Memperkenalkan ‘Gerakan Siswa Menulis’ di Seminari Mataloko

MEMPERKENALKAN ‘GERAKAN SISWA MENULIS’ DI  SEMINARI MATALOKO

Sebagai pribadi yang sering mendapat tugas berkunjung ke beberapa keuskupan di Indonesia, saya terbiasa mendokumentasikan peristiwa dalam sebuah coretan kisah harian. Dokumentasi tertulis itu menjadi alat bukti  bahwa saya sudah berkunjung ke tempat itu sekaligus menjadi lampiran dari sebuah laporan kegiatan yang saya lakukan. Begitu pun ketika saya berkunjung ke Seminari Mataloko tanggal 4 Februari 2019 yang lalu, saya melakukan hal yang sama. Tulisan ini menjadi alat bukti bahwa saya pernah berkunjung ke Seminari Mataloko. Agar tulisan ini, tidak hanya menjadi milik saya, saya ingin mempublikasikan tulisan ini di Flores Pos agar para siswa seminari yang saya kunjungi saat itu dan pembaca Flores Pos, meraih makna di balik kebiasaan menulis.

Keinginan saya untuk memublikasikan peristiwa ini, berawal dari pertemuan spontan dan sederhana. Saya ingin bertemu teman kelas, Romo Nani Songkares. Pada saat yang sama, Romo Nani sedang mendampingi beberapa siswa untuk menulis. Saya diminta secara spontan menularkan semangat kepada para siswa yang sedang menulis. Para siswa diberi ruangan khusus untuk membaca dan menulis. Ruangannya persis di samping ruangan Romo Nani Songkares sehingga aktivitasnya bisa langsung terpantau. Siapapun yang masuk ke ruangan ini, aktivitas hanya satu : menulis. Ada laptop, ada meja, ada buku-buku. Ruangan yang dipenuhi beberapa siswa terasa hening karena hanya jari-jarinya yang bergerak mengikuti perpaduan antara kegiatan otak dan kegiatan hati. Hati yang menggerakkan mereka untuk menulis sesuai apa yang sedang dipikirkan.

Aktivitas mereka menggoda saya untuk menulis tentang mereka. Bahwa ada praktik baik yang sedang terjadi di sana. Para siswa harus dibiasakan untuk menulis dan menulis, itu penegasan dari Romo Nani Songkares. Ketika menyaksikan aksi mereka, pikiran saya tertuju kepada sebuah buku yang berjudul The Power of Habits. Kebiasaan baik yang diperkenalkan sejak dini, akan menjadi kekuatan maha dahsyat di kemudian hari.

Hal ini dipertegas oleh pernyataan Romo Sunu, Provinsial Serikat Jesus, dalam acara retret beberapa tahun yang lalu di Cepu Jawa Tengah. Beliau memperkenalkan peserta retret untuk ‘merasionalisasi rasa’ setiap hari. Apa yang kita rasakan setiap hari, harus ditulis dalam buku atau didokumentasikan secara tertulis agar rasa itu diketahui penyebabnya. Kalau  kita sering menulis rasa pribadi, kebiasaan itu  akan menjadi kekuatan personal yang senantiasa mengontrol seluruh aktivitas harian kita. Kita bisa hidup lebih teratur, terkontrol dan tertata. Pernyataan yang kita ungkapkan lewat kata-kata, akan tertata dengan sendirinya ketika kita terbiasa menuliskan apa yang kita rasakan. Lagi-lagi, aktivitas menulis menjadi sangat penting untuk membentuk diri.

Wajar bila ada yang mengatakan bahwa menulis ada jalan sunyi menuju pengenalan diri. Mengapa? Ketika menulis, kita memadukan beberapa kekuatan  dalam satu gerakan. Ada kekuatan yang mendorong kita untuk duduk, diam dan hening. Ketika duduk, dan mulai menulis, ada keinginan-keinginan lain yang menggoda kita untuk mengabaikan kegiatan itu.

Selain itu, ada juga kegiatan mengelola informasi, pengetahuan yang terbersit di otak kita. Bagaimana kita meramu ilmu yang berseliweran dalam pikiran kita untuk dibentuk dalam  dalam sebuah pernyataan tertulis yang teratur dan tersusun agar siapapun yang membacanya, dapat mengerti.

Perpaduan antara kekuatan rasa, kekuatan otak dan kehendak yang kuat menjadi ‘lahan subur’ terciptanya sebuah tulisan yang berkualitas. Bila para siswa terbiasa menulis, berarti dia sedang dilatih oleh diri sendiri untuk tertib dalam berpikir, tertib dalam merasa dan tertib dalam mengungkapkan pemikiran dan perasaannya.

Wajar bila Romo Nani Songkares dan Romo Beny Lalo ingin memperkenalkan gerakan ini. Betapa pentingnya, menularkan kebiasaan untuk menulis kepada para siswa.  Bagi para calon imam atau imam yang terbiasa membuat tulisan, akan mempermudah tugas dan karya mereka di kemudian hari. Apa yang diproduksi lewat mulut atau aktivitas verbal di berbagai mimbar, harus terlebih diolah secara matang, lewat proses yang diperkenalkan dalam aktivitas menulis. Wajar saat ini, sudah banyak himbauan agar para pastor yang membawakan kotbah harus disiapkan secara tertulis. Dengan demikian, apa yang dipublikasikan kepada umat secara verbal harus melalui proses pengolahan yang matang. Dengan demikian mimbar yang secara ensensial merupakan tempat mewartakan kabar gembira, benar-benar dimanfaatkan sesuai  dengan intensinya.

Keterampilan dan kemampuan menulis bukan hanya bermanfaat bagi  calon imam tetapi juga untuk para calon pemimpin bangsa atau pemimpin daerah. Kebiasaan untuk merumuskan secara tertulis apa yang dirasakan, dipikirkan menjadi ‘kekuatan’ maha dahsyat untuk memproduksi kebijakan publik bagi masyarakat di kemudian hari . Apa yang diketahui, dirasakan, harus dirumuskan secara jelas dalam sebuah pernyataan dokumentatif agar semua pihak bisa mempelajarinya secara baik untuk membentuk kekuatan komprehensif dalam memproduksi kebijakan publik.

Banyak pemimpin kita lebih giat memproduksi ujaran-ujaran tanpa olahan yang matang, tanpa dibekali kemampuan menulis. Ketika disandingkan dengan input-input kritis dan bermakna, mereka sering menghadapinya dengan sikap defensif yang sulit dipahami secara nalar. Terjadilah proses irasionalitas publik yang mengganggu proses berpikir masyarakat.

Pengalaman ini, nampak sederhana. Hanya soal melatih siswa untuk menulis. Namun praktik sederhana ini sebenarnya memberikan dampak visioner bagi lahirnya seorang pemimpin bangsa, pemimpin umat yang berkualitas. Mereka dididik untuk sejak awal mampu memproduksi pernyataan tertulis yang berasal dari hasil pemikiran yang matang, hasil pengolahan hati yang baik dan managemen diri yang berkualitas.  Dengan demikian praktik baik ini, hendaknya tidak hanya dilakukan di Seminari Mataloko, namun di semua lembaga pendidikan tanpa terkecuali.  Semoga !

Eddy Loke

Surabaya 12 Februari 2019.

Sang Bijak yang Penuh Pengabdian

Sang Bijak yang Penuh Pengabdian

Manusia selalu berusaha menunjukkan jati diri dalam hidup. Pengungkapan akan jati diri itu dapat diwujudkan dalam banyak bentuk. Ada yang mengungkapkannya melalui aktivitas yang berguna bagi banyak orang. Kegiatan yang dilakukan, apa pun bentuknya, mungkin memberikan inspirasi baru bagi orang yang menyaksikannya. Selain melalui karya nyata, ungkapan jati diri dapat dilakukan melalui konsep dan pemikiran yang otentik dan brilian dalam hidup bersama. Mungkin melalui konsep dan pemikiran itu, lahirlah konsep dan pemikiran baru yang lebih inspiratif? Adakah melalui karya dan pemikiranya yang brilian, orang menjadi pribadi yang terkenal?

Romo Dominikus Balo adalah seorang imam Keuskupan Agung Ende. Ada dan hidupnya di  tengah komunitas calon imam, seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu merupakan kehadiran  yang inspiratif dan meneguhkan. Dia yang turut serta melahirkan ide dan karya-karya besar di keuskupan Agung Ende dengan gagasan tentang Pusat Pastoral; dia yang ditetapkan sebagai pimpinan tertinggi di Seminari Tinggi; dia yang biasa mengurus sekolah-sekolah Katolik di wilayah Kevikepan Ende-Lio; di masa tuanya masih tetap menjalankan tugas sebagai pendamping rohani dan pengajar di Seminari tercinta ini.

Imam yang biasa disapa dengan sebutan Romo Domi ini melaksanakan tugas dengan setia sebagai pendamping rohani dan pengajar bahasa Latin. Betapa tidak. Sebagai pendamping rohani, ia menghasilkan buku-buku doa yang digunakan secara tetap di lembaga ini. Romo Domi memberikan masukkan yang berguna bagi pembinaan dan pengembangan kerohanian seminaris. Selain itu, kehidupan rohaninya adalah kekuatan itu sendiri bagi para imam dan calon imam di lembaga pendidikan ini. Romo Domi telah memberikan isi pada lembaga ini dengan karya yang inspiratif, meskipun tidak harus monumental dan spektakuler.

