IMAM DI ANTARA CALON IMAM

 IMAM DI ANTARA CALON IMAM

Oleh : Rm. Beni Lalo, Pr

Tulisan ini dibuat dalam rangka Pancawindu imamat Rm. Bene Daghi. Beliau mendesak saya agar segera menuntaskan tulisan ini untuk dimasukkan ke dalam Buku Pancawindunya. Setiap kali ketemu selalu beliau bertanya “sudah selesai ko?”. Di awal bulan Januari saya mengatakan kepadanya, ”sudah tuntas Ka’e…”. Saya tidak sangka kemendesakkan pertanyaan Rm. Bene sebagai pertanda bahwa ia tidak lama lagi hidup di dunia ini. Tanggal 1 Pebruari 2021 beliau menarik napas terakhir di RSU Bajawa dan dikuburkan dengan cara khas di usia imamat ke 36 menuju 37 tahun.

Dalam duka kita menyerahkan Rm. Bene ke dalam tangan Tuhan. Sambil kita bersyukur atas 36 tahun imamatnya sebagai rahmat Allah bagi dunia dan gereja. Benar motto tahbisan imamatnya: “Cuma dalam Dia yang menguatkan aku, aku mampu…” (bdk.Fil. 4: 13). Rahmat Allah meneguhkan kesetiaan seorang imam yang rapuh secara manusiawi. Rahmat yang ditumpahkan dalam kondisi batin hidup seseorang, dalam dialog internal dari waktu ke waktu antara dinamika panggilan/tindakan Allah dan dinamika jawaban/tindakan manusia (Darminta,2006: 16). Allah yang hadir dalam seluruh proses panjang panggilan dari tahap awal ke tahap perutusan: undangan Allah pada seseorang; keinginan seseorang untuk bersatu dengan Allah; komitmen dalam iman; perkembangan spiritual; dan mandat apostolik (Konseng, 1995: 14).

Tahap-tahap yang sama juga dialami oleh Romo Bene Daghi sepanjang 36 tahun sebagai imam. Dalam tulisan ini, saya tidak mendalami tahap-tahap di atas. Saya membuat refleksi yang bersumber dari konsep imamat (biblis dan tradisi gereja) kepada fenomena-fenomena yang sempat tertangkap lensa dalam pengalaman hidup bersama Rm. Bene Daghi.

A. Menjadi imam Tuhan

Pada saat seseorang menyebut kata “imam”, muncul dalam pikirannya gambaran sosok seorang yang berperan sebagai pengantara manusia dan Tuhan, seorang yang berperan sebagai penghubung yang menyampaikan doa dan harapan umat pada Tuhan. Sebaliknya juga, imam menjadi tanda kehadiran Tuhan di tengah umatNya. Surat Ibrani  mencatat bahwa seorang imam ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah (Ibr.5:1).

Konsili Vatikan II menyatakan bahwa imam menyandang kewibawaan Kristus dan berkat meterai istimewa, dijadikan serupa dengan Kristus, sehingga mampu bertindak dalam pribadi Kristus Kepala (PO 2). Dengan demikian, imam menjadi simbol kesucian. Simbol kesucian pada diri imam dinyatakan melalui pelaksanaan tugas-tugasnya, yakni tugas mengajar (pelayanan Sabda Allah), menguduskan (pelayanan sakramen) dan memimpin (pelayanan kepemimpinan).

1. Pelayan Sabda Allah: sebagai pelayan Sabda Allah, imam bertugas untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia. Perjanjian Lama dalam Kitab Ulangan mencatat peran mengajar dari imam adalah mengajarkan aturan-aturan Tuhan kepada Israel (Ul.33: 10). Dalam teks ritus tahbisan imam, ada ajakan terhadap imam baru untuk mengajar dan melaksanakan aturan Tuhan. Seperti pesan Paus Fransiskus,”…dengan merenungkan hukum Tuhan, pastikan kalian percaya akan apa yang kalian baca, kalian ajarkan apa yang kalian percaya, dan kalian menjalankan apa yang kalian ajarkan…”.

Tentang sosok Rm. Bene, saya mengenal sebagai pribadi imam yang berpusat pada Sabda Allah. Dia berusaha hidup konsisten. Boleh saya bilang, dalam kerapuhannya, dia menghidupi apa yang dia baca dan percaya, serta apa yang dia wartakan. Hal ini terlahir dari bagaimana ia bersungguh-sungguh membaca, merenung dan membagi Sabda Allah setiap hari. Sabda Allah dihadapkan pada diri sendiri untuk dihayati, baru sesudah itu dibagikan pada sesama. Tampak dalam persiapannya untuk merayakan Ekaristi pada semua hajatan, entah peristiwa harian sederhana, entah peristiwa hari besar/hari raya. Buku agenda khusus untuk renungan/kotbah tersiapkan dan disimpan secara rapi dari dulu sampai sekarang. Kotbahnya disiapkan dan dibawakan secara tertulis atau diketik. Jarang dia berkotbah tanpa teks.

Peran pelayan Sabda Allah identik dengan peran guru. Sebagai calon imam (frater TOP) dan imam, dia selalu ditempatkan sebagai guru di lembaga pendidikan calon imam, kecuali sebagai seorang diakon ditempatkan di paroki Wolofeo.

Satu kelebihan dari Romo Bene sebagai seorang guru adalah konsistensi antara apa yang diajarkan dan apa yang dihidupinya. Dia menunjukkan keteladanan kepada kami para imam  di seminari. Keteladanan yang paling terasa adalah pada disiplin diri.  Pϋnktlich ! Waktu benar-benar terdiri atas detik per detik, menit per menit.

Peran pelayan sabda identik juga dengan peran kenabian yang mewartakan kebenaran. Memang benar pribadi ini berbicara tentang kebenaran. Berbicara sesederhana apa pun harus benar dengan verifikasi data yang jelas. Dia menertibkan dirinya pada jalan lurus sampai pada cura minimorum, seperti mengurus keuangan harus dipertanggungjawab sampai pada satu sen. Kebenaran yang dihayatinya adalah buah dari kedalaman diri yang berakar pada Sabda Allah yang direnungkannya setiap hari. Kedalaman diri bukan ruang kosong, melainkan lahan subur untuk kebenaran hidup (Reinhard Lettmann: Innerlichkeit ist kein Hohlraum oder inhaltlose Leere…)

2. Pelayanan sakramen: sebagai pelayan sakramen, imam bertugas untuk mempersembahkan kurban rohani atau melayani karya pengudusan lewat sakramen (PO 5). Dalam surat kepada umat di Ibrani (5,1), dikatakan secara jelas bahwa imam ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan karena dosa. Dengan melayani sakramen-sakramen, seorang imam menghadirkan Kristus yang telah mengurbankan diri-Nya di kayu salib.

Searah dengan disiplin dirinya yang baik, pribadi Romo Bene selalu setia merayakan Ekaristi harian pada waktunya, kecuali kalau dia dalam perjalanan atau sakit. Ekaristi harian disiapkan sejak sebelumnya. Omnia parata sunt. Semua disiapkan termasuk membaca kalender liturgi setiap hari dengan semua titik komanya, sehingga semua teman imam yang merayakan hut kelahiran dan tahbisan hari itu, didoakan.

Kekurangan yang berkaitan dengan pelayanan sakramen adalah dia jarang melayani sakramen permandian, sakramen nikah dan sakramen orang sakit, karena alasan yang sangat jelas, full di seminari. Sakramen tobat tetap dilaksanakan untuk para imam/ suster yang datang mengaku dosa dan terlebih pelayanan untuk para siswa seminari.

Seiring dengan masa tuanya dan memiliki kematangan rohani yang mumpuni, dia pernah dipercayakan oleh Uskup sebagai Delegatus untuk cura animarum biara-biara di kevikepan Bajawa dan sering pula melayani ret-ret para imam/suster.

3.Pelayanan kepemimpinan/gembala: sebagai pemimpin umat Allah, imam mengemban tugas Kristus sebagai Kepala dan Gembala dengan menghimpun semua orang, dalam persaudaraan sejati dan menghantar mereka menuju komunio Allah Tritunggal (PO 6). Seperti kata Paus Fransiskus bahwa imam menjalankan tugas di dalam Kristus, Kepala dan Gembala, dalam persatuan dengan Uskup. Imam menjalankan tugas seperti Kristus, bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani.

Seperti sudah dikatakan di atas bahwa Rm. Bene bertugas lebih di lembaga-lembaga pendidikan calon imam, maka boleh dibilang dia menjadi gembala dan pemimpin di seminari-seminari. Domba-dombanya adalah para siswa seminari/para frater, dan saat beliau menjadi Praeses di Ritapiret dan Mataloko, domba-dombanya adalah seluruh anggota komunitas itu.

Penempatan Romo Bene di Seminari Menengah Mataloko sejak 2006, sebenarnya dimaksudkan oleh Uskup, agar di tengah komunitas pendidikan calon imam, harus ada seorang imam senior yang berperan sebagai teladan, sekaligus sebagai seorang tua yang matang, yang berperan sebagai sosok bijak dan tenang di tengah orang muda. Menjadi tokoh pemersatu dan menjaga persaudaraan adalah salah satu sayap dari tugas kegembalaan atau kepemimpinan seorang imam.

B. Menjadi imam Diosesan

Siapakah imam diosesan itu ?  Rm. Domi Balo (alm.) dalam brosur pendidikan calon imam, menjelaskan secara negatip bahwa imam diosesan adalah imam yang tidak termasuk Ordo atau Konggregasi/Tarekat tertentu. Imamatnya adalah imamat perdana atau rasuli (seperti diterima para Rasul), yakni imamat seperti yang diserahkan Kristus kepada para murid-Nya pada awalnya. Atau sekurang-kurangnya berpangkal pada imamat awali tersebut, tanpa atribut lainnya, terkecuali bahwa ia oleh tahbisannya di-tua-kan. Dalam bahasa aslinya disebut “Presbyter”, yang berarti “tetua/penatua”, yang kemudian diterjemahkan dengan “imam”. Oleh sebab itu, di belakang nama seorang yang ditahbiskan menjadi imam diosesan (khususnya di Indonesia) ditambahkan atribut “Pr” (singkatan dari presbyter, bukan projo)

Imam non tarekat ini disebut imam diosesan yang dikaitkan dengan kata “diocesis” (Lat. wilayah) karena ia terikat pada salah satu wilayah keuskupan tertentu. Dioses sama dengan praja dalam bahasa Jawa. Dalam hubungan dengan Gereja, yang dimaksudkan dengan wilayah tertentu/dioses, adalah wilayah tertentu gerejawi, yakni keuskupan. Oleh karena mereka terikat dengan keuskupan tertentu, maka mereka disebut imam diosesan. Pimpinan mereka adalah seorang Uskup Diosesan (Uskup dengan yurisdiksi wilayah “kekuasaan”, sebagai pemimpin resmi partikular). Dengan Uskup itu, ia mengikatkan diri.

