus mencoba merefleksikan tema Pesfam 2018, Menabur kasih Menuai Panggilan. “Jika yang menabur kasih di tempat ini adalah para pembina, guru dan pegawai maka yang menuai panggilan pada akhirnya adalah orang tua, masyarakat dan Gereja. Bagi saya, yang menabur kasih dan yang menuai panggilan adalah kita semua yang dengan caranya masing-masing turut memberi warna pada setiap proses formasi yang ada di Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko ini,” demikian katanya.

Ada beberapa refleksi sederhana yang kiranya diberikan seandainya yang dimaksudkan dengan penabur dan penuai adalah semua anggota komunitas Seminari Mataloko. Pertama, Semua anggota komunitas harus aktif dan bukan menjadi pribadi yang pasif. Itu berarti adalah tidak ada komponen yang lebih tinggi dari yang lain. masing-masing orang menabur dengan penuh tanggung jawab sehingga produk yang dihasilkan betul-betul bermutu dan pada akhirnya, banyak orang yang mencarinya.

Jika Proses formasi di seminari Mataloko adalah proses menabur maka produk yang bermutu harus dapat dihasilkan pada tahun-tahun mendatang sebab wajah Gereja 30/40 tahun mendatang berada di pundak-pundak semua komponen baik sebagai  formator maupun formandi. Untuk itu perlu ada rasa optimisme yang tinggi bahwasannya, masing-masing pihak adalah pribadi yang besar untuk sebuah karya besar bukan sebaliknya merasa diri kecil dan tidak layak untuk sebuah karya besar. Karena itu, menabur kasih, menuai panggilan tidak akan berarti jika tidak ada kesungguhan dan tanggung jawab serta rasa sakit dan bahkan korban nyawa seperti Yesus yang telah mengorbankan nyawanya.

Kasih Yesus dalam karya pelayanan mestinya menjadi contoh kasih yang kita tabur, sebab, kataNya, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.” Setiap anggota komunitas diajak untuk mencari kasih yang sempurna dalam pengalaman hidupnya masing-masing.

Hening dalam Doa dan Refleksi

Rekoleksi yang berlangsung sepanjang hari ini diwarnai dengan suasana hening. Seminaris diundang untuk berdiam dalam doa dan refleksi di hadapan Sakramen Maha Kudus. Doa menyadarkan seminaris untuk menyadari hakikat panggilannya sebagai pribadi pendoa sementara refleksi menjadikan mereka pribadi yang bijak dengan melihat diri dan pengalaman hidupnya. Staf Liturgi OSIS membagi kelompok kecil untuk kemudian beradorasi secara bergilir hingga pukul 18.00. Seluruh rangkaian rekoleksi pada hari ini ditutup dengan adorasi bersama di Kapela SMA Seminari. Adorasi penutupan dipimpin oleh RD Bene Baghi.

Akhirnya, suasana khusuk dalam doa memampukan seminaris dan para formator guna menelusuri pengalaman hidup masing-masing dalam melaksanakan tema menabur kasih, menuai panggilan. Pasca adorasi penutupan, rutinitas harian seminaris kembali berlangsung seperti biasa.

Fr. Deni Galus, SVD