Selain menjalankan tugas pendampingan rohani, hal besar yang dilakukannya adalah mengajar mata pelajaran bahasa Latin. Otorisasi dan ‘kepakarannya’ sangat kuat dalam mata pelajaran ini. Hal pelik apa pun berkaitan dengan bahasa Latin, akan diselesaikan dengan mudah. Dia adalah seorang guru bagi guru yang lain. Bahasa Latin yang selalu ditegaskan sebagai bahasa resmi Gereja, mungkin bagi banyak orang merupakan bahasa yang tua dan kaku, tetapi olehnya menjadi sesuatu yang segar dan menggembirakan. Seminaris diajak untuk menekuni bahasa Latin dengan baik, karena baginya, orang yang belajar bahasa Latin dengan baik, akan membantunya untuk belajar mata pelajaran lain dengan mudah. Bahasa Latin menjadi jalan bagi seminaris untuk mempelajari yang lain.

Sebegitu cintanya akan bahasa Latin dan seminaris, sehingga di kala sakit pun ia terus memikirkannya, tanpa memedulikan kesehatannya sendiri. Sekembalinya dari kontrol kesehatan di Surabaya misalnya, pada kesempatan pertama beliau kembali ke kelas, menyapa seminaris dengan bahasa Latinnya. Hal itu biasa dilakukannya karena cintanya, hatinya, rasa, dan pikirannya demi kemajuan lembaga pendidikan dan seminaris di dalamnya. Romo Domi melakukan tugas itu hingga tungkainya tidak mampu menyangga tubuhnya yang semakin renta. Karena itu dalam guyonan di kalangan para pembina sering dikatakan, bahwa kita sebenarnya berdosa terhadap beliau karena di usianya yang sudah 76 tahun, ia seharusnya menikmati hidup dengan membaca koran, dan sebagainya. Namun hal yang terjadi adalah ia masih ‘dipaksa’ untuk berdiri dan mengajar di depan kelas. Memang faktor usia dan kondisi tubuh yang semakin lemah, tidak bisa menjadi penghalang bagi orang yang mau terus belajar dan mengabdi dengan ikhlas. Romo Domi telah membuktikannya bagi kita.

Romo Domi yang nada bicaranya selalu lembut itu sebenarnya seorang imam dengan latar belakang pengetahuan pastoral yang kuat. Hal ini terjadi karena beliau menekuni bidang ini secara khusus. Selain itu berbagai hal yang berkaitan dengan bidang teologi, liturgi dan hukum gereja, banyak dipahami dan dimengertinya secara luas. Kondisi ini memungkinkannya menjadi sumber belajar yang baik, bagi siapa pun yang ingin terus menambah wawasan pengetahuan. Semua kapasitas yang dimiliki ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar, menggali dan menemukan yang baru. Bahkan beliau adalah salah satu sosok yang sangat ‘up to date’, orangtua yang tidak gagap teknologi. Apakah seluruh yang dimiliki ini, baginya menjadi sesuatu yang abadi?

Seluruh kapasitas yang dimiliki ini seakan hilang beberapa bulan terakhir. Dia yang memiliki pikiran yang bernas dan jernih; sosok yang saleh dan pendiam; pribadi yang mendatangkan keteduhan, semuanya seolah menjadi runtuh oleh penyakit yang menggorogoti tubuh dan usianya yang semakin lanjut. Seluruh kebijaksanaan yang dimilikinya rasa-rasanya lenyap bersama kemampuan bicaranya yang hilang sama sekali. Tidak ada lagi kata-kata bijak yang bisa diucapkan. Tatapan matanya nanar, kosong, hampa. Ungkapan seperti ‘pada permulaan’ bila mengawali suatu pembicaraan, ‘boleh’ bila menerima suatu tawaran, atau ‘tentu’ bila membenarkan sesuatu hal, menjadi sesuatu yang langka. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuat celotehan yang khas hilang bersama berlalunya waktu. Sang manusia bijaksana itu akhirnya menjadi sosok yang tidak berdaya. Jati diri yang sangat kuat diungkapkan melalui pikiran, karya, dan kata-kata bijak seakan hilang bersama kebisuannya. Apakah itu adalah akhir dari sebuah perjuangan?

Perjuangan dan hidup Romo Domi di dunia boleh berakhir. Namun pikiran dan  kata-kata bijak yang dimiliki tidak boleh hilang dari hidup bersama di lembaga pendidikan ini. Bahasa Latin haruslah tetap menjadi bahasa Gereja yang diajarkan dan akan mengasah kemampuan berpikir kritis seminaris. Semangat untuk terus belajar harus selalu menjadi daya dorong bagi seminaris  sebagai makluk belajar. Pengabdian yang ikhlas kiranya menjadi hal yang biasa dalam diri kaum pelayan. Cinta yang tulus dan sejati tentunya menjadi sesuatu yang habitual dalam diri orang yang mencintai kebenaran. Semangat dan daya seperti ini tidak boleh menjadi bisu meski digerogoti oleh penyakit apa pun.

Romo Domi, selamat jalan. Kami akan belajar terus menerus dari semangat pengabdianmu. Kebijaksanaan hidupmu akan kami kenang selalu. Doakanlah kami selalu agar menjadi orang-orang yang bijaksana dan setia mengabdi dalam hidup.

Romo Sil Edo, Pr

Romo Domi dan Kesunyian

Romo Domi dan Kesunyian

 Pada 23 Januari lalu, dua ibu dari Jakarta mengunjungi seminari. Begitu dijumpai di halaman depan Kapela SMP seminari, salah seorang ibu, yang beberapa waktu sebelumnya pernah mampir ke seminari dan bercanda dengan Romo Domi Balo, berkata kepada saya, “Romo, tolong antarkan kami ke Romo sepuh itu, kami mau beri sesuatu.” Mereka membawa tongkat untuk membantu Romo Domi berjalan.

 Saya mengantar kedua ibu itu ke kamar Romo Domi, di bagian dalam, di tempat tidurnya. Romo Domi sedang terbaring. Begitu melihat kedua ibu yang menyapanya, dia terkejut. Matanya sedikit membelalak. Dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tak ada satu katapun keluar dari bibirnya. Dia mencoba menggerakkan tangan, berusaha mengekspresikan sesuatu. Tapi tidak bisa. Kedua ibu itu pamit. Romo Domi hanya menganggukkan kepala.

 Itulah kondisi yang dialami Romo Domi sejak dia kedapatan terjatuh di kamarnya, di depan TV, 17 Januari malam. Malam itu Romo Sarce, tetangga di kamar sebelah, pulang dari misa arwah, kira-kira jam 22.30 WITA. Dia mendengar bunyi TV di kamar Romo Domi. Saat itu Romo Sarce berpikir, Romo Domi pasti sedang asyik menonton debat calon Presiden putaran pertama. Romo Domi memang sangat berminat mengikuti perkembangan politik tanah air. Tapi ketika TV tetap berbunyi sampai kira-kira pukul 24.00 malam, Romo Sarce mulai curiga. Pelan-pelan dia membuka kamar Romo Domi. Dia terkejut, Romo Domi jatuh berselonjor di depan TV, dengan kepala bersandar di dinding tripleks yang membatasi ruang tidur bagian dalam.

 Sejak saat itu, Romo Domi praktis tidak bisa berkomunikasi lagi. Paling-paling satu dua kali berkata “Ya”, atau “Belum”, atau “Praeses”.  Itu pun susah sekali. Bahkan, makin lama kata-kata seperti itu pun tidak bisa diucapkan lagi. Terasa sekali keinginan Romo Domi untuk berbicara sesuatu, tapi yang keluar hanya sebentuk gumaman yang sulit dimengerti. Romo Domi ditelan kesunyian, sunyi sekali.

 Untuk seseorang yang dengan segenap hati, dengan seluruh passion, dengan seluruh kekuatan mencintai pekerjaan berupa produksi kata-kata melalui komunikasi, pengajaran, buku-buku, refleksi, renungan, nasihat dan ungkapan-ungkapan bijak, kejenakaan, kemudian tiba-tiba tidak mampu menemukan kata-kata untuk mengungkapkan dirinya, entah karena merasa tidak bertenaga lagi, atau karena daya ingat yang sudah begitu terkuras, ini rasanya sebuah salib yang besar sekali. Sekurang-kurangnya itu yang kami tangkap dan rasakan.

 Sekali waktu, di sore hari, saya masuk ke kamar Romo Domi. Frater Denny Galus, SVD, yang setia menemani Romo Domi keluar, membiarkan kami berdua di kamar. Saya berusaha mencari segala daya untuk berkomunikasi dengan Romo Domi. Dengan terbata-bata, dia hanya sekali mengucapkan nama saya, lalu komunikasi kami praktis menjadi seperti monolog. Saya bercerita tentang kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan dengan anak-anak, bertanya sembarangan tentang apa yang dia rasakan, tentang keadaannya, sakitnya, tentang tangan dan kakinya. Dia hanya menatap, atau meremas tangan saya.

Frater Louis Watungadha datang sambil membawa buku kenangan 60 tahun imamat Pater Aleks Beding SVD, yang ditulis beberapa imam SVD berjudul, “Bersyukur dan Berharap.” Editor buku tersebut adalah Pater Steph Tupeng Witin SVD yang diterbitkan Penerbit Ledalero (2011). Saya menunjukkan buku itu kepadanya. Semangatnya tiba-tiba menyala. Dia mengambil buku itu, berusaha miring ke kiri atau ke kanan untuk membaca judulnya, dengan susah payah membuka satu dua halaman, bibirnya bergerak seperti hendak membaca sesuatu, akhirnya berhenti. Aduh! Buku yang jadi kegemaran dan sahabat setianya tak bisa dinikmati lagi. Kata-kata berhenti sama sekali!

***

Romo Domi memperkuat barisan formator seminari sejak tahun 2001. Umurnya 60-an tahun saat itu, sudah usia pensiun. Namun segera kami merasakan, betapa Romo Domi menjadi pilar seminari yang luar biasa, sebuah kekuatan yang hanya bisa dan selalu akan kami kenang dan syukuri.