Romo Bene mengambil keputusan masuk Seminari Tinggi Ritapiret pada tahun 1974 dengan motivasi yang sangat personal. Dia merasa dirinya cocok untuk menjadi imam yang mengabdikan diri untuk umat setempat di Keuskupan Agung Ende. Dia mau menghayati spiritualitas imam diosesan “dari dunia kembali ke tengah dunia”. Ke tengah dunia dan bersatu dengan dunia, menghadirkan diri di sana secara lain dan baru sambil memberikan kesaksian khusus imamiahnya. Dikatakan secara lain dan baru, sebab sejak tahbisan, imamatnya dituntut oleh martabatnya itu, harus dijalani di tengah dunia menurut nasehat injil (ketaatan, kemiskinan, kemurnian) secara konsekuen. Pelbagai hak yang seharusnya dimiliki oleh dunia, oleh karena tahbisannya dan misinya yang baru itu, harus ditinggalkan dan ditanggalkannya. Di tengah dunia, dia harus memberikan kesaksian yang baru.

Hanya sayangnya, harapan Romo Bene untuk bekerja secara langsung bersama umat di paroki-paroki yang sederhana, tidak terwujud. Sebagai penghayatan pada spiritualitas alkitabiah, sebagai dasar spiritualitas imam diosesan, dia harus taat pada keputusan Uskup. Uskup sudah mempunyai rencana lain untuk dia. Dia disiapkan untuk studi lanjut di Roma untuk mendalami bidang Islamologi. Semuanya ini membuka jalan baru dan menentukan perjalanan imamatnya selanjutnya ke depan. Dia harus bekerja setiap hari di tengah para calon imam sebagai dosen dan guru sampai kematiannya.

Pelayanan kecil setiap hari dijalankannya dengan kesetiaan yang besar. Kesetiaan adalah buah Roh Kudus dalam diri sang imam. Kesetiaan adalah wewangian yang menyenangkan dunia dan manusia (Paus Fransiskus). Seperti kata Paulus, “…sebab bagi Allah, kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa..” (2 Kor.2:15). Inilah yang disyukuri dalam perjalanan imamatnya sampai melewati 36 tahun dan tak sampai pada pancawindu yang direncanakan…Selamat jalan Rm. Bene menuju keabadian. Di sana perayaan syukur imamatmu menjadi sempurna.

Rm. Beny Lalo, Pr

Pengasuhan Digital bagi Seminaris Diaspora

Sejak dipulangkan ke rumah masing-masing pada akhir Maret lalu, praktisnya sebagian besar proses formasi anak-anak Seminari Santu Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko berlangsung melalui metode Dalam Jaringan (Daring).

Pengasuhan digital dari orang tua, pihak seminari, para pastor dan para mitra menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Dalam rimba raya jaringan internet, para seminaris diaspora ini perlu didampingi dan diasuh.

Dialog aktif antara anak dan orang tua, para pastor dan para mitra menjadi kunci keberhasilan pengasuhan digital untuk para seminaris diaspora. Tingkat keseringan berkomunikasi antara kedua pihak ini harus berbanding lurus dengan banyaknya waktu yang digunakan anak untuk berselancar di dunia maya.

Ketika durasi “berada di depan layar” kian meningkat, partisipasi aktif orang tua, para pastor dan para mitra dalam membangun komunikasi dengan anak harus ditingkatkan pula.

Mengapa Penting?

Pertama, situasi sekarang memaksa anak-anak seminari melakukan banyak aktivitas Daring, terutama untuk mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Selain itu, interaksi untuk proses formasi sebagai calon imam juga terjadi melalui media-media Daring.  Kedua tuntutan ini menyebabkan durasi waktu untuk cemplung ke dalam dunia digital semakin tinggi.

Kedua, jagat maya merupakan jagat yang sama sekali asing bagi sebagian besar anak-anak seminari. Dalam situasi normal, mereka dilarang menggunakan HP dan tidak memiliki akses ke dalam dunia maya dengan segala kemungkinan-kemungkinannya yang tidak terbatas. Dalam era kenormalan baru ini, mereka diwajibkan memiliki HP dan keahlian berselancar di dunia maya untuk melayani kepentingan formasi.

Ketiga, internet selalu berwajah ganda. Di satu sisi, akses ke dalam internet meningkatkan literasi dan wawasan anak. Di sisi lain, dalam internet terdapat sejumlah tantangan yang mengancam perlindungan dan hak anak seperti perundungan digital dan pencurian data pribadi (KOMPAS, 21/06/2020). Dampingan orang tua, para pastor dan para mitra mutlak perlu untuk meminimalisasi kejahatan siber dalam berbagai levelnya.

Keempat, alasan terkait etika digital. Walaupun memiliki banyak kesamaan, etika digital dan etika dunia nyata tetap memiliki perbedaan. Dalam dunia digital, segala sesuatu pasti meninggalkan jejak. Selain itu, semuanya serba terbuka. Oleh karena itu, anak-anak perlu mendalami etika digital dan selalu diingatkan untuk mematuhi etika-etika tersebut.

Kelima, anak-anak perlu dilindungi dari pelbagai variasi bahaya informasi-informasi palsu. Semua orang memiliki akses ke dalam internet dan oleh karena itu berbagai jenis informasi, entah itu benar atau salah, entah itu baik atau buruk, berseliweran dalam berbagai platform media-media Daring. Kontrol orang tua, para pastor, dan para mitra membantu anak-anak dalam proses penyaringan dan internalisasi informasi-informasi tersebut.

Peran Sentral Orang tua, Para Pastor dan Para Mitra

Orang tua, para pastor dan mitra memiliki peran penting dalam pengasuhan digital bagi para seminaris diaspora. Peran tersebut dapat dijalankan melalui kehadiran dan dialog aktif. Spritualitas kehadiran dan dialog aktif menjadi kunci keberhasilan proses-proses pengasuhan digital. Oleh karena itu, orang tua, para pastor dan para mitra wajib memberikan teladan dan panutan.

KOMPAS (20/06/2020) meringkas tiga lapisan yang harus dimiliki sebuah keluarga ketika (anak-anaknya) harus mencemplungkan diri ke dalam dunia digital.

Lapisan pertama adalah kesadaran akan pentingnya keselamatan, keamanan, dan privasi. Lapisan kedua adalah literasi media agar bijak menyikapi informasi palsu serta menilai kebenaran konten. Lapisan ketiga menyangkut kesadaran tentang hak dan tanggung jawab.

Orang tua, para pastor, dan para mitra memiliki kewajiban dan tanggung jawab membangun ketiga lapisan kesadaran tersebut. Perlu diakui, usaha itu tidak gampang. Oleh karena itu pada bagian berikut direkomendasikan hal-hal praktis yang perlu dibuat.

Langkah-langkah Praktis Pengasuhan

Pertama, kerja dan belajar dalam dan melalui media daring harus dijadwalkan. Orang tua dan para mitra harus melibatkan diri dalam penyusunan jadwal belajar dan kerja anak. Keterlibatan itu juga harus sampai pada tahap pengawasan, apakah jadwal itu ditaati atau tidak.

Kedua, tingkatkan komunikasi langsung dengan anak. Komunikasi itu harus dari muka ke muka dan dari hati ke hati, bukan melalui perantaraan media-media sosial.

Ketiga, ingatkan anak akan kerawanan dan bahaya yang ada di ruang virtual. Banyak bahaya yang bisa saja timbul, misalnya penipuan, kekerasan verbal, pencurian data pribadi, dan perundungan digital.

Keempat, usahakan sebisa mungkin agar menemani anak saat mereka sedang bekerja dan belajar melalui media-media Daring. Pada bagian ini, sekali lagi ditekankan pentingnya spiritualitas kehadiran bagi seorang anak.

Kelima, orang tua, para pastor, dan para mitra harus selalu mengingatkan anak akan pentingnya menjaga etika bermedia sosial. Etika itu misalnya, selalu menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak saling memaki.

Keenam, sebagai pengasuh, tentu saja orang tua, para pastor, dan para mitra juga harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang literasi teknologi digital. Oleh karena itu, mau tidak mau, orang tua juga harus mempelajari seluk beluk dunia digital dan segala tuntutan-tuntutannya.

Tommy Duang

Kelas Daring: Adaptasi Baru Pembelajaran di Seminari

Dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 01/KB/2020, Menteri Agama Nomor 516 Tahun 2020, Menteri Kesehatan Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 480-882 Tahun 2020, tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021, ditetapkan bahwa sekolah-sekolah berasrama yang berada di zonah hijau dilarang membuka asrama dan melakukan pembelajaran tatap muka, sekurang-kurangnya pada dua bulan pertama.

Menyikapi SKB tersebut, dan sesuai kebijakan Pemerintah Daerah Kaubupaten Ngada, SMPS dan SMA Seminari Santu Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko memutuskan untuk menyelenggarakan  pendidikan calon imam dengan metode Dalam Jaringan (Daring) melalui Learning Management System (LMS). Dalam perencanaannya, metode pembelajaran Daring akan berlangsung selama dua bulan awal semester Ganjil 2020/2021, terhitung sejak 13 Juli-13 September 2020.

Dalam konteks dunia pendidikan di Pulau Flores, pembelajaran Daring merupakan sesuatu yang relatif baru. Dibutuhkan suatu persiapan yang sungguh matang agar keberlangsungan proses pembelajaran tetap sesuai dengan tuntutan kurikulum di era kenormalan baru.

Tentang keseluruhan proses persiapan itu, Kepala SMA Seminari Mataloko, Rm. Gabriel Idrus, Pr, mengatakan, “Sejauh ini kita telah mengadakan rapat bersama para bapa ibu guru di tingkat internal dan mengevaluasi persiapan-persiapan kita. Memang kita saat ini dalam kondisi siap meskipun adaptasi-adaptasi itu masih tetap terjadi dalam perjalanan waktu, karena kita berkenalan dengan sesuatu yang baru.”

“Adaptasi itu, baik di tingkat kita sendiri, ke dalam, para bapa ibu guru, yang menyiapkan pembelajarannya maupun juga para siswa kita.  Adaptasi itu menyangkut banyak aspek, baik menggunakan aplikasi ini (Google Classroom) maupun juga situasi secara umum ketika harus melaksanakan pembelajaran Daring.”

Selanjutnya Romo Idrus menambahkan bahwa secara umum sekolah ini telah siap melaksanakan pembelajaran daring melalui aplikasi Google Classroom. “Saya boleh katakan, secara umum memang kita siap, walaupun dalam perjalanan tetap harus beradaptasi dengan kondisi, beradaptasi dengan berbagai macam hal yang masih tetap berubah dalam waktu-waktu ke depan. Dari sisi kesiapan, kita siap tapi keterbukaan dan segala macam adaptasi itu masih dibutuhkan dalam masa perubahan.”

Sama seperti SMA, SMPS Seminari Mataloko juga telah sampai pada tahap persiapan yang maksimal. Hal ini disampaikan oleh Rm. Kristoforus Betu, Pr, selaku Kepala Sekolah di ruang kerjanya pada Senin, 20 Juli 2020. Setelah ditetapkan bahwa seluruh proses pembelajaran akan berlangsung dengan metode Daring dan menggunakan aplikasi Google Classroom, semua guru bergerak dan berusaha keras agar bisa mengoperasikan aplikasi ini.

Romo Kristo mengakui bahwa persiapan itu membutuhkan waktu paling kurang satu bulan. “Butuh waktu ya, kasarnya sebulanlah. Ada hari-hari yang efektif sekali, tapi ada hari-hari di mana para guru belajar mandiri. Belajar terpadu, terprogram, tersistematis, di bawah Romo Isto sebagai operator utama. Ada latihan bersama, tugas mandiri dan juga latihan-latihan bersama oleh teman-teman yang sudah mahir. Menurut saya, itu berjalan intensif.”

Kendala-kendala di Tingkat SMPS

Walaupun SMPS telah memiliki persiapan matang untuk memulai pembelajaran Daring, ditemukan beberapa kendala yang perlu dibenahi. Rm. Kristoforus Betu, Pr, menyampaikan bahwa ada tiga kendala utama yang dihadapi oleh SMPS pada saat ini.

Pertama laboratorium komputer. Menurut Romo Kristo, SMPS perlu memiliki laboratorium komputer sendiri. Kelas Daring mengakibatkan tingginya lalu lintas penggunaan laboratorium komputer, dan oleh karena itu, perlu diadakan laboratorium khusus untuk SMPS.

Kedua, kendala jaringan dan tenaga IT. SMPS memerlukan jaringan internet yang lancar demi meminimalisasi gangguan jaringan selama proses pembelajaran berlangsung. Kendala jaringan juga dialami oleh anak-anak yang tinggal di daerah-daerah yang tidak terjangkau jaringan internet. Di samping itu, SMPS juga membutuhkan tambahan tenaga IT. Menurut Romo Kristo, bila perlu semua guru diwajibkan menjadi tenaga IT.

Ketiga, SMPS kekurangan tenaga imam. Sebagai sekolah para calon imam, SMPS Seminari Mataloko masih membutuhkan tenaga-tenaga imam, sehingga tugas-tugas yang seharusnya dilakukan oleh seorang imam, tidak perlu diambilalih oleh para guru dan pegawai awam.

Persiapan para Guru

Dari sharing beberapa guru, kita mendapat informasi bahwa mereka maksimal menggerakkan roda pembelajaran Daring. Hal ini patut diberi apresiasi karena kelas Daring dan  penggunaan aplikasi Google Classroom merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi sebagian besar guru dan siswa.

Ibu Lindawati, misalnya, men-sharing-kan bahwa kelas Daring merupakan sesuatu yang sama sekali baru bagi beliau selama delapan belas tahun menjadi guru. Di tengah kerja keras mempelajari penggunaan aplikasi Google Classroom, Ibu Linda harus mengemas materi pembelajaran dalam bentuk teks, power point, dan video demi meningkatkan ketertarikan para siswa untuk mempelajari materi yang diberikan. Semua hal itu telah beliau kerjakan dengan baik.

Frater Vinsensius Sele, seorang guru baru yang mengampuh mata pelajaran Agama Katolik, mengakui bahwa beliau tidak mengalami kesulitan yang cukup berarti dalam menjalankan aplikasi Google Classroom.  “Bagi saya, ini cukup mudah. Yang menjadi tugas yang harus dibenahi sekarang ialah bagaimana menyajikan materi sekreatif mungkin agar para seminaris tertarik untuk mendalami setiap materi yang disajikan.”

Selain dari Ibu Linda dan Frater Vinsen, kita juga mendapat sharing yang cukup menggembirakan dari Ibu Theresia Emilia Woghe. Beliau menulis, “Persiapan saya untuk kelas online ini, baik dari segi persiapan materi maupun soal-soal sudah rampung (untuk dua Kompetensi Dasar pertama). Dari segi penguasaan aplikasi, saya kira sudah jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya, dalam arti sudah jauh lebih siap, walaupun saya tidak bisa memprediksi bagaimana action-nya nanti.”

 Sama seperti guru-guru SMA, para guru SMPS juga mengatakan bahwa pada umumnya mereka sudah siap mengajar di kelas-kelas Daring. Bapak Darius Yohanes Mau, S.Pd, misalnya berkisah bahwa beliau telah siap 100%.

“Mengenai persiapan kelas Daring,” kata Pak Aris, demikian beliau akrab disapa, “untuk saya punya kelas, saya wali kelas VIIA, persiapannya sudah memadai. Dalam grup-grup WhatsApp, sudah dipastikan semua anak tergabung untuk memudahkan pengontrolan. Kemudian di Google Classroom, anak-anak dikontak melalui nomor pribadi untuk memastikan perorang itu wajib memasukkan akun ke google. Semuanya sudah 100% tergabung dan semua aktif sehingga kelas Daring yang dimulai hari ini berjalan lancar.”

Berbeda dengan Pak Aris yang tidak mengalami kendala dalam penguasaan aplikasi Google Classroom, ada guru, terutama guru-guru senior, masih mengalami kesulitan dalam menjalankan aplikasi pembelajaran tersebut.

Tentang kesulitan itu, Ibu Paulina Bate berkisah, “Secara umum, penyiapan materi pembelajaran (bahan mentah) tidaklah sulit, karena didukung oleh pengalaman puluhan tahun mengajar. Yang masih menjadi kendala adalah ketika materi yang telah disiapkan harus diubah ke dalam bentuk digital dan dibagikan dalam Google Classroom. Sebagai orang tua, kecepatan dalam mempelajari sesuatu telah jauh berkurang, apalagi jika harus selalu berpindah dari kiri ke kanan (menjelajahi situs dan aplikasi digital).”

Selain kesulitan menjalankan aplikasi, kesulitan lain yang dialami para guru di SMPS ialah menyangkut pembagian waktu antara manjalankan profesi guru dengan waktu bersama keluarga di rumah.

Ibu Fransiska Dhera, guru Bahasa Indonesia, berkisah, “Tantangan yang dialami dalam masa transisi ini adalah kesulitan dalam membagi waktu antara panggilan sebagai guru di sekolah dan tanggung jawab sebagai ibu yang mengatur jalannya rumah tangga.”

“Melakukan penyesuaian yang cukup besar dalam mekanisme pembelajaran tidaklah mudah bagi seorang guru sekaligus ibu. Porsi waktu untuk melatih kecakapan dalam menjelajah dan menggunakan rupa-rupa situs dan aplikasi cukup besar dan menuntut guru untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaan sekolah, di rumah. Sementara itu, di rumah sudah ada pekerjaan lain yang menunggu,” tambah Ibu Siska.

Pesan dan Harapan bagi Siswa-siswa Seminari

Dalam banyak kesempatan, Rm. Gabriel Idrus, Pr selaku Praeses dan Kepala Sekolah mengajak para seminaris untuk memaknai situasi yang diakibatkan oleh pandemi covid-19 ini sebagai tantangan dan peluang untuk beradaptasi dengan perubahan.

“Dalam pengalaman seperti ini, kita diuji dan ditantang, siapa yang bertahan dalam perubahan-perubahan itu, dia bisa keluar sebagai pemenang. Kepada para siswa, ini menjadi motivasi. Meskipun dalam situasi keterbatasan, yang barangkali secara perorangan mengalami kesulitan, kita maknai ini sebagai peluang untuk kita beradaptasi dengan perubahan.”

Senada dengan hal yang disampaikan Romo Praeses, Rm. Nani Songkares, Pr, selaku guru senior mengajak para siswa untuk melihat situasi ini sebagai kesempatan untuk melihat identitas seminari secara baru. Father Nani, begitu beliau akrab disapa, dalam catatannya mengenai kebijakan pendidikan di Seminari saat krisis Covid-19, menulis, “Setiap krisis yang kita alami adalah sekaligus opportunity. Jangan-jangan virus corona ini memberi kita peluang untuk bergumul dengan identitas Seminari Santo Yohanes Berkhmans Todabelu secara baru.”

Para guru, yang juga menjadi wali-wali kelas, mengharapkan agar para seminaris cepat beradaptasi dengan model pembelajaran daring ini. Selain itu, para seminaris juga diharapkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, menjaga pola hidup sehat, menjaga kedisiplinan, dan etika bermedia sosial serta selalu meluangkan waktu untuk mengembangkan talenta.