Saat itu kami mulai mempersiapkan diri menyongsong 75 tahun seminari. Salah satu kebutuhan yang dirasakan adalah adanya buku Pedoman Pendidikan Calon Imam, khas seminari Mataloko. Pedoman itu sama sekali belum ada. Dibentuklah Panitia Kerja, antara lain, untuk menghasilkan buku Pedoman itu. Romo Domi adalah ketuanya. Praktis Romo Domi mengerjakannya sendiri. Dia mempelajari berbagai dokumen, baik dari Vatikan maupun KWI. Dia menyusun draftnya. Saat seminari merayakan 75 tahun berdirinya pada tanggal 15 September 2004, Pedoman itu terbit sebagai buku ad experimentum. Lengkap sekali dan mendetail. Sampai sekarang, buku tersebut tetap dipakai sebagai rujukan.

Kebutuhan lain yang tidak kalah penting adalah mengajar bahasa Latin. Karena keterbatasan tenaga, tugas ini minus malum biasanya diberikan kepada para frater TOP. Frater TOP setiap tahun berganti, jadi praktis setiap tahun pengajar bahasa Latin berganti, dan kita tidak pernah mempunyai kepastian, apakah frater yang mengajar itu, bahasa Latinnya baik.

Kehadiran Romo Domi memberi kepastian. Dia sendiri ternyata berminat sekali dalam bahasa Latin. Maka, dia mengajar dari SMP sampai SMA, dengan ketekunan yang luar biasa, spartan. Tidak lama berselang, beberapa buku pegangan pelajaran bahasa Latin dihasilkan: doa-doa dan lagu-lagu liturgis dalam bahasa Latin, Kamus bahasa Latin, dan akhirnya 4 jilid buku teks Elementa Linguae Latinae, Liber Primus, Liber Secundus, Liber Tertius dan Liber Quartus, baik Buku Guru maupun Buku Siswa.

Hanya sedikit sekali pengajar bahasa Latin di seminari-seminari se-Indonesia yang sangat menguasai bahasa Latin. Seminari Mataloko berbangga karena pengajar bahasa Latin yang dimilikinya adalah seorang ahli.  Mario Lawi, seorang penyair muda NTT menulis sebuah buku puisi dalam bahasa Latin, dan dia minta Romo Domi memberikan koreksi dan catatan. Dia tahu kepada siapa dia harus bersandar.

Kreativitas dan produktivitas intelektual seorang Romo Domi Balo seperti tidak pernah berhenti. Terus mengalir. Kalau sedang tidak mengajar, Romo Domi pasti berada di kamarnya, di depan laptop untuk bekerja. Dia mengumpulkan dan menulis banyak hal. Mulai dari ramuan-ramuan tradisional untuk obat-obatan sampai refleksi dan pemikiran-pemikiran teologis. Dua buku terakhir yang diterbitkan adalah tentang Sakramen dan Selibat. Beberapa naskah buku yang siap untuk diterbitkan sudah di-print dan dijilid teratur.

Tidak heran Romo Domi selalu suka membaca. Dia membaca buku, membaca majalah dan koran, dan selalu mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru melalui internet. Tentang yang terakhir ini, internet, dia tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk pulsa. Jangan pancing diskusi mengenai perkembangan-perkembangan terbaru politik tanah air, misalnya, kegunaan ramuan ini, atau itu. Romo Domi langsung ‘sambar’. Di depan para calon imam, saya suka berkata, Romo Domi itu seorang tua yang selalu muda, karena selalu belajar.

Karena kebijaksanaan dan kekokohan intelektualnya, ditambah kedalaman kerohaniannya sebagai seorang imam pendoa itulah, Romo Domi selalu dinantikan kehadiran dan kata-katanya dalam sidang-sidang staf seminari, atau sidang guru, terutama ketika harus berbicara mengenai hal-hal krusial pendidikan seminari.

Suatu waktu dalam salah satu sidang staf, diputuskan bahwa harus ada Hari Orangtua Seminaris (HOS). Romo Praeses, Romo Gabriel Idrus, Pr, meminta bantuan para staf memberikan masukan mengenai pendidikan seminari, dan situasi terkini yang sedang dialami. Romo Domi ditunjuk untuk membuatkan draftnya, dan seperti biasa, orang tua ini langsung ‘tancap gas’. Dan hasilnya luar biasa sekali. Dia menulis tentang betapa relevannya pendidikan seminari sampai saat ini. Dia menguraikan dengan begitu gamblang tantangan internal dan eksternal yang menyebabkan kemandirian seminari mengalami goncangan.

Saat ini, ketika seminari sedang berbicara tentang grand design pendidikan seminari menuju 100 tahun berdirinya dalam kerja sama yang begitu kental dengan Pemerintah Kabupaten Ngada, seminari harus merumuskan problem statement-nya. Salah satu kata kuncinya adalah kemandirian, sesuatu yang bertahun-tahun sebelumnya sudah digaungkan oleh orang tua yang istimewa ini.

Entah pesan apa yang mau disampaikan Romo Domi Balo dengan kesunyian luar biasa di hari-hari terakhirnya ini. Begitu menyesakkan, begitu menghempas! Kata-kata yang bernas itu lenyap, yang tinggal adalah kesunyian.

Moto tahbisan Romo Domi adalah, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, tetapi sahabat” (Yoh.15:15). Bapak Uskup Agung Ende dalam kotbahnya saat Misa Requiem untuk mengantar pergi Romo Domi ke pembaringan terakhir mengatakan, Romo Domi adalah sungguh sahabat Yesus. Persahabatannya dengan Yesus dia ungkapkan tidak hanya dengan kata-kata, tapi seluruh dirinya, hidupnya. Hidupnya sendiri adalah sebuah kata besar yang terus berbicara, lebih dalam, lebih agung dari ungkapan verbal.

Saya teringat Santo Thomas Aquinas, seorang teolog agung, yang karya-karya intelektualnya sangat berpengaruh bagi perkembangan Gereja. Dia menulis seri Summa Theologiae yang terkenal itu, tapi tidak selesai.

Konon, ketika merayakan Ekaristi Santo Thomas mendapatkan pengalaman mistik yang luar biasa, yang begitu memengaruhinya, sehingga dia berhenti menulis. Ketika Bruder Reginald, sekretaris dan sahabatnya, memintanya untuk menyelesaikan Summa Theologiae itu, dia berkata, “Akhir kerjaku telah tiba. Semua yang saya hasilkan rasanya hanyalah setumpuk jerami, dibandingkan dengan apa yang telah dinyatakan kepadaku.”

Kae Domi, mudah-mudahan kepadamu telah dinyatakan, dan akan dinyatakan keagungan, kemuliaan yang tidak mampu diungkapkan dengan karya dan kata-kata manusia, kemuliaan Sahabatmu, Yesus. Rasanya, kata-kata Tuhan, yang kae jadikan moto imamat, adalah jaminannya, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, tetapi sahabat” (Yoh.15:15).

Romo Nani Songkares, Pr

Homo Proponit, Deus Disponit

HOMO PROPONIT, DEUS DISPONIT

Kenangan bersama Romo Domi Balo, Pr

 

Judul di atas diambil dari kalimat yang terpajang di depan kamar Romo Domi Balo. Kalimat itu sudah tergantung sekian lama hingga sekarang. Bagi orang yang memahaminya, kalimat ini menohok ke dalam relung hatinya, dan ia bermenung, “Manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan”.

 Kalimat di atas harus dibaca secara utuh. Jika tidak, maka akan terjadi bencana kemanusiaan, saat manusia terjebak hanya pada dimensi horisontal/humanisme (homo proponit). Dimensi horisontal menyangkut kekinian (hic et nunc). Kekinian mengandung unsur manusia dan dunia yang sedang berkembang. Kekinian yang semakin sekular saat ini, saat manusia semakin percaya diri. Saat manusia berpisah dari Tuhan (Deus). Sejarah evolusi tahap pertama yang ditandai oleh Homo Sapiens (70.000 tahun), yang akan segera diganti dengan tahap kedua yang ditandai dengan  Homo Deus. Manusia bisa menjadi Tuhan atas dirinya dan bisa mengubah lintasan evolusi sejarah masa depan, yang hanya ada di tangannya. Inilah bencana yang paling dasyat, Homo Deus, mau menghancurkan mortalitas dan dunia tak mengenal lagi kematian (immortalitas). Kematian bukan persoalan Tuhan lagi tapi itu adalah masalah teknis yang belum ditemukan solusi teknisnya (Yuval Noah Harari, Homo Deus-A Brief History of Tomorrow,2017,h.24-25)

Di sisi lain, kalimat kedua (Deus disponit) adalah dimensi vertikal, pikiran orang yang berpihak pada Allah. Ini menyangkut masa kini dan masa depan, dunia seberang, harapan akan keabadian. Dengan demikian disimpulkan kehidupan manusia entah kini entah yang akan datang ada pada tangan Tuhan. Dalam kekinian, manusia berencana, membangun dunia, berkembang dalam keilmuan, mencipta segalanya tapi seluruh kehidupan itu tak mencukupi, karena pada akhirnya, dihadapkan pada restu keputusan Tuhan. Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan yang ditentukan oleh Tuhan.

Kalimat di depan pintu kamar Romo Domi adalah kalimat utuh sebagai kebijaksanaan dan  proklamasi imannya yang tiada tara pada Tuhan. Pernyataan iman yang tak pernah luntur bahkan semakin mengental sampai di penghujung kehidupan fana ini.

Kalimat ini menjadi faktor pengingat pada diri Romo Domi bahwa sebagai manusia lemah, dengan segala dosa-dosanya, dengan segala concupiscentia, setiap hari dari pagi hingga malam, dalam pekerjaan-pekerjaannya, melayani gereja sebagai seorang imam, melayani para seminaris sebagai pembina dan guru, semuanya dalam nama Tuhan.