Tommy Duang

Seminari Mataloko di Tengah Pandemi: Dari Lembah Sasa Menuju Seminari Diaspora

Pandemi virus korona yang belum menunjukkan tanda-tanda menurun, memaksa manusia beradaptasi dengan segala jenis gaya kehidupan baru. Ada banyak hal yang berubah, termasuk model pendidikan calon imam di berbagai Seminari, baik pada tingkat menengah maupun pada tingkat Seminari Tinggi.

Dalam pertemuan online pada 22 Juni 2020 bersama para Rektor Seminari Menengah, Ketua Komisi Seminari KWI, Mgr. Robertus Rubiatmoko, mengatakan bahwa model formasi calon imam dalam waktu-waktu mendatang akan menjadi lebih terbuka dan dinamis, di mana akan ada banyak pihak di luar seminari terlibat dalam proses formasi para seminaris.

Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan sejumlah rapat pengurus Komite Sekolah Seminari, Yayasan Persekolahan Umat Katolik Ngada (Yasukda), Konsultan Kesehatan Kabupaten Ngada, dan pemerhati pendidikan. Selanjutnya, diadakan beberapa kali pertemuan bersama Bapak Bupati Ngada dan jajarannya, yang menghasilkan berbagai rekomendasi strategis, antara lain konsep Seminari Diaspora dan implementasi praktisnya.

Secara fisik, pusat-pusat formasi berpindah dari “kompleks seminari” ke tangan para seminaris sendiri, orang tua, Pastor Paroki, Pastor Rekan, dan pihak-pihak lain yang membantu perkembangan para seminaris di rumah mereka sendiri. Di tangan merekalah,  dan dalam  interaksi dan kerja sama dengan Lembaga Seminari, mewujud-nyata Seminari Diaspora itu.

Persis pada titik ini, Rm. Benediktus Lalo, Pr, selaku Romo Prefek SMA Seminari Mataloko, melemparkan satu pertanyaan reflektif yang sangat menantang, “Bagaimana dimensi-dimensi pendidikan calon imam (Sanctitas, Scientia, Sapientia, Sanitas, dan Socialitas) yang sistematis dan terprogram, yang terencana, dengan satu tujuan yang terukur, tetap dipertahankan?”

Bangun Kerja Sama yang Solid

Agar dimensi-dimensi tersebut di atas tetap dihayati oleh para seminaris diaspora, dibutuhkan suatu jaringan kerja sama yang kuat antara pihak seminari dengan para orangtua dan para pastor paroki. Menurut Rm. Benediktus Lalo, Pr, kerja sama dan koordinasi ini merupakan hal yang sangat menentukan dan tentu saja mendesak.

Kalau koordinasi kita dengan orangtua dan pastor Paroki tidak bagus, ada kemungkinan proses pembinaan itu pincang. Kita tidak bisa terlalu jauh sampai pada diri anak. Tetapi kalau betul koordinasi kita bagus dengan visi misi yang sama antara kita dengan orangtua, saya yakin, kita percaya apa yang terjadi di rumah dan di paroki, itu adalah bagian dari proses pendidikan calon imam.”

Walaupun pusat pembinaan para seminaris telah berpindah, kelima dimensi pendidikan calon imam (5S) harus tetap dijaga dan dirawat. Konsep seminari diaspora merupakan sesuatu yang relatif baru, dan oleh karena itu perlu diakui bahwa sebagian proses pembinaan masih jauh dari ideal formasi yang telah ditanamkan sejak dahulu. Akan tetapi, situasi dan kondisi yang tidak ideal ini harus bisa diatasi agar proses formasi tetap berjalan.

Demi mencapai tujuan itu, Romo Praeses menekankan pentingnya interaksi jarak jauh yang berkelanjutan antara para formator dan seminaris melalui media-media sosial. Hal praktis yang diambil ialah dengan memasukkan para formator dalam grup-grup WhatsApp wali kelas. Dengan demikian, para formator memiliki akses yang cukup memadai ke dalam kehidupan para seminaris. Selain itu akan diadakan pula kunjungan berkala dari pihak seminari ke tempat-tempat perjumpaan yang ditetapkan untuk memantau perkembangan pendidikan anak-anak seminari dari dekat.

“Supaya formasinya juga tetap berjalan, kita juga sudah berbicara cukup jauh sebelum ini, yaitu bahwa tetap nanti harus ada interaksi, melalui media-media ini (Google Classroom dan WhatsApp), yang di dalamnya itu banyak pihak terlibat, para gurunya terlibat, tapi juga para pendamping. Pembina harian itu nanti masuk dalam grup-grup supaya mereka terlibat dan melihat bagaimana hal ini berjalan di rumah ketika mereka dirumahkan,” kata Romo Praeses.

“Kemudian kita juga nanti,” demikian Romo Praeses, “akan melanjutkan lagi dengan kunjungan berkala yang kita rencanakan, di mana pihak lembaga akan turun dalam tim, melihat mereka dari dekat. Itu saja yang bisa kita buat dan kita memang berharap supaya setelah masa transisi ini mereka boleh kembali karena dengan itu, formasi lengkap sebagaimana yang kita cita-citakan boleh berjalan kembali.”

Dari Lembah Sasa Menuju Seminari Diaspora

Sejak para seminaris dipulangkan ke rumah pada hari Kamis, 26 Maret 2020 lalu, proses formasi para calon imam ini telah berpindah dari Lembah Sasa ke rumah para seminaris masing-masing. Pandemi virus korona melahirkan inisiatif untuk membentuk Seminari Diaspora. Virus korona membuat Seminari Mataloko bergerak dari Lembah Sasa menuju Seminari Diaspora.

Pada masa-masa ini, harapan banyak diletakkan di pundak para pastor paroki dan orangtua. Rm. Nani Songkares, Pr, dalam catatan refleksinya menulis, “Ada sesuatu yang terasa terbalik: Saat normal, orangtua berharap pada seminari untuk pendidikan anak-anaknya. Saat dilanda krisis virus korona, seminarilah yang berharap pada rumah untuk menjadi seminari sesungguhnya bagi para siswanya.”

Konsep seminari diaspora telah melahirkan paling kurang satu hal penting bagi perkembangan panggilan para seminaris, yaitu bahwa penentu terakhir dari keberhasilan adalah diri mereka sendiri. Walaupun para seminaris ini berada jauh dari seminari dan para formator, tetapi kalau mereka tetap mendidik diri dalam koridor pendidikan calon imam, mereka akan dengan sendirinya tiba pada suatu level kematangan tertentu. Di sini dibutuhkan suatu kemandirian para seminaris untuk mendidik dirinya sendiri.

Wakil Praeses, Rm. Kristoforus Betu, Pr mengharapkan agar seminari diaspora ini tidak kehilangan nilai-nilai esensialnya dan juga para seminaris diharapkan agar menjaga keseimbangan penghayatan lima dimensi pendidikan calon imam.

“Saya ingin supaya lembaga pendidikan calon imam ini tidak pudar, tidak kabur, dan tidak kehilangan nilai-nilai esensialnya. Nilai esensial itu ada banyak sekali. Mulai dari kerohanian sampai dengan kemandirian, perkembangan, dan pertumbuhan kepribadian para seminaris. Juga  keseimbangan antara yang rohani dan yang sosial perlu selalu dijaga. Harapan saya, nilai-nilai yang terangkum dalam 5S itu tetap bertumbuh, terpelihara, semakin gesit, dan semakin maksimal karena tantangan ini.”

Tommy Duang

Sang Bijak yang Penuh Pengabdian

Sang Bijak yang Penuh Pengabdian

Manusia selalu berusaha menunjukkan jati diri dalam hidup. Pengungkapan akan jati diri itu dapat diwujudkan dalam banyak bentuk. Ada yang mengungkapkannya melalui aktivitas yang berguna bagi banyak orang. Kegiatan yang dilakukan, apa pun bentuknya, mungkin memberikan inspirasi baru bagi orang yang menyaksikannya. Selain melalui karya nyata, ungkapan jati diri dapat dilakukan melalui konsep dan pemikiran yang otentik dan brilian dalam hidup bersama. Mungkin melalui konsep dan pemikiran itu, lahirlah konsep dan pemikiran baru yang lebih inspiratif? Adakah melalui karya dan pemikiranya yang brilian, orang menjadi pribadi yang terkenal?

Romo Dominikus Balo adalah seorang imam Keuskupan Agung Ende. Ada dan hidupnya di  tengah komunitas calon imam, seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu merupakan kehadiran  yang inspiratif dan meneguhkan. Dia yang turut serta melahirkan ide dan karya-karya besar di keuskupan Agung Ende dengan gagasan tentang Pusat Pastoral; dia yang ditetapkan sebagai pimpinan tertinggi di Seminari Tinggi; dia yang biasa mengurus sekolah-sekolah Katolik di wilayah Kevikepan Ende-Lio; di masa tuanya masih tetap menjalankan tugas sebagai pendamping rohani dan pengajar di Seminari tercinta ini.

Imam yang biasa disapa dengan sebutan Romo Domi ini melaksanakan tugas dengan setia sebagai pendamping rohani dan pengajar bahasa Latin. Betapa tidak. Sebagai pendamping rohani, ia menghasilkan buku-buku doa yang digunakan secara tetap di lembaga ini. Romo Domi memberikan masukkan yang berguna bagi pembinaan dan pengembangan kerohanian seminaris. Selain itu, kehidupan rohaninya adalah kekuatan itu sendiri bagi para imam dan calon imam di lembaga pendidikan ini. Romo Domi telah memberikan isi pada lembaga ini dengan karya yang inspiratif, meskipun tidak harus monumental dan spektakuler.

Selain menjalankan tugas pendampingan rohani, hal besar yang dilakukannya adalah mengajar mata pelajaran bahasa Latin. Otorisasi dan ‘kepakarannya’ sangat kuat dalam mata pelajaran ini. Hal pelik apa pun berkaitan dengan bahasa Latin, akan diselesaikan dengan mudah. Dia adalah seorang guru bagi guru yang lain. Bahasa Latin yang selalu ditegaskan sebagai bahasa resmi Gereja, mungkin bagi banyak orang merupakan bahasa yang tua dan kaku, tetapi olehnya menjadi sesuatu yang segar dan menggembirakan. Seminaris diajak untuk menekuni bahasa Latin dengan baik, karena baginya, orang yang belajar bahasa Latin dengan baik, akan membantunya untuk belajar mata pelajaran lain dengan mudah. Bahasa Latin menjadi jalan bagi seminaris untuk mempelajari yang lain.

Sebegitu cintanya akan bahasa Latin dan seminaris, sehingga di kala sakit pun ia terus memikirkannya, tanpa memedulikan kesehatannya sendiri. Sekembalinya dari kontrol kesehatan di Surabaya misalnya, pada kesempatan pertama beliau kembali ke kelas, menyapa seminaris dengan bahasa Latinnya. Hal itu biasa dilakukannya karena cintanya, hatinya, rasa, dan pikirannya demi kemajuan lembaga pendidikan dan seminaris di dalamnya. Romo Domi melakukan tugas itu hingga tungkainya tidak mampu menyangga tubuhnya yang semakin renta. Karena itu dalam guyonan di kalangan para pembina sering dikatakan, bahwa kita sebenarnya berdosa terhadap beliau karena di usianya yang sudah 76 tahun, ia seharusnya menikmati hidup dengan membaca koran, dan sebagainya. Namun hal yang terjadi adalah ia masih ‘dipaksa’ untuk berdiri dan mengajar di depan kelas. Memang faktor usia dan kondisi tubuh yang semakin lemah, tidak bisa menjadi penghalang bagi orang yang mau terus belajar dan mengabdi dengan ikhlas. Romo Domi telah membuktikannya bagi kita.

Romo Domi yang nada bicaranya selalu lembut itu sebenarnya seorang imam dengan latar belakang pengetahuan pastoral yang kuat. Hal ini terjadi karena beliau menekuni bidang ini secara khusus. Selain itu berbagai hal yang berkaitan dengan bidang teologi, liturgi dan hukum gereja, banyak dipahami dan dimengertinya secara luas. Kondisi ini memungkinkannya menjadi sumber belajar yang baik, bagi siapa pun yang ingin terus menambah wawasan pengetahuan. Semua kapasitas yang dimiliki ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar, menggali dan menemukan yang baru. Bahkan beliau adalah salah satu sosok yang sangat ‘up to date’, orangtua yang tidak gagap teknologi. Apakah seluruh yang dimiliki ini, baginya menjadi sesuatu yang abadi?

Seluruh kapasitas yang dimiliki ini seakan hilang beberapa bulan terakhir. Dia yang memiliki pikiran yang bernas dan jernih; sosok yang saleh dan pendiam; pribadi yang mendatangkan keteduhan, semuanya seolah menjadi runtuh oleh penyakit yang menggorogoti tubuh dan usianya yang semakin lanjut. Seluruh kebijaksanaan yang dimilikinya rasa-rasanya lenyap bersama kemampuan bicaranya yang hilang sama sekali. Tidak ada lagi kata-kata bijak yang bisa diucapkan. Tatapan matanya nanar, kosong, hampa. Ungkapan seperti ‘pada permulaan’ bila mengawali suatu pembicaraan, ‘boleh’ bila menerima suatu tawaran, atau ‘tentu’ bila membenarkan sesuatu hal, menjadi sesuatu yang langka. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya membuat celotehan yang khas hilang bersama berlalunya waktu. Sang manusia bijaksana itu akhirnya menjadi sosok yang tidak berdaya. Jati diri yang sangat kuat diungkapkan melalui pikiran, karya, dan kata-kata bijak seakan hilang bersama kebisuannya. Apakah itu adalah akhir dari sebuah perjuangan?

Perjuangan dan hidup Romo Domi di dunia boleh berakhir. Namun pikiran dan  kata-kata bijak yang dimiliki tidak boleh hilang dari hidup bersama di lembaga pendidikan ini. Bahasa Latin haruslah tetap menjadi bahasa Gereja yang diajarkan dan akan mengasah kemampuan berpikir kritis seminaris. Semangat untuk terus belajar harus selalu menjadi daya dorong bagi seminaris  sebagai makluk belajar. Pengabdian yang ikhlas kiranya menjadi hal yang biasa dalam diri kaum pelayan. Cinta yang tulus dan sejati tentunya menjadi sesuatu yang habitual dalam diri orang yang mencintai kebenaran. Semangat dan daya seperti ini tidak boleh menjadi bisu meski digerogoti oleh penyakit apa pun.

Romo Domi, selamat jalan. Kami akan belajar terus menerus dari semangat pengabdianmu. Kebijaksanaan hidupmu akan kami kenang selalu. Doakanlah kami selalu agar menjadi orang-orang yang bijaksana dan setia mengabdi dalam hidup.

Romo Sil Edo, Pr

Romo Domi dan Kesunyian

Romo Domi dan Kesunyian

 Pada 23 Januari lalu, dua ibu dari Jakarta mengunjungi seminari. Begitu dijumpai di halaman depan Kapela SMP seminari, salah seorang ibu, yang beberapa waktu sebelumnya pernah mampir ke seminari dan bercanda dengan Romo Domi Balo, berkata kepada saya, “Romo, tolong antarkan kami ke Romo sepuh itu, kami mau beri sesuatu.” Mereka membawa tongkat untuk membantu Romo Domi berjalan.

 Saya mengantar kedua ibu itu ke kamar Romo Domi, di bagian dalam, di tempat tidurnya. Romo Domi sedang terbaring. Begitu melihat kedua ibu yang menyapanya, dia terkejut. Matanya sedikit membelalak. Dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tak ada satu katapun keluar dari bibirnya. Dia mencoba menggerakkan tangan, berusaha mengekspresikan sesuatu. Tapi tidak bisa. Kedua ibu itu pamit. Romo Domi hanya menganggukkan kepala.

 Itulah kondisi yang dialami Romo Domi sejak dia kedapatan terjatuh di kamarnya, di depan TV, 17 Januari malam. Malam itu Romo Sarce, tetangga di kamar sebelah, pulang dari misa arwah, kira-kira jam 22.30 WITA. Dia mendengar bunyi TV di kamar Romo Domi. Saat itu Romo Sarce berpikir, Romo Domi pasti sedang asyik menonton debat calon Presiden putaran pertama. Romo Domi memang sangat berminat mengikuti perkembangan politik tanah air. Tapi ketika TV tetap berbunyi sampai kira-kira pukul 24.00 malam, Romo Sarce mulai curiga. Pelan-pelan dia membuka kamar Romo Domi. Dia terkejut, Romo Domi jatuh berselonjor di depan TV, dengan kepala bersandar di dinding tripleks yang membatasi ruang tidur bagian dalam.

 Sejak saat itu, Romo Domi praktis tidak bisa berkomunikasi lagi. Paling-paling satu dua kali berkata “Ya”, atau “Belum”, atau “Praeses”.  Itu pun susah sekali. Bahkan, makin lama kata-kata seperti itu pun tidak bisa diucapkan lagi. Terasa sekali keinginan Romo Domi untuk berbicara sesuatu, tapi yang keluar hanya sebentuk gumaman yang sulit dimengerti. Romo Domi ditelan kesunyian, sunyi sekali.

 Untuk seseorang yang dengan segenap hati, dengan seluruh passion, dengan seluruh kekuatan mencintai pekerjaan berupa produksi kata-kata melalui komunikasi, pengajaran, buku-buku, refleksi, renungan, nasihat dan ungkapan-ungkapan bijak, kejenakaan, kemudian tiba-tiba tidak mampu menemukan kata-kata untuk mengungkapkan dirinya, entah karena merasa tidak bertenaga lagi, atau karena daya ingat yang sudah begitu terkuras, ini rasanya sebuah salib yang besar sekali. Sekurang-kurangnya itu yang kami tangkap dan rasakan.

 Sekali waktu, di sore hari, saya masuk ke kamar Romo Domi. Frater Denny Galus, SVD, yang setia menemani Romo Domi keluar, membiarkan kami berdua di kamar. Saya berusaha mencari segala daya untuk berkomunikasi dengan Romo Domi. Dengan terbata-bata, dia hanya sekali mengucapkan nama saya, lalu komunikasi kami praktis menjadi seperti monolog. Saya bercerita tentang kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan dengan anak-anak, bertanya sembarangan tentang apa yang dia rasakan, tentang keadaannya, sakitnya, tentang tangan dan kakinya. Dia hanya menatap, atau meremas tangan saya.

Frater Louis Watungadha datang sambil membawa buku kenangan 60 tahun imamat Pater Aleks Beding SVD, yang ditulis beberapa imam SVD berjudul, “Bersyukur dan Berharap.” Editor buku tersebut adalah Pater Steph Tupeng Witin SVD yang diterbitkan Penerbit Ledalero (2011). Saya menunjukkan buku itu kepadanya. Semangatnya tiba-tiba menyala. Dia mengambil buku itu, berusaha miring ke kiri atau ke kanan untuk membaca judulnya, dengan susah payah membuka satu dua halaman, bibirnya bergerak seperti hendak membaca sesuatu, akhirnya berhenti. Aduh! Buku yang jadi kegemaran dan sahabat setianya tak bisa dinikmati lagi. Kata-kata berhenti sama sekali!

***

Romo Domi memperkuat barisan formator seminari sejak tahun 2001. Umurnya 60-an tahun saat itu, sudah usia pensiun. Namun segera kami merasakan, betapa Romo Domi menjadi pilar seminari yang luar biasa, sebuah kekuatan yang hanya bisa dan selalu akan kami kenang dan syukuri.

Saat itu kami mulai mempersiapkan diri menyongsong 75 tahun seminari. Salah satu kebutuhan yang dirasakan adalah adanya buku Pedoman Pendidikan Calon Imam, khas seminari Mataloko. Pedoman itu sama sekali belum ada. Dibentuklah Panitia Kerja, antara lain, untuk menghasilkan buku Pedoman itu. Romo Domi adalah ketuanya. Praktis Romo Domi mengerjakannya sendiri. Dia mempelajari berbagai dokumen, baik dari Vatikan maupun KWI. Dia menyusun draftnya. Saat seminari merayakan 75 tahun berdirinya pada tanggal 15 September 2004, Pedoman itu terbit sebagai buku ad experimentum. Lengkap sekali dan mendetail. Sampai sekarang, buku tersebut tetap dipakai sebagai rujukan.