Pekerjaan dan panggilan hidupnya adalah evolusi spiritualitas yang dihayati sebagai pewartaan tentang Allah yang Mahakasih, yang nampak dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang telah bersatu dalam seluruh sejarah homo sapiens. Sejarah manusia yang tak bisa dipotong dan dipisahkan dari kasih Allah.

Sebagai buah dari kebijaksanaan dan imannya ini, pada masa tuanya, Romo Domi masih berbuat banyak hal, memperkaya gereja, seminari dan para seminaris dengan buah-buah pengetahuan dan buah-buah rohani. Tak tahu berapa buku/brosur rohani yang dihasilkan dan dipakai hingga sekarang oleh komunitas ini. Sampai pada saat-saat tenaganya hampir habis, dengan sisa energi kecerdasan berpikirnya, ia masih mempersembahkan buku pegangan bahasa Latin Elementa Linguae Latinae Primus, Secundus,Tertius dan Quartus.

Pada akhir kehidupan saat dia tak bisa berjalan lagi, dari keheningan kursi roda, ia terus memandang generasi baru yang sedang melanjutkan karyanya di seminari ini dengan pekerjaan-pekerjaan rutin, dengan segala rencana-rencana besar ke depan. Dia berdoa dan berserah pada Tuhan, seperti Musa yang memandang Tanah Terjanji dari Gunung Nebo, dan memandang Harun bersama Israel berlangkah ke depan. Ia berdoa semoga seluruh pekerjaan di kebun anggur Tuhan, seminari ini menghasilkan buah-buah imamat dan kader-kader gereja yang berlimpah.

Kita harus tetap percaya seminari ini adalah kebun anggur Tuhan. Pekerja-pekerja di kebun ini datang dan pergi, berganti dari satu generasi ke generasi berikut,  tapi hanya Tuhan yang sama sebagai penentu evolusi sejarahnya sampai keabadian…

Rm. Benediktus Lalo, Pr

Ikan-Ikan Kerinduan

ikan-ikan kerinduan

ada …
ada yang putih
yang itam … yang abu-abu
yang belang … yang kuning

ikan-ikan kerinduan pukul 13.00
ngap-ngap pada bibir sjuta harap
pada kerinduan yang tak pernah sia-sia
nantikan bulir-bulir cinta
dari tangan terulur
yang slalu rindu berbagi tabur

pukul 13
heiii … ikan-ikan kerinduan
membagi telah selesai,
kembali OPA pada tahta segala
tempat smua bertaut harap
‘tuk slalu merindu
pada maha samudra
yang empunya segala

Tak pernah ada yang tahu, semuanya akan berakhir begini. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Hidup memang merupakan “suatu datang dan pergi yang terus”. Karena itulah, ia selalu menyambung generasi dan membawa angkatan. Mengalami yang ada, meninggalkannya, lalu merindukan yang akan datang. Bermula dari yang sementara, lalu menuju dan menetap pada yang paripurna dan kekal, Sementara itu fana, sedangkan yang paripurna dan kekal adalah tujuan. Ketika itu menjadi sebuah keyakinan, kekekalan lalu menjadi pilihan untuk senantiasa diper¬juang¬kan dalam menata hidup.

Tidak pernah juga ada yang tahu, pikiran ini singgah di benak dan nurani Opa. Begitulah sapaan akrab setiap anggota komunitas Berkhmawan saat berjumpa Romo Domi Balo. Namun, saya yakin sekali, Opa pasti mengangkat sedikit kacamatanya, mengusap-usap kening, mengelus-elus rambutnya yang memutih, lalu tersenyum tanda setuju. Namun saya tahu, matanya pasti lebih terpaut pada kolam Yobermans di hadapan kami. Pada ikan-ikan kerinduan yang menanti taburan bulir-bulir santap siang dari tangan sang Opa.

Tidak pernah saya duga bahwa kolam Yobermans itu telah menjadi saksi berlangsungnya sebuah keyakinan bahwa “hidup adalah suatu datang dan pergi yang terus … tapak-tapak yang menyambung generasi dan membawa angkatan.” Dari Kolam Yobermans, perisai air tempat pijak St. Yohanes Berkhmans, kita bertolak mengikuti jejak-jejak hidup Opa yang masih tersimpan.

 

Pukul 13.00
Setelah Opa pensiun melaksanakan tugas regular sebagai guru di kelas bagi para seminaris, pukul 13.00 jadi saat unik. Awalnya, saya anggap biasa karena Opa “Pensiun” selalu mengunjungi penghuni kolam. Saudara-saudara ikan(bahasa St. Fransiskus Asisi” sudah menjadi teman akrab Opa. Memang tidak setiap hari saya mengikuti aktivitas Opa yang satu ini. Suatu saat, pukul 13.00, sambil “seret-seret langkah” dengan segelas penuh makanan ikan, Opa melangkah menuju kolam Yobermans, lalu berhenti tepat di belakang patung Orang Kudus itu. Saya mengikuti Opa dan berdiri di sampingnya. Opa tidak segera memberi makan ikan-ikan kesayangannya. Hal pertama yang Opa lakukan adalah bersiul-siul mendendangkan not “do re do re do re” dengan halus beberapa saat. Sementara saya memperhatikan kolam yang sejak tadi tenang dengan sedikit riak kecil. Awalnya, saya pikir Opa sekadar bersiul karena baru selesai santap siang. Ternyata “doredore” yang unik itu, cara Opa mengundang sobat-sobat ikannya santap siang. Riak-riak kolam semakin besar karena ikan-ikan Opa meluncur berebutan makan siang. Tak lama berselang gelas makanan ikan pun kosong, laris manis santap siang bawaan Opa buat sobat-sobatnya. Cukup banyak kali, Opa tidak langsung kembali. Saya dan Opa masih melanjutkan bincang-bicang kami tentang banyak hal.

Saat Opa sudah tidak bisa lagi menemui sobat-sobatnya karena tidak sanggup melangkah karena sakitnya, saya merasa perlu memasuki waktu uniknya “pukul 13”. Gelas pakan ikan saya isi penuh, melangkah ke kolam, lalu berdiri di belakang patung Orang Kudus itu. Seperti Opa, saya mendendangkan “doredore-nya”. “Lihat! Ikan-ikan sobat Opa bermunculan berebutan santap siang, yang saya taburkan sambil terus ber-doredore.”

Persahabatan yang istimewa. Ikan-ikan itu telah menyatu dengan siul – senandung Sang Opa. Taburan kasih sayang Opa telah memberi mereka hidup. Kebiasaan Opa yang indah telah membuat ikan-ikan itu mengenal dan berebutan kasih yang ditaburkan melalui tangan hatinya dengan cinta. Sobat-sobat itu tak akan pernah lagi mendengar senandung “doredore”. Namun, habitus cinta dan persahabatan yang abadi telah menyatu dalam komunitas kolam Yobermans. Riak-riak kecil itu meninggalkan kenangan manis. Pernah terjalin kisah persahabatan Sang Opa dengan ikan-ikannya melalui senandung siul “doredore”-mu dengan tangan yang selalu siap menabur. Selamat jalan OPA. Selamat memasuki kolam abadi bersama Ikan-ikan kerinduanmu akan selalu menanti taburan kasih.

Rm. Alex Dae Laba, Pr

Jejakmu Tak Pernah Menyeberang

JEJAKMU TAK PERNAH MENYEBERANG
(Mengenang Figur Romo Dominikus Balo)

Betapa tidak mudahnya ketika saya harus memulai menulis sesuatu tentang Romo Domi Balo, sebagai senior, kakak, dan sahabat dalam imamat. Bukan karena tidak dekat dengannya dalam jarak tempat, jarak rasa, dan kurang mengenalnya. Tetapi terlebih karena alasan ini: saya harus memulainya dari mana dan tentang apa yang harus saya tulis terhadap figur dengan pengalaman karya yang luas, figur dengan latar belakang hidup dan karya hampir sempurna dalam empat generasi peradaban: generasi Orde Lama, generasi Orde Baru, generasi Reformasi, dan generasi Ledakan Teknologi Informasi atau generasi Milenial saat ini dalam setengah perjalanan Romo Domi.

Oleh karena itu, catatan mengenang figur Romo Domi, saya batasi pada lokus kebersamaan di lembaga pendidikan calon imam Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko, di mana Romo Domi berkarya terakhir selama kurang lebih 18 tahun. Dalam konteks karya, peran, dan tanggung jawabnya di lembaga ini, saya melihat Romo Domi, sebagai figur yang sungguh memberi warna bagi pendidikan seminari. Karena itu, ketika saat ini ia harus pergi menghadap Sang Khalik, saya memilih judul di atas: Romo Domi, Jejakmu Tak Pernah Menyeberang, untuk mengenang jejak-jejak kehadiran dan karyanya di lembaga ini.

Ada dua alasan mendasar untuk mengatakannya dengan judul dimaksud. Pertama, Romo Domi dengan karya-karyanya yang spektakuler, yang saat ini menjadi referensi lembaga dan para pengelola dalam membangun pendidikan calon imam. Pada poin ini, terdapat sejumlah hal yang bisa disebutkan.

1. Sesudah perayaan Intan, 75 tahun Seminari pada tahun 2004, Romo Domi menjadi ketua tim penyusun buku Pedoman Pembinaan Calon Imam. Buku pedoman ini, termasuk buku yang sangat lengkap dari segi Isi, Metode, dan Aplikasinya. Karena itu buku ini memuat hal-hal khas Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu – Mataloko seperti : tentang Nama, Pelindung Seminari, arti Logo Seminari, Visi, Misi, Komitmen, Profil para seminaris sebagai calon peserta bina dan profil lulusan, Asas-asas, Prinsip dan Isi Pembinaan, Materi Dasar Pembinaan, Lingkungan Pembinaan, Pelbagai Komponen Pembina, Pelbagai Sarana Penunjang, serta Peraturan dan Tata Tertib Sekolah dan Asrama.