Kebutuhan lain yang tidak kalah penting adalah mengajar bahasa Latin. Karena keterbatasan tenaga, tugas ini minus malum biasanya diberikan kepada para frater TOP. Frater TOP setiap tahun berganti, jadi praktis setiap tahun pengajar bahasa Latin berganti, dan kita tidak pernah mempunyai kepastian, apakah frater yang mengajar itu, bahasa Latinnya baik.

Kehadiran Romo Domi memberi kepastian. Dia sendiri ternyata berminat sekali dalam bahasa Latin. Maka, dia mengajar dari SMP sampai SMA, dengan ketekunan yang luar biasa, spartan. Tidak lama berselang, beberapa buku pegangan pelajaran bahasa Latin dihasilkan: doa-doa dan lagu-lagu liturgis dalam bahasa Latin, Kamus bahasa Latin, dan akhirnya 4 jilid buku teks Elementa Linguae Latinae, Liber Primus, Liber Secundus, Liber Tertius dan Liber Quartus, baik Buku Guru maupun Buku Siswa.

Hanya sedikit sekali pengajar bahasa Latin di seminari-seminari se-Indonesia yang sangat menguasai bahasa Latin. Seminari Mataloko berbangga karena pengajar bahasa Latin yang dimilikinya adalah seorang ahli.  Mario Lawi, seorang penyair muda NTT menulis sebuah buku puisi dalam bahasa Latin, dan dia minta Romo Domi memberikan koreksi dan catatan. Dia tahu kepada siapa dia harus bersandar.

Kreativitas dan produktivitas intelektual seorang Romo Domi Balo seperti tidak pernah berhenti. Terus mengalir. Kalau sedang tidak mengajar, Romo Domi pasti berada di kamarnya, di depan laptop untuk bekerja. Dia mengumpulkan dan menulis banyak hal. Mulai dari ramuan-ramuan tradisional untuk obat-obatan sampai refleksi dan pemikiran-pemikiran teologis. Dua buku terakhir yang diterbitkan adalah tentang Sakramen dan Selibat. Beberapa naskah buku yang siap untuk diterbitkan sudah di-print dan dijilid teratur.

Tidak heran Romo Domi selalu suka membaca. Dia membaca buku, membaca majalah dan koran, dan selalu mengikuti perkembangan-perkembangan terbaru melalui internet. Tentang yang terakhir ini, internet, dia tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk pulsa. Jangan pancing diskusi mengenai perkembangan-perkembangan terbaru politik tanah air, misalnya, kegunaan ramuan ini, atau itu. Romo Domi langsung ‘sambar’. Di depan para calon imam, saya suka berkata, Romo Domi itu seorang tua yang selalu muda, karena selalu belajar.

Karena kebijaksanaan dan kekokohan intelektualnya, ditambah kedalaman kerohaniannya sebagai seorang imam pendoa itulah, Romo Domi selalu dinantikan kehadiran dan kata-katanya dalam sidang-sidang staf seminari, atau sidang guru, terutama ketika harus berbicara mengenai hal-hal krusial pendidikan seminari.

Suatu waktu dalam salah satu sidang staf, diputuskan bahwa harus ada Hari Orangtua Seminaris (HOS). Romo Praeses, Romo Gabriel Idrus, Pr, meminta bantuan para staf memberikan masukan mengenai pendidikan seminari, dan situasi terkini yang sedang dialami. Romo Domi ditunjuk untuk membuatkan draftnya, dan seperti biasa, orang tua ini langsung ‘tancap gas’. Dan hasilnya luar biasa sekali. Dia menulis tentang betapa relevannya pendidikan seminari sampai saat ini. Dia menguraikan dengan begitu gamblang tantangan internal dan eksternal yang menyebabkan kemandirian seminari mengalami goncangan.

Saat ini, ketika seminari sedang berbicara tentang grand design pendidikan seminari menuju 100 tahun berdirinya dalam kerja sama yang begitu kental dengan Pemerintah Kabupaten Ngada, seminari harus merumuskan problem statement-nya. Salah satu kata kuncinya adalah kemandirian, sesuatu yang bertahun-tahun sebelumnya sudah digaungkan oleh orang tua yang istimewa ini.

Entah pesan apa yang mau disampaikan Romo Domi Balo dengan kesunyian luar biasa di hari-hari terakhirnya ini. Begitu menyesakkan, begitu menghempas! Kata-kata yang bernas itu lenyap, yang tinggal adalah kesunyian.

Moto tahbisan Romo Domi adalah, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, tetapi sahabat” (Yoh.15:15). Bapak Uskup Agung Ende dalam kotbahnya saat Misa Requiem untuk mengantar pergi Romo Domi ke pembaringan terakhir mengatakan, Romo Domi adalah sungguh sahabat Yesus. Persahabatannya dengan Yesus dia ungkapkan tidak hanya dengan kata-kata, tapi seluruh dirinya, hidupnya. Hidupnya sendiri adalah sebuah kata besar yang terus berbicara, lebih dalam, lebih agung dari ungkapan verbal.

Saya teringat Santo Thomas Aquinas, seorang teolog agung, yang karya-karya intelektualnya sangat berpengaruh bagi perkembangan Gereja. Dia menulis seri Summa Theologiae yang terkenal itu, tapi tidak selesai.

Konon, ketika merayakan Ekaristi Santo Thomas mendapatkan pengalaman mistik yang luar biasa, yang begitu memengaruhinya, sehingga dia berhenti menulis. Ketika Bruder Reginald, sekretaris dan sahabatnya, memintanya untuk menyelesaikan Summa Theologiae itu, dia berkata, “Akhir kerjaku telah tiba. Semua yang saya hasilkan rasanya hanyalah setumpuk jerami, dibandingkan dengan apa yang telah dinyatakan kepadaku.”

Kae Domi, mudah-mudahan kepadamu telah dinyatakan, dan akan dinyatakan keagungan, kemuliaan yang tidak mampu diungkapkan dengan karya dan kata-kata manusia, kemuliaan Sahabatmu, Yesus. Rasanya, kata-kata Tuhan, yang kae jadikan moto imamat, adalah jaminannya, “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, tetapi sahabat” (Yoh.15:15).

Romo Nani Songkares, Pr

Homo Proponit, Deus Disponit

HOMO PROPONIT, DEUS DISPONIT

Kenangan bersama Romo Domi Balo, Pr

 

Judul di atas diambil dari kalimat yang terpajang di depan kamar Romo Domi Balo. Kalimat itu sudah tergantung sekian lama hingga sekarang. Bagi orang yang memahaminya, kalimat ini menohok ke dalam relung hatinya, dan ia bermenung, “Manusia boleh merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan”.

 Kalimat di atas harus dibaca secara utuh. Jika tidak, maka akan terjadi bencana kemanusiaan, saat manusia terjebak hanya pada dimensi horisontal/humanisme (homo proponit). Dimensi horisontal menyangkut kekinian (hic et nunc). Kekinian mengandung unsur manusia dan dunia yang sedang berkembang. Kekinian yang semakin sekular saat ini, saat manusia semakin percaya diri. Saat manusia berpisah dari Tuhan (Deus). Sejarah evolusi tahap pertama yang ditandai oleh Homo Sapiens (70.000 tahun), yang akan segera diganti dengan tahap kedua yang ditandai dengan  Homo Deus. Manusia bisa menjadi Tuhan atas dirinya dan bisa mengubah lintasan evolusi sejarah masa depan, yang hanya ada di tangannya. Inilah bencana yang paling dasyat, Homo Deus, mau menghancurkan mortalitas dan dunia tak mengenal lagi kematian (immortalitas). Kematian bukan persoalan Tuhan lagi tapi itu adalah masalah teknis yang belum ditemukan solusi teknisnya (Yuval Noah Harari, Homo Deus-A Brief History of Tomorrow,2017,h.24-25)

Di sisi lain, kalimat kedua (Deus disponit) adalah dimensi vertikal, pikiran orang yang berpihak pada Allah. Ini menyangkut masa kini dan masa depan, dunia seberang, harapan akan keabadian. Dengan demikian disimpulkan kehidupan manusia entah kini entah yang akan datang ada pada tangan Tuhan. Dalam kekinian, manusia berencana, membangun dunia, berkembang dalam keilmuan, mencipta segalanya tapi seluruh kehidupan itu tak mencukupi, karena pada akhirnya, dihadapkan pada restu keputusan Tuhan. Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan yang ditentukan oleh Tuhan.

Kalimat di depan pintu kamar Romo Domi adalah kalimat utuh sebagai kebijaksanaan dan  proklamasi imannya yang tiada tara pada Tuhan. Pernyataan iman yang tak pernah luntur bahkan semakin mengental sampai di penghujung kehidupan fana ini.

Kalimat ini menjadi faktor pengingat pada diri Romo Domi bahwa sebagai manusia lemah, dengan segala dosa-dosanya, dengan segala concupiscentia, setiap hari dari pagi hingga malam, dalam pekerjaan-pekerjaannya, melayani gereja sebagai seorang imam, melayani para seminaris sebagai pembina dan guru, semuanya dalam nama Tuhan.

Pekerjaan dan panggilan hidupnya adalah evolusi spiritualitas yang dihayati sebagai pewartaan tentang Allah yang Mahakasih, yang nampak dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang telah bersatu dalam seluruh sejarah homo sapiens. Sejarah manusia yang tak bisa dipotong dan dipisahkan dari kasih Allah.

Sebagai buah dari kebijaksanaan dan imannya ini, pada masa tuanya, Romo Domi masih berbuat banyak hal, memperkaya gereja, seminari dan para seminaris dengan buah-buah pengetahuan dan buah-buah rohani. Tak tahu berapa buku/brosur rohani yang dihasilkan dan dipakai hingga sekarang oleh komunitas ini. Sampai pada saat-saat tenaganya hampir habis, dengan sisa energi kecerdasan berpikirnya, ia masih mempersembahkan buku pegangan bahasa Latin Elementa Linguae Latinae Primus, Secundus,Tertius dan Quartus.

Pada akhir kehidupan saat dia tak bisa berjalan lagi, dari keheningan kursi roda, ia terus memandang generasi baru yang sedang melanjutkan karyanya di seminari ini dengan pekerjaan-pekerjaan rutin, dengan segala rencana-rencana besar ke depan. Dia berdoa dan berserah pada Tuhan, seperti Musa yang memandang Tanah Terjanji dari Gunung Nebo, dan memandang Harun bersama Israel berlangkah ke depan. Ia berdoa semoga seluruh pekerjaan di kebun anggur Tuhan, seminari ini menghasilkan buah-buah imamat dan kader-kader gereja yang berlimpah.

Kita harus tetap percaya seminari ini adalah kebun anggur Tuhan. Pekerja-pekerja di kebun ini datang dan pergi, berganti dari satu generasi ke generasi berikut,  tapi hanya Tuhan yang sama sebagai penentu evolusi sejarahnya sampai keabadian…

Rm. Benediktus Lalo, Pr

Imam Berbasis Iman

IMAM BERBASIS IMAN

                “…aku percaya, karena itu aku berkata-kata..” (2Kor.4,13), merupakan suatu ungkapan seorang manusia rapuh yang menjadi rasul karena ditangkap oleh Tuhan sendiri. Dalam kerapuhan dan keterbatasannya, kelak kemudian menjadi rasul utusan Tuhan. Ia  menyampaikan  bahwa iman itu adalah harta rohani yang menjadi dasar, kekuatan yang membuat ia mampu mewartakan, menyampaikan kebenaran sejati Tuhan kepada umat Korintus. Dalam kerapuhan dan keterbatasan manusia itu, kekuatan dan kekuasaan Allah menjadi nyata.  Rencana dan kehendak Tuhan yang membuat ia mampu, demikian keyakinan st. Paulus (bdk. Fil, 4,13).

            Mulanya agak sulit mengenal sosok Imam Tuhan yang satu ini: Romo Domi Balo, Pr,  sebatas dibaca dalam daftar Katalogus Alumni Seminari Tinggi st. Petrus Ritapiret atau sebatas ‘kata orang’ tentang beliau. Dalam perjalanan waktu akhirnya tidak cuma mengetahui tetapi lebih dari itu ‘mengenal’ sebagai rekan sekomunitas.

Dalam  putaran pertama,  jilid I  kebersamaan saya dengan Romo Domi Balo, Pr (Agustus 1988 – Maret 1990, masa pelayanan beliau sebagai Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, sementara penulis adalah seorang pembina baru di langkah-langkah awalnya)  terlintas kesan bahwa Imam pelayan tertahbis ini, adalah manusia pelayan sedarhana, lugu, tabah, setia dan mencintai tugas. Lebih jauh terlintas juga pelayan tertahbis ini  sedang dengan serius mencari Tuhan dan kehendakNya dalam hidup dan dalam karya pelayanannya. Hidup dan pelayanannya adalah saat untuk mencari Tuhan, seperti yang diungkapkan St. Vincentius a Paolo (Die Zeit Gott zu zuchen, ist dieses Leben). Kehendak Allah terus digali dalam hidup nyatanya, bukan cuma dalam kata-kata pemanis mulut, tetapi dalam tingkah-tindakan hidup, pelayanannya, walau ia harus menghadapi tantangan dari luar diri dan luar komunitas mau pun dari lingkungan komunitas. Semuanya dihadapinya dengan tenang.  Nampaknya beliau sadar bahwa onak dan duri, arus dan gelombang pasti selalu ada di depan mata kita manusia,  namun Tuhan pasti memegang tangannya. Bersama Tuhan dan dengan Tuhan, manusia akan mampu menghadapi segalanya. Tuhan tidak cuma ditemukan dalam situasi serba enak, menyenangkan, tetapi juga dalam situasi batas, keringat dingin, gemetaran dalam tugas karya nyata.

Dalam sebuah permenungan kesempatan rekoleksi komunitas Staf Ritapiret, jelang Prapaskah 1989  ia pernah berujar,  “Allah dapat kita jumpai/kita temukan pada saat kita melaksanakan tugas kita.”  Nafas sesak dalam menghadapi tantangan kesulitan tugas, seorang pelayan tertahbis, tidak boleh membuat kita  melarikan diri dari semuanya itu, tabah dalam tugas, sabar dalam karya (tentu dalam konteks nyata rumah Rita saat itu).  Dalam nada iman  penuh pasrah diri, nyata dalam kata-kata permenungannya itu, ia mengatakan ‘Badai ganas  telah membuat akar pohon semakin kokoh-kuat.’  Akar pohon itu menjadi kuat justru karena Allah yang memberinya kekuatan. Dalam alur pikiran di atas beliau menutup renungan rekoleksi itu dengan kembali menyitir kalimat St. Vincentius a Paolo, “Die Zeit Gott zu besitzen, ist die Ewigkeit,” waktu untuk memiliki Tuhan adalah keabadian/kebangkitan/kebahagiaan abadi.  Hanya lewat Salib dan penderitaan manusia sampai pada kemuliaan kebangkitan. Keringat dan jerih lelah, suka dan duka silih berganti, tidak ada yang ‘gratis’ dalam hidup manusia ini. Lagi-lagi, kalimat ini semua mengungkapkan kedalaman iman seorang imam Allah ini.

            Pada kebersamaan saya dengan beliau – putaran kedua, jilid II,  (di Seminari Menengah St. Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko: Januari 2006 sampai dengan  Januari 2019,  hari-hari terakhir sebelum ia meninggal), Romo Domi masih tetaplah seperti yang dahulu, masih dalam kemasan warna dasar yang sama. Iman dan keyakinan akan kekuatan kekuasaan Allah tetap menjadi sandaran dan harapan utamanya. Allah adalah akar kekuatan yang menahan terjangan badai hidup.

Romo Dominikus Balo, Pr adalah seorang imam Praja Keuskupan Agung Ende generasi-generasi awal, produk binaan jaman itu yang terbilang sebegitu kuat dan mendalam menanamkan sesuatu dalam hati anak binaan kala itu. Tempaan tangan para misionaris barat rupanya sulit tercabut dari sanubari Romo Domi. Akar iman sebegitu kokoh kuat, walau sayap kebebasan seorang  manusia/pemuda tetap ia menjadi acuan tindaknnya. Beliau, adalah salah satu sosok pribadi imam karena iman, yang  merangkaikan seluruh hidup dan karya pelayanannya sebagai manusia-pelayan tertahbis, yang tekun-setia, mencintai tugasnya karena ia sadar sungguh bahwa ia menjadi imam karena pilihan Allah sendiri.. Dalam rentang waktu jelang emas imamatnya, hidup dan karya sosok imam  yang satu ini telah membenarkan bahwa ia adalah figur pelayan tertahbis yang tekun setia dan manusia dedikatif dan konsisten dalam melaksanakan tugasnya. Imamat yang digapainya bukanlah sebuah usaha manusia pribadinya atau perjuangan sanak-keluarganya tetapi murni karena iman akan  suara panggilan Allah. Imam karena iman.

Justru dalam ziarah pelayanan kepada sesama, ia telah mencari dan menemukan Allah. Dalam  suatu pengabdian tanpa batas kepada Dia yang telah memilih dan memanggilnya. Iman  membara akan apa yang dikehendaki Allah atas dirinya itu membuat selalu terpancar dalam tingkah perbuatannya Romo Domi ‘Homo proponit, Deus disponit’  – Manusia merencanakan tetapi Allah menentukan. Kalimat yang terpampang mantap di depan pintu kamarnya, bukan cuma sekedar tanda bahwa ia adalah seorang guru bahasa Latin yang handal tetapi lebih sebagai ungkapan iman keyakinannya, bahwa manusia merencanakan segalanya tetapi, tapi Allahlah yang menentukan segalanya itu. Suatu ungkapan iman dan pasrah diri kepada taqdir Allah, cuma Allah yang memiliki daya dan kekuatan penentu atas hidup dan karya kita.

Ziarah karya pelayanannya sebagai imam: dari Lembaga Pendidikan Calon Imam baik di Seminari Menengah (di Lela) pun di Seminari Tinggi, kemudian kembali lagi  ke Seminari Menengah (Mataloko), diselangi dengan tugas pelayanan pastoral parokial, tugas pelayanan di Pendidikan Persekolahan, Pusat Pastoral…semuanya merupakan bentuk pelayanan seorang hamba Tuhan yang taat-setia dan mencintai tugas tanpa memilih-milih lapangan/tempat kerja yang sesuai dengan kemauan, selera diri sendiri, tetapi tunduk-taat total kepada kehendak Allah, taat dan setia kepada putusan Pimpinan, demi kelancaran karya pengabdian kepada Allah dan demi kelancaran karya pelayanan kepada sesama.  Kesetiaan dan cinta akan tugas membuat Romo Domi walau usia semakin uzur, ia tidak mau mundur dalam tugas- tugasnya. Usia uzur tidak menghalangi langkahnya menuju ke kelas, sambil duduk membimbing para calon imam Tuhan. Selain itu, pelayanan karya pastoral: pelayanan sakramen tobat/pengakuan, mendengarkan keluhan dan berbagi dari umat yang datang, pelayanan perayaan Ekaristi bagi  orang yang membutuhkannya, tidak ia lewatkan, tetap dan selalu siap, walau di tempat saja…bukti nyata betapa ia mencintai tugasnya…

Hari-hari jelang  emas imamat yang sudah di mata, dalam  keterbatasan seorang anak manusia, ia tetap berpegang teguh pada apa yang telah terpampang di depan kamarnya itu, ungkapan imannya bahwa manusia merencanakan tetapi akhirnya Allahah yang menentukannya. Kini ia sudah berada di garis finish, sambil mengancungkan tangan tanda kemenangan, ia naik podium untuk dikalungi medali kemenangan: Ia telah menjadi Imam Allah dalam Iman sampai akhir hayatnya, ia telah menjadi sahabat Tuhan untuk selamanya. Saat Kematiannya adalah saat ia menemukan dan memiliki Tuhan yang ia imani (Die Zeit Gott zu besitzen, ist die Ewigkeit). Ia sadar bahwa menghadapi hal satu ini, “Kematian,” manusia tidak mampu  mengajukan  protes terhadap kehendak Allah,  Allah tidak bisa disogok, Tuhan tidak bisa disuap untuk meminta tunda, Allah telah menentukan, menetapkan segalanya Kekuatan dan kekuasaan Allah telah menyata dalam seluruh ziarah hidup dan karya sang imam Allah yang memiliki iman tangguh ini.. Homo proponit, Deus disponit.