Buku pedoman dengan isi yang sangat lengkap ini, tercatat di lembaga ini sebagai buku pedoman pertama yang disusun dengan mengadopsi dari berbagai sumber semenjak seminari ini didirikan. Karena itu pada awal pengantar buku ini ia menulis, “Baru untuk pertama kali inilah Seminari kita mengeluarkan sebuah Buku Pedoman Pembinaan Para Calon Imam, sebagai perwujudan kenekatan kita bersama dalam rangka merayakan 75 tahun seminari kita, yang berpuncak pada tanggal 15 September 2004 yang lalu.”

2. Sebagai guru dan pendidik para calon imam yang mengasuh mata pelajaran bahasa Latin, Romo Domi, telah menerbitkan beberapa modul pembelajaran Bahasa Latin. Modul-modul ini dihasilkan dari dasar pengalaman mengelola pembelajaran bahasa Latin, di satu pihak; dan pada pihak lain Romo Domi berkeinginan agar bahasa Latin sebagai bahasa liturgi gereja ini, harus mempunyai tempat khusus di dalam sistem kurikulum seminari dan kurikulum nasional. Karena itu, ketika masih aktif mengajar sampai dengan 4 tahun yang lalu, Romo Domi sangat tidak puas dengan alokasi waktu mengajar Bahasa Latin yang sangat terbatas yaitu dua jam seminggu. Padahal, menurutnya, dan hal ini juga diamini oleh banyak orang yang pernah belajar bahasa Latin, bahasa Latin adalah pemicu membentuk nalar untuk berpikir kritis dan teliti, serta sebagai alat pembentuk humaniora dalam konteks ilmu-ilmu bahasa pada umumnya.

3. Pada Januari 2013, kami menggelar satu kegiatan yang kami sebut “Reorientasi Sekolah”. Disebut demikian karena sepuluh tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2003, kami sudah melaksanakan Orientasi Sekolah. Reorientasi sekolah itu pada prinsipnya ingin kembali meninjau sejauh mana kami menghidupi Visi, Misi, dan Komitmen serta bergumul meramu Materi Dasar Pembinaan sesuai dengan dokumen gereja, “Optatam Totius” dan “Presbyterorum Ordinis,” tentang Pembinaan Calon Imam di lembaga pendidikan ini, yang sudah kami bahas dan temukan sepuluh tahun sebelumnya. Kami merasa bahwa setelah sepuluh tahun berada dalam bingkai pendidikan seminari, ada banyak hal yang menguap hilang dalam rutinitas kami mengelola pendidikan. Selain itu, perubahan zaman pada umumnya, dan tuntutan kurikulum nasional pada khususnya, memang menuntut kami untuk menyesuaikan diri demi menjawab kebutuhan subjek bina dan subjek didik.

Berhadapan dengan tuntutan yang demikian, kami mencoba menjawab dalam bentuk dialog tanya jawab di antara kami para formator. Ada yang bertanya tentang tantangan riil yang dialami dan perlu dirumuskan secara konkret sehingga bisa mencari solusi. Ada yang meminta resep manjur apa yang bisa ditawarkan agar pendidikan calon imam tetap aktual, kontekstual, dan selaras zaman. Banyak pendapat yang diajukan saat itu dengan narasi argumentasi yang kuat dan masuk akal. Tetapi ketika tiba saatnya berbicara, Romo Domi merangkum semua pendapat dan berdiri pada jalan tengah untuk menjembatani arus pikiran yang berkembang serta menjaga keseimbangan antara hal-hal baru yang harus diperhatikan dalam pendampingan siswa dengan ketentuan-ketentuan umum pedoman pembinaan calon imam. Untuk tidak mengurangi pendapat asli yang terekam dalam dokumen Reorientasi Sekolah yang dilaksanakan pda tanggal 25-27 Januari 2013, di sini saya mengutipnya apa adanya:

Dua tahun lalu, redaktur majalah Seminari, Florete, datang pada saya dengan sepuluh pertanyaan. Judul umum Florete saat itu adalah “Pendidikan Calon Imam Dalam Arus Globalisasi”. Saya betul heran bahwa anak-anak itu punya pemikiran yang kritis. Mereka kelihatan cemas dengan globalisasi, tetapi di pihak lain mereka ingin agar pendidikan disesuaikan dengan arus globalisasi itu. Saya bergerak dari pemikiran mengenai globalisasi dan menempatkan pendidikan calon imam dalam era globalisasi. Globalisasi adalah arus yang tidak kita ketahui ujung pangkalnya, tetapi menyerbu masuk dan menyerang segala prinsip yang kita pegang. Kelihatan anak-anak itu ingin supaya pendidikan seminari menjawabi arus globalisasi itu. Intinya ialah: kalau kita menginginkan agar pendidikan calon imam itu harus kontekstual, apa konsekwensinya? Apakah kita mengalah dan membiarkan arus globalisasi itu masuk? Saya kira kita harus membedakan yang harus diperhatikan dan dipegang teguh, dan upaya-upaya untuk menjawab globalisasi tanpa mengorbankan prinsip. Untuk pendidikan calon imam, prinsip-prinsip itu adalah berpegang pada Kitab Suci, Pedoman Gereja, dan Ajaran Para Paus. Kalau prinsip-prinsip ini kita lepaskan, kita akan jadi korban dari globalisasi. Apa kontektualisasinya? Pertama, bergegang teguh pada prinsip-prinsip itu. Kedua, kita tidak boleh memenuhi seluruh keinginan anak-anak, misalnya bebas keluar dari seminari, nonton video sebebasnya, bermain play station, dan lain-lain. Ini justru salah. Dikaitlan dengan pertanyaan ROMO Selly mengenai tuntutan dari pemerintah kita: tantangan untuk seminari kita adalah bahwa pendidikan nasional diwarnai gerakan politik pendidikan tertentu, dan banyak kali kita dituntut mengikuti gerakan politik pendidikan itu. Sering peraturan seminari jadi korban karena hal-hal seperti itu. Di banyak seminari lain, anak-anak mengikuti pendidikan umum di sekolah lain, lalu baru ketika pulang ke asrama mereka mengikuti pendidikan seminari. Kita beruntung mempunyai sekolah dan asrama di satu tempat, sehingga pendidikan itu bisa berjalan bersama. Dan karena itu kita masih bisa mendamaikan kedua tuntutan itu, yakni tuntutan pemerintah dan prinsip-prinsip pendidikan di seminari. Semua kita adalah formator. Kita harus betul menjaga agar tidak ada perpecahan antara sekolah dan asrama. Kita harus betul bekerja sama. Di sekolah kita bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Di asrama ada hal-hal praktis yang diperlukan untuk pendidikan para calon imam”.

4. Tidak hanya pada batas memberi pendapat dalam pertemuan yang kami gelar saat itu. Tetapi Romo Domi pun konsekuen, ketika solusi konkret kerja sama, kedisipilinan, tanggung jawab, sebagai nilai yang turut ditemukan untuk membangun kohesi para formator dengan media doa bersama sebelum dan sesudah proses pembelajaran, ia pun siap mengerjakan sebuah Buku Doa dengan tema dan masa liturginya untuk digunakan sehari-hari di lembaga pendidikan ini. Buku doa inipun harus dicatat sebagai yang pertama dihasilkannya selama seminari ini ada dan hidup.

Tentu hal yang harus dimengerti lebih jauh adalah kehendak Romo Domi yang tersembunyi di balik lahirnya buku doa ini, yaitu agar pembiasaan hidup rohani, pembiasaan memberi bobot spiritual dalam setiap kegiatan, harus mendapat tempat pertama dalam setiap aktivitas. Dan persis di situlah suasana ke-seminari-an, tradisi-tradisi lembaga pendidikan calon imam dijaga dan dirawat bersama seluruh komponen.

Pengalaman saat ini, rasanya menarik ketika para guru dan pegawai mengawali dan mengakhiri proses pembelajaran dengan doa di ruang guru, dan para siswa di masing-masing kelas. Terdengar di setiap sudut ruang tempat dan ruang hati bergema lagu pujian dan doa hormat bakti kepada Allah di tempatNya yang tinggi seperti yang dilantunkan dalam Kitab Mazmur ini, “Pujilah Tuhan di surga, pujilah Dia di tempat yang tinggi. Pujilah Dia, hai segala malaekatNya, pujilah Dia hai segala tentaraNya. Pujilah Dia hai matahari dan bulan, pujilah Dia hai segala bintang terang! Pujilah Dia hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit. Baiklah semuanya memuji nama Tuhan, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta”(Mzr 148 : 2- 5).

Kedua, Romo Domi adalah figur teladan pemimpin, tempat saya belajar. Sebagai orang yang saat ini diberi kepercayaan memimpin lembaga ini, terkadang saya mengalami kebuntuan berpikir dan bertindak untuk sesuatu yang butuh kecepatan beraksi. Biasanya saya menggunakan forum pertemuan staf Pembina untuk urung rembuk. Tetapi untuk memastikan cara beraksi yang tidak berdampak negatif, saya berkonsultasi kepada sang sepuh dengan segudang pengalaman dan wawasan yang luas. Dengan itu saya bisa katakan bahwa kehadiran figur sepuh seperti Romo Domi, adalah kehadiran yang meneguhkan dan memberi kepastian untuk mengurai benang kusut permasalahan.
Selain pengalaman dan wawasan yang luas, Romo Domi juga, menjadi tempat saya bercermin tentang ketekunan dan kesetiaan dalam membina imamat. Seandainya Tuhan berkenan memberinya umur yang panjang lebih dari sekarang, di tahun 2020 nanti, bersamanya kita merayakan pesta emas 50 tahun imamatnya. Emas imamat dalam hitungan waktu memang tidak tercapai. Tetapi kebertahanan dalam imamat sampai maut menjemput, itulah nilai emas dalam kesetiaan.

Ketekunan dan kesetiaan yang lain ialah dengan membina disiplin belajar terus menerus, belajar yang tidak pernah berhenti. Ia sangat disiplin mengembangkan diri dengan wawasan yang luas sehingga tidak pernah terasa ia ketinggalan zaman dalam perspektif pastoral sosial politik, ekonomi, dan budaya. Dalam hal ini, Romo Domi, bisa menjadi “narasumber” tersendiri ketika kami berkomunikasi dan berdialog di meja makan. Ia sepertinya sungguh menghayati aksioma Latin yang menjadi bidang kompetensinya, “Ama disciplinam, et disciplina tibi qualitatem praebet” (Cintailah kedisiplinan, maka kedisiplinan akan memberikan anda suatu mutu).

Selamat jalan sang sepuh, guru, dan sahabatku dalam imamat. Kini kau berdiri di tepian waktu untuk menegaskan bahwa kau memang pergi, tapi jejakmu tak pernah menyeberang. Di sini geliat karya dan pelayananmu menyatu dalam harumnya “mawar putih,” lagu kebanggaan laskar Berkhmawan.

Romo Gabriel Idrus

untitled

GRATIA SUPPONIT NATURAM (2)

Cabang Meluas karena Akar Mendalam – Kilas Balik (3)

GRATIA SUPPONIT NATURAM (2)

Catatan Pendidikan ala Gymnasium

Di samping pengajaran, ditekankan sekali pembinaan watak. Oleh karena itu kurikulum tidak hanya mencantumkan mata pelajaran-mata pelajaran intelektual. Disediakan juga waktu dan peluang untuk berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menanamkan dan menumbuhkan paham, nilai dan sikap hidup di dalam diri para siswa. Ada kegiatan untuk mengembangkan perasaan, merangsang imajinasi, memperlancar komunikasi, interaksi dan hubungan yang baik antar sesama.

Latihan-latihan otoekspresi seperti membuat karangan, berdeklamasi, latihan seni teatrikal, latihan seni suara, olah musik instrumental mendapat tempat pula dalam sistem pendidikan ini. Kegiatan seni musik misalnya, mendapat perhatian yang besar di seminari. P. Karel van Trier, SVD mengajarkan teori dan praktik musik mulai dari kelas satu sampai kelas enam.  Dari beliau, para siswa mendapatkan latihan mengolah seni suara secara intensif. Ada koor dewasa (Mannen-koor) untuk para siswa di kelas-kelas tinggi, ada koor anak-anak (Kinder-koor). Ada latihan intensif dirigen, latihan musik instrumental, pembentukan orkes seminari. Semuanya diarahkan dalam rangka pembinaan watak dan kepribadian.

Bahkan juga kerja tangan dalam rangka kebersihan sekolah, asrama, penataan taman, mendapat porsinya. Kegiatan seperti ini langsung dipelopori pembinanya. P. Yan Smit SVD, misalnya, sangat berjasa dalam penataan taman di halaman tengah kompleks seminari. Beliau memesan bibit-bibit bunga dari negeri Belanda dan bersama siswa menanamnya dalam petak-petak yang artistik. Beliau berpendapat, bunga-bunga yang indah menggairahkan para siswa untuk hidup dan belajar.

Demikian pula kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk menumbuhkan semangat kelompok, kerja sama, solidaritas, tenggang rasa satu sama lain, cinta lingkungan alam dan masyarakat mendapat perhatian serius.

Salah satu bentuk kegiatan itu adalah liburan terpimpin berupa ekskursi ke suatu tempat tertentu, baik secara bersama-sama atau dalam kelompok kecil, di mana para siswa dan Staf Pembina membaur dengan masyarakat, menikmati piknik bersama ke pantai, mendaki gunung dan lain-lain. P. Cornelissen SVD menyimpan banyak kenangan dari kegiatan-kegiatan seperti ini.

Mendaki gunung Ebulobo atau Inerie, beramai-ramai mengunjungi kampung terpencil seperti Warukia di Riung Barat, atau berjalan kaki ke utara untuk berlibur di pulau Pata, Riung, sungguh merupakan pengalaman yang membekas. Di sana ada solidarity making, ada kemenyatuan dengan alam dan masyarakat, ada kemerdekaan dan kegembiraan, ada persahabatan yang tulus.

“Saya sendiri menikmati perjalanan-perjalanan seperti itu, sembari melupakan kesibukan-kesibukan sehari-hari, menghirup udara dalam alam bebas, bersama dengan kelompok pemuda-pemuda sebagai kawan. Ya, mereka benar-benar sahabat!”  kata P. Cornelissen (P.F. Cornelissen, SVD. 50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali. Ende: Arnoldus, 1978:  28).

Ketika berkisah tentang pendakian gunung api Ebulobo, P. Cornelissen berkata, “Betapa kecil nampak puncak gunung yang tinggi itu dari bawah, tapi setelah berdiri di atasnya orang akan kagum betapa luas di sekitarnya. Jika untuk pertama kalinya mendaki sampai pada puncak sebuah gunung berapi yang tinggi menjulang ke langit itu, barulah terasa suatu pengalaman yang tak pernah akan terlupakan.”

Pulang dari liburan-liburan seperti itu terasa ada energi baru yang menyuburkan jiwa dan menyegarkan panggilan; terasa terpulihkan kekuatan untuk melayani dengan totalitas yang tinggi, untuk mengeksplorasi pertumbuhkembangan diri dan sesama.

Karena itulah pendidikan dengan sistem seperti ini telah sangat besar dirasakan manfaatnya. Tentang hal ini J. Riberu menulis, “Pengaruh seminari bukan saja dirasakan lewat mereka yang ditahbiskan. Kebanyakan mereka yang menikmati jamahan pendidikan seminari mampu membina kepribadiannya sedemikian rupa, sehingga dapat berjasa bagi masyarakat sekitarnya” (Riberu Dr. J.Setengah Abad Lalu: Jasa Pendidikan dan Para Pendidik Flores” dalam Dungkal.A. Jejak Langkah Pendidikan dan Para Pendidik Flores.Jakarta: Yayasan Padi Jagung 1999: 16-17).

Yang Perlu Kita Pelajari

Catatan Bapak John Riberu pantas kita cermati. Di situ tersimpan arti dari judul karangan ini: Gratia supponit naturam. Rahmat bekerja melalui pengembangan diri yang maksimal. Dengan mengembangkan diri secara maksimal baik secara intelektual maupun personal, orang menjadi manusia yang baik, dan dengan menjadi manusia yang baik, orang mampu menjadi berkat bagi banyak orang.

Sudah sepantasnya seluruh proses pembelajaran, baik yang dilakukan guru maupun siswa, menjadi suatu proses yang menumbuh-kembangkan. Itulah salah satu ilham yang bisa ditarik dari praksis pendidikan para pendahulu kita.

Orang belajar bukan untuk menghafal, karena otak bukan alat perekam semata. Orang belajar untuk dapat mengembangkan kegemaran berdaya cipta, kebiasaan dan keberanian berpikir, agar kualitas intelektual benar-benar bertumbuh.

Orang mengapresiasi seni dan musik bukan demi selera dan panggung semata, atau pertunjukkan, atau perlombaan, tapi demi penghalusan kepribadian, dan pada gilirannya, penghalusan peradaban.

Orang melakukan kerja tangan bukan karena terpaksa, tetapi untuk mengembangkan disponibilitas: kerelaan dan kemurahan hati seorang manusia yang baik untuk melayani sesamanya, kendatipun harus berkotor-tangan, berkorban dan bahkan menjadi kuli.

Orang mencintai doa dan berbagai latihan rohani lainnya bukan sekedar sebagai dekorasi dan ekshibisi, tetapi sebagai sarana untuk merasakan kehangatan KasihNya, dan sarana untuk memurnikan motivasi hidupnya untuk berkarya, pertama-tama dan di atas segalanya Ad Maiorem Dei Gloriam – demi kemuliaan nama Tuhan. (Nani Songkares, PrBagian II, habis).

GRATIA SUPPONIT NATURAM (1)

Cabang Meluas karena Akar Mendalam – Kilas Balik (3)

GRATIA SUPPONIT NATURAM (1)
Catatan Pendidikan ala Gymnasium

Gratia supponit naturam. Rahmat mendukung kodrat. Itu terjemahan harafiahnya. Maksudnya, rahmat bekerja maksimal melalui pengembangan bakat-bakat secara maksimal. Secara negatif berarti rahmat tidak akan bekerja dengan maksimal apabila kita menyia-nyiakan kesempatan dan kemungkinan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada kita secara sungguh-sungguh. Rahmat tidak akan bekerja maksimal apabila kita menjadi setengah-setengah dan minimalis. Artinya juga, kita mengembangkan bakat dan kemampuan yang ada pada kita bukan pertama-tama demi kepentingan diri kita sendiri, tetapi demi penyaluran rahmat itu bagi pelayanan kepada orang lain melalui bakat dan kemampuan kita.

Pertanyaannya adalah, bagaimana bakat-bakat itu dapat dikembangkan secara maksimal? Pertanyaan inilah yang sebetulnya mau dijawab melalui pendidikan. Kata bahasa Inggris untuk pendidikan adalah education. Kata tersebut berasal dari bahasa Latin educare, yang merupakan bentuk yang disederhanakan dari ex-ducere, yang berarti menarik keluar segala sesuatu yang tersembunyi dalam diri seseorang. Pendidikan berarti menarik keluar bakat dan kemampuan yang masih terpendam, dan mungkin tidak disadari, dalam diri seseorang untuk dipersemaikan dan ditumbuh-kembangkan. Melalui proses pendidikan bakat seseorang terlihat, bertumbuh dan berkembang.

Pendidikan yang menumbuh-kembangkan berbagai bakat dalam diri seseorang itulah yang dikembangkan semaksimal mungkin dalam tradisi pendidikan di Seminari-Seminari, terutama ketika Seminari-Seminari, termasuk Alma Mater kita, menggunakan kurikulum Gymnasium ala Eropa pada saat-saat awal berdirinya, sampai beberapa waktu kemudian setelah kemerdekaan.

Beberapa hal sangat menonjol dalam kurikulum itu, yakni pengembangan bakat-bakat dan kemampuan intelektual terutama melalui bahasa (di mana otak diperlakukan sungguh sebagai alat untuk berpikir, sehingga kegemaran berpikir, kebiasaan berpikir bahkan keberanian berpikir sungguh dikembangkan), pengembangan bakat-bakat dan kemampuan artistik terutama melalui kesenian dan musik, pengembangan bakat-bakat dan kemampuan jasmani melalui olahraga, dan pengembangan kemampuan rohani melalui pendidikan dan latihan-latihan rohani.

Dengan demikian melalui kurikulum pendidikan seperti ini diupayakan agar sebagian besar bakat yang terpendam dalam diri manusia diberi ruang untuk bertumbuh, sehingga ia dapat menjadi manusia yang baik.

Melihat kurikulum pendidikan seperti ini, manusia seperti apakah yang mau dihasilkan? Manusia yang baik, manusia tipe ideal, yang bertumbuh-kembang secara seimbang dalam hampir semua bakat-bakatnya. Kita lalu tergoda untuk bersikap skeptis: dapatkah manusia tipe ideal itu terwujud?

Dalam hal ini, menurut hemat saya, sebaiknya kita tidak berandai-andai. Kita perlu memasang telinga untuk mendengar kembali suara dari kedalaman sejarah, khususnya sejarah pendidikan di Seminari kita kurun waktu 25 tahun yang pertama (1926-1950).

Mendengar Suara Sejarah

Dari catatan sejarah pendidikan di Seminari kita terlihat betapa penumbuh-kembangan bakat-bakat diwujud-nyatakan dalam pendidikan humaniora yang kokoh. Dua hal mau dicapai sekaligus, yakni kualitas pengetahuan dan kualitas watak yang kokoh.

Para pendidik di Seminari adalah pengajar-pengajar yang profesional. Mereka menyiapkan materi dan metode pengajaran secara baik. Mereka menerapkan disiplin yang ketat, bukan untuk membelenggu dan memasung kreativitas siswa, tetapi untuk memacu siswa berkembang secara maksimal baik intelek maupun kepribadiannya.

Karena itu, dalam pandangan J. Riberu, mereka, para pendidik itu, bukan hanya pengajar, tetapi sekaligus benar-benar pendidik. Bagi pendidik tipe ini, kegiatan mengajar yang berarti pengembangan pengetahuan dan keterampilan dalam diri siswa memang penting. Akan tetapi tujuan utama adalah pembinaan watak (Riberu Dr. J.”Setengah Abad Lalu: Jasa Pendidikan dan Para Pendidik Flores” dalam Dungkal.A. Jejak Langkah Pendidikan dan Para Pendidik Flores.Jakarta: Yayasan Padi Jagung 1999).

Mereka merasa tidak puas kalau peserta didik hanya pandai karena menguasai pengetahuan dan keterampilan. Mereka berusaha agar anak asuhannya memiliki peringai dan sikap hidup yang menyebabkan dia dianggap manusia yang baik. Cita-cita mereka adalah menjadikan anak asuhannya manusia yang baik dalam arti yang seasli-aslinya. Itulah pendidikan humaniora yang mereka kembangkan melalui sistem ini.

Berbagai mata pelajaran yang diberikan pun menampakkan cita-cita ini: manusia berpengetahuan dan manusia berwatak. Ada mata pelajaran, tapi tidak banyak dan bertumpuk-tumpuk. Yang penting adalah penguasaan tiga kompetensi dasar: membaca, menulis, berhitung, yang mengarah pada pengembangan kemampuan berpikir (Nani Songkares, Pr – Bagian I).

KECEMASAN, TOTALITAS, DAN HARAPAN

Cabang Meluas, karena Akar Mendalam – Kilas-Balik (2)

KECEMASAN, TOTALITAS, DAN HARAPAN

Berpindah ke tempat baru dengan fasilitas lebih memadai tidak serta merta membuat hidup dan pergulatan pendidikan mudah. Ada berbagai tantangan baru yang mesti dihadapi.

Butuh Keberanian dan Tekad Baja

Ketika masih di Sikka, seminari berada di tengah kampung, dengan atmosfir Katolik yang kental, karena semua penduduk beragama Katolik. Di Mataloko seminari berada di tempat yang sunyi. Beberapa perkampungan sekitar, seperti Dolu, Wogo atau pun Belu tersembunyi di rerumpunan bambu.

Kalau di Sikka, sejak sebelum tahun 1600 orang sudah mengenal agama Katolik, di Ngada umumnya, dan Mataloko khususnya, agama Katolik baru diperkenalkan tahun 1920 dengan kedatangan P. Ettel, SVD. Jadi ketika seminari didirikan di Mataloko, baru 9 tahun agama Katolik diperkenalkan di wilayah itu. Sebagian besar umat belum beragama Katolik. Para misionaris lebih dilihat sebagai orang “kulit putih” daripada sebagai imam atau biarawan.

Bahwa seminari diletakkan di tengah bangsa yang sebagian besar belum mengenal agama Katolik, rasanya itu sebuah pertaruhan besar. Lagi-lagi di sini keyakinan kedua tokoh, Mgr. Vestraelen, SVD, dan P. Frans Cornelissen, SVD, bahwa bangsa Flores itu gens naturaliter christiana serta mempunyai cita-rasa religius dan moral yang tinggi, dan tekad baja yang total untuk menyelenggarakan pendidikan calon imam yang bermutu berperan besar di balik keberanian ini.

Belakangan, P. Cornelissen, SVD tegas menulis, “Orang sangat keliru kalau menganggap bahwa seminari harus berada di tengah-tengah masyarakat Katolik” (50 Tahun Pendidikan Imam di Flores, Timor dan Bali, hal. 33).

Menjaga Kesehatan Siswa

Tantangan lain yang dihadapi adalah kesehatan siswa. Kala itu Flores dibagi dalam 5 wilayah administratif kepemerintahan (Onderafdeling), dan di setiap Onderafdeling ditempatkan seorang dokter. Namun tak jarang dokternya kurang dari lima, bahkan sering hanya dua. Di Bajawa sendiri dokter sering tidak ada. Kunjungan dokter setiap bulan datang dari Ende. Tidak selalu seminari mendapat pelayanan medis dari seorang dokter yang kebetulan berkunjung ke Bajawa itu.

Karena itu banyak hal diupayakan sendiri, agar kesehatan para siswa bisa ditangani. Biasanya seorang imam atau suster yang sedikit banyak mengenal obat-obatan ditugaskan untuk menangani kesehatan siswa.

Masalahnya adalah kalau para siswa menderita penyakit berbahaya, seperti radang paru-paru, atau pun TBC. Sering kali mereka tidak ditangani semestinya, atau terlambat penanggulangannya. Akibatnya, beberapa siswa tidak tertolong. Ada yang meninggal di seminari, yang lain meninggal di rumah. Itu beberapa catatan pedih P. Frans Cornelissen, SVD.

Bukan Mendidik Imam Kelas Dua

Namun semua tantangan itu tidak menyurutkan semangat untuk terus mendidik para calon imam. Dari tahun ke tahun jumlah siswa makin bertambah, begitupun jumlah pendidiknya.

Seluruh proses pendidikan dijalankan dengan kesungguhan dan totalitas yang amat besar. Pendidikan Gymnasium ala Eropa diterapkan, dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Ini merupakan sistim pendidikan seminari menengah di Belanda (Klein Seminarie) untuk mempersiapkan para pemuda melanjutkan studi di seminari tinggi (Groot Seminarie).

Mengapa proses pendidikan seperti ini yang dipilih dan dijalankan dengan segenap totalitas, padahal yang dididik adalah calon imam pribumi? Catatan P. Frans Cornelissen, SVD membantu memahami pergumulannya.

Dalam kata sambutannya pada Upacara Peresmian Seminari 15 September 1929, P. Frans Cornelissen, SVD, mengutip Paus Benediktus XV dalam ensiklik Maximum Illud yang mengatakan bahwa para rohaniwan pribumi harus dididik sebaik-baiknya, tidak hanya sekedar diberi pengetahuan elementer. Pendidikan yang diberikan haruslah “lengkap sempurna dan utuh dalam semua seginya sebagaimana lazimnya diberikan dalam pendidikan imam-imam dari bangsa-bangsa yang sudah maju” (50 Tahun Pendidikan di Flores, Timor dan Bali, 35).

Ini merupakan sikap yang dipilih untuk mengembangkan proses pendidikan di seminari, sebuah sikap yang sangat maju karena beberapa hal. Pertama, cukup banyak seminari yang dikembangkan di Asia dan Amerika Latin memilih mendidik imam-imam pribumi sebagai imam kelas dua. Ada banyak contoh yang dikemukakan. Kedua, masa penjajahan Belanda saat itu menganggap wajar perlakuan kelas dua bagi pendidikan kaum pribumi. Tapi P. Cornelissen memilih menerapkan proses pendidikan yang sama kualitasnya dengan proses pendidikan calon imam di negara maju.

Itu sebabnya pilihan ini mewarnai atmosfir pendidikan di seminari sejak awal. Karena itu imam yang akan dihasilkan adalah imam dengan proses pendidikan, hak, kedudukan dan kualitas yang sama, imam sebagai sesama saudara.

Buah-Buah Pertama

Pertengahan tahun 1932 para siswa angkatan pertama yang berawal dari Sikka menamatkan pendidikannya di seminari menengah. Itulah buah-buah pertama hasil pendidikan di seminari ini.

Dengan pemikiran bahwa pendidikan calon imam pribumi haruslah pendidikan yang “lengkap sempurna dan utuh dalam semua seginya”, maka tanggal 8 Januari 1932, diputuskan untuk mendirikan sebuah seminari tinggi, agar para calon imam dapat melanjutkan studi filsafat dan teologi. Seminari tinggi itu didirikan di Mataloko. Sebuah rumah bertingkat dua bagi seminari tinggi itu dikerjakan tahun 1932 dan selesai tahun 1933 dengan nama rumah Arnoldus, atau lebih dikenal di kalangan masyarakat sebagai Rumah Tinggi (Kemah Tabor saat ini). Mereka yang melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi itu diterima sebagai anggota novisiat SVD, sesama saudara sederajat dengan para anggota serikat dari Eropa.

Dari angkatan pertama novisiat SVD yang berjumlah 7 orang itu (yang merupakan penggabungan angkatan 1926 dan 1927 di Sikka), 4 orang menjadi imam, yakni Lukas Lusi dan Marsel Seran dari angkatan 1926, dan Gabriel Manek serta Karel Kale Bale dari angkatan 1927. Dari ke-4 orang itu, seorang menjadi Uskup, yakni Mgr. Gabriel Manek, SVD, sebuah pembuktian nyata bahwa seminari yang pada awal mula dibangun dengan sederhana menghasilkan buah yang matang dengan  mencapai pucuk pimpinan tertinggi gereja lokal (Nani).

DARI SIKKA KE MATALOKO

Cabang Meluas, karena Akar Mendalam – Kilas-Balik (1)
DARI SIKKA KE MATALOKO

Berdirinya Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko tidak terpisahkan dari dua tokoh besar, yakni Mgr. Arnold Vestraelen, SVD, Vikaris Apostolik Kepulauan Sunda Kecil (1922-1932) dan P. Frans Cornelissen, SVD.

Mgr. Vestraelen, SVD mendapat tantangan luar biasa dari para Vikaris Apostolik dan Perfek Apostolik se Indonesia ketika ia mengutarakan maksudnya untuk mendirikan sebuah seminari di Flores, dalam sebuah konferensi di Batavia.

Penolakan yang jauh lebih besar datang dari para misionaris di Kepulauan Sunda Kecil. Baru sebagian kecil masyarakat Flores dipermandikan, sebagian besar masih kafir. Karena itu mendirikan sebuah seminari di tengah masyarakat yang sebagian besar kafir itu hampir terasa mustahil. Itu keberatan utama mereka. Maklum banyak dari para misionaris ini adalah pindahan dari tanah misi di Togo, Afrika. Di sana mereka gagal mendirikan seminari karena alasan serupa.

Namun Mgr. Vestraelen, SVD teguh dengan keyakinannya, bahwa bangsa Flores itu gens naturaliter christiana, bangsa yang secara alamiah Kristen. Bangsa ini mempunyai citra-rasa religius dan moral yang tinggi, dan itu menjadi alasan kuat baginya mendirikan seminari.

Ketika P. Frans Cornelissen, SVD tiba di Indonesia tahun 1925, gayung bersambut. Mgr. Vestraelen segera memerintahkan P. Frans mendirikan seminari. Dia tahu watak P. Frans Cornelissen, dan dia tahu pula bahwa imamnya itu telah menyelesaikan kursus guru bantu dan kursus Kepala Sekolah di Belanda, dan baginya bekal itu cukup untuk tugas yang dia sendiri tidak bisa gariskan.

Karena itu ketika P. Frans Cornelissen kebingungan bagaimana memulai proses pendidikan calon imam, Mgr. Vestraelen berkata, “Ajarkan apa saja yang kau anggap berguna. Anda kan guru, anda tahu lebih baik daripada saya”.

Dari yang Kecil
Dengan kepercayaan begitu besar dari Bapak Uskup, P. Cornelissen memulai karya besar ini. Tempat yang dipilih adalah Sikka, sebuah kampung kecil di pantai selatan Maumere, dengan penduduk 1000 orang.

Alasan terpilihnya Sikka sebagai tempat dimulainya seminari ini sederhana saja. Saat itu paroki Sikka tidak mempunyai pastor tetap. Sementara itu di Sikka pastoran peninggalan para imam Jesuit itu besar, terbuat dari kayu jati yang kuat. Jadi kalau seminari dimulai di Sikka, pastor pembina bisa sekaligus merangkap pastor paroki, dan pastoran besar itu dapat langsung dijadikan asrama seminari.

Dengan persiapan dan fasilitas seadanya, seminari itu diresmikan tanggal 2 Februari 1926, oleh Mgr. Vestraelen, SVD. “In het land der blinden is ḗḗn-oog koning! – seorang bermata satu di antara orang-orang buta, dialah raja”, ungkap P. Cornelissen, untuk melukiskan bagaimana karya besar ini dimulai dengan serba sederhana, dan dilakukan nyaris seorang diri.

Itulah uniknya karya Tuhan. Tentang awal yang serba kecil dan sederhana ini, P. Tarsis Djuang, SVD, dan P. Elias Doni Seda, SVD, menulis catatan menarik berkenaan dengan 60 tahun seminari, 15 September 1989: “Hampir setiap orang dapat melakukan hal besar dalam dan bagi suatu peristiwa besar. Tapi hanya Tuhanlah yang melakukan hal besar dalam peristiwa kecil. Karya penyelamatanNya adalah karya besar, tapi dilaksanakan lewat inkarnasi, suatu peristiwa yang begitu kecil dan hina”.

Berpindah ke Mataloko
Tahun 1928, setelah dua tahun berada di Sikka, jumlah siswa membengkak dari 7 orang angkatan pertama menjadi 26 orang. Sebuah tanda jelas, yang menunjukkan suburnya panggilan di Flores, sekaligus mencengangkan sebagian misionaris yang pesimis.

Namun, sebuah tantangan besar menghadang. Pastoran tidak bisa diperluas lagi, dan Sikka tidak mempunyai tanah luas dan kosong untuk membangun sebuah kompleks seminari. Harus dipilih tempat yang baru, di luar Sikka. Di mana?

Ada banyak pro kontra di kalangan misionaris. Namun akhirnya P. Jan van Cleef, SVD dalam jabatannya sebagai Provikaris, meyakinkan para misionaris bahwa Mataloko adalah tempat yang paling cocok sebagai lokasi baru bagi seminari. Iklimnya sejuk, di ketinggian lebih dari 1000 m di atas permukaan laut. Di sana nyamuk tak bertahan hidup dan karena itu para siswa bisa terhindar penyakit malaria. Selain itu, tanah di Mataloko luas dan subur, sehingga dapat diusahakan kebun untuk makanan sehari-hari.

Maka pada tanggal 15 Juli 1928 Mgr. Vestraelen meletakkan batu pertama pembangunan kompleks seminari di Mataloko. Setahun kemudian, pada liburan besar bulan Juni-Juli 1929, mulailah perpindahan seminari dari Sikka ke Mataloko. Pada tahun itu juga beralih tahun ajaran baru dari bulan Januari ke Agustus, sehingga pada bulan Agustus diterima lagi murid baru. Total siswa seminari pada tahun ajaran baru 1929 berjumlah 30 orang.

Tanggal 15 September 1929 dilangsungkan misa pontifical pemberkatan sekaligus peresmian seminari ini oleh Mgr. Arnold Vestraelen, SVD. Hadir saat itu sejumlah tokoh Pemerintah dan Gereja.

Catatan paling lengkap mengenai peristiwa bersejarah itu dibuat oleh P. Henricus Leven, SVD, Provikaris saat itu. Ia menuliskan laporan lengkap mengenai pembicaraan-pembicaraan saat itu, baik oleh P. Frans Cornelissen, SVD, seorang siswa seminari bernama Gabriel Manek, Mgr. Arnold Vestraelen, SVD, maupun Asisten Residen Flores, C.A. Bosselaar.

Semua pembicaraan bernada syukur dan optimisme yang besar, bahwa seminari ini akan tetap eksis, apapun krisis yang dihadapinya, dan akan berkiprah jauh ke depan, tidak hanya demi kepentingan Gereja, tetapi juga bangsa dan tanah air.

Sebagian kata-kata P. Cornelissen, SVD layak digemakan kembali: “Kita berdiri lagi di sini untuk menunjukkan salah satu dari vitalitas yang tak tertahankan dari Gereja Katolik, yang sering mencengangkan mereka yang berbeda pikirannya. Kadang-kadang ketika ia (gereja) seolah-olah melihat bahwa kehancurannya sudah dekat, ia menegakkan dirinya kembali dan setelah kesulitan yang tak henti-hentinya ia pun kembali dengan penuh kejayaan”.

Tentang seminari ini ia mengungkapkan keyakinannya: “Kami memiliki harapan yang teguh, bahwa dari sekolah ini akan muncul para pemimpin bangsa yang berasal dari Flores dan Timor” (Daniel Dhakidae, dalam Percik-Percik Kenangan Alumni, hal.230-233) (Nani – Disarikan dari buku In Dei Providentia).