Rm. Domi: Imam lansia yang milenial

Dalam kebersamaan hidup selama lebih dari 13 tahun di Lembaga Pendidikan Calon Imam – Mataloko ini, dapat saya katakan bahwa Imam Allah yang lansia ini, jangan dikira ia ketinggalan jaman dan tidak memiliki minat terhadap hal-hal aktual-kontekstual.  Ia adalah imam lansia yang milenial, senior yang berjiwa yunior, imam tua dengan semangat dan berwawasan muda. Ia tetap aktif di depan laptopnya untuk menulis sesuatu, entah artikel, renungan, materi bahan ajar (bahasa Latin, atau bahan apa saja).   Suatu pagi jelang siang (sewaktu saya masih Praeses), dalam nada kelakar saya mengatakan, “Ah…romo sibuk sekali ya? Setiap kali saya lewat di depan kamar, Romo selalu asik duduk di depan laptop, jangan terlalu duduklah,… nanti sakit tu, istirahat-istirahat juga toh!…” Dalam nada kelakar juga beliau mengataka, “Setiap kali saya di depan laptop, Praeses lewat…salah siapa. Sebenarnya saya tidak terlalu sibuk,.. siapa suruh lewat dan lihat ke sini…”

Rm. Domi selalu mengikuti gerak perkembangan dunia politik dengan situasi terbaru, baik lewat TV, malajah, pun sarana-sarana media sosial lainnya.   Minat dan perhatiannya terhadap segala perkembangan terbaru tidak ia abaikan, ia tahu: siapa dari partai apa, dukung pasangan  mana, demonstrasi di mana…ia selalu ikuti, selalu terus  ia belajar dan belajar terusss. Program-program terbaru dalam laptop, dengan pelbagai variasi ia pelajari, obat-obat baik herbal pun generic produk-produk terbaru, ia tahu semua…ketika ditanya selalu ia katakan, “Ada di internet tu, obat itu bagus direkomendasikan dan sangat dianjurkan oleh dokter.”  Obat-obat kebutuhannya didatangkan via internet/on line. Segalanya tentu demi mencoba memperpanjang hidupnya. Rencana dan ketetapan Tuhan telah final, akhirnya Tuhan menjemput sang sahabatNya, untuk duduk di sebelah kananNya… Beliau telah tiada, namun contoh dan teladan seorang imam yang beriman kokoh, imam yang tabah setia dan mencintai tugas,.. nasihat dan petuah kaya makna kiranya tetap terpatri dalam hati kami para warga komunitas, para  anak bina-calon imam, semua  keluarga besar Berkhmawan. Selamat jalan! Doa kami untukmu, doamu kami dambakan selalu.  Requiescat in Pace – R I P.

Mataloko, 05 Februari 2019

Rm. Benediktus Daghi, Pr

 

Ikan-Ikan Kerinduan

ikan-ikan kerinduan

ada …
ada yang putih
yang itam … yang abu-abu
yang belang … yang kuning

ikan-ikan kerinduan pukul 13.00
ngap-ngap pada bibir sjuta harap
pada kerinduan yang tak pernah sia-sia
nantikan bulir-bulir cinta
dari tangan terulur
yang slalu rindu berbagi tabur

pukul 13
heiii … ikan-ikan kerinduan
membagi telah selesai,
kembali OPA pada tahta segala
tempat smua bertaut harap
‘tuk slalu merindu
pada maha samudra
yang empunya segala

Tak pernah ada yang tahu, semuanya akan berakhir begini. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Hidup memang merupakan “suatu datang dan pergi yang terus”. Karena itulah, ia selalu menyambung generasi dan membawa angkatan. Mengalami yang ada, meninggalkannya, lalu merindukan yang akan datang. Bermula dari yang sementara, lalu menuju dan menetap pada yang paripurna dan kekal, Sementara itu fana, sedangkan yang paripurna dan kekal adalah tujuan. Ketika itu menjadi sebuah keyakinan, kekekalan lalu menjadi pilihan untuk senantiasa diper¬juang¬kan dalam menata hidup.

Tidak pernah juga ada yang tahu, pikiran ini singgah di benak dan nurani Opa. Begitulah sapaan akrab setiap anggota komunitas Berkhmawan saat berjumpa Romo Domi Balo. Namun, saya yakin sekali, Opa pasti mengangkat sedikit kacamatanya, mengusap-usap kening, mengelus-elus rambutnya yang memutih, lalu tersenyum tanda setuju. Namun saya tahu, matanya pasti lebih terpaut pada kolam Yobermans di hadapan kami. Pada ikan-ikan kerinduan yang menanti taburan bulir-bulir santap siang dari tangan sang Opa.

Tidak pernah saya duga bahwa kolam Yobermans itu telah menjadi saksi berlangsungnya sebuah keyakinan bahwa “hidup adalah suatu datang dan pergi yang terus … tapak-tapak yang menyambung generasi dan membawa angkatan.” Dari Kolam Yobermans, perisai air tempat pijak St. Yohanes Berkhmans, kita bertolak mengikuti jejak-jejak hidup Opa yang masih tersimpan.

 

Pukul 13.00
Setelah Opa pensiun melaksanakan tugas regular sebagai guru di kelas bagi para seminaris, pukul 13.00 jadi saat unik. Awalnya, saya anggap biasa karena Opa “Pensiun” selalu mengunjungi penghuni kolam. Saudara-saudara ikan(bahasa St. Fransiskus Asisi” sudah menjadi teman akrab Opa. Memang tidak setiap hari saya mengikuti aktivitas Opa yang satu ini. Suatu saat, pukul 13.00, sambil “seret-seret langkah” dengan segelas penuh makanan ikan, Opa melangkah menuju kolam Yobermans, lalu berhenti tepat di belakang patung Orang Kudus itu. Saya mengikuti Opa dan berdiri di sampingnya. Opa tidak segera memberi makan ikan-ikan kesayangannya. Hal pertama yang Opa lakukan adalah bersiul-siul mendendangkan not “do re do re do re” dengan halus beberapa saat. Sementara saya memperhatikan kolam yang sejak tadi tenang dengan sedikit riak kecil. Awalnya, saya pikir Opa sekadar bersiul karena baru selesai santap siang. Ternyata “doredore” yang unik itu, cara Opa mengundang sobat-sobat ikannya santap siang. Riak-riak kolam semakin besar karena ikan-ikan Opa meluncur berebutan makan siang. Tak lama berselang gelas makanan ikan pun kosong, laris manis santap siang bawaan Opa buat sobat-sobatnya. Cukup banyak kali, Opa tidak langsung kembali. Saya dan Opa masih melanjutkan bincang-bicang kami tentang banyak hal.

Saat Opa sudah tidak bisa lagi menemui sobat-sobatnya karena tidak sanggup melangkah karena sakitnya, saya merasa perlu memasuki waktu uniknya “pukul 13”. Gelas pakan ikan saya isi penuh, melangkah ke kolam, lalu berdiri di belakang patung Orang Kudus itu. Seperti Opa, saya mendendangkan “doredore-nya”. “Lihat! Ikan-ikan sobat Opa bermunculan berebutan santap siang, yang saya taburkan sambil terus ber-doredore.”

Persahabatan yang istimewa. Ikan-ikan itu telah menyatu dengan siul – senandung Sang Opa. Taburan kasih sayang Opa telah memberi mereka hidup. Kebiasaan Opa yang indah telah membuat ikan-ikan itu mengenal dan berebutan kasih yang ditaburkan melalui tangan hatinya dengan cinta. Sobat-sobat itu tak akan pernah lagi mendengar senandung “doredore”. Namun, habitus cinta dan persahabatan yang abadi telah menyatu dalam komunitas kolam Yobermans. Riak-riak kecil itu meninggalkan kenangan manis. Pernah terjalin kisah persahabatan Sang Opa dengan ikan-ikannya melalui senandung siul “doredore”-mu dengan tangan yang selalu siap menabur. Selamat jalan OPA. Selamat memasuki kolam abadi bersama Ikan-ikan kerinduanmu akan selalu menanti taburan kasih.

Rm. Alex Dae Laba, Pr

Jejakmu Tak Pernah Menyeberang

JEJAKMU TAK PERNAH MENYEBERANG
(Mengenang Figur Romo Dominikus Balo)

Betapa tidak mudahnya ketika saya harus memulai menulis sesuatu tentang Romo Domi Balo, sebagai senior, kakak, dan sahabat dalam imamat. Bukan karena tidak dekat dengannya dalam jarak tempat, jarak rasa, dan kurang mengenalnya. Tetapi terlebih karena alasan ini: saya harus memulainya dari mana dan tentang apa yang harus saya tulis terhadap figur dengan pengalaman karya yang luas, figur dengan latar belakang hidup dan karya hampir sempurna dalam empat generasi peradaban: generasi Orde Lama, generasi Orde Baru, generasi Reformasi, dan generasi Ledakan Teknologi Informasi atau generasi Milenial saat ini dalam setengah perjalanan Romo Domi.

Oleh karena itu, catatan mengenang figur Romo Domi, saya batasi pada lokus kebersamaan di lembaga pendidikan calon imam Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko, di mana Romo Domi berkarya terakhir selama kurang lebih 18 tahun. Dalam konteks karya, peran, dan tanggung jawabnya di lembaga ini, saya melihat Romo Domi, sebagai figur yang sungguh memberi warna bagi pendidikan seminari. Karena itu, ketika saat ini ia harus pergi menghadap Sang Khalik, saya memilih judul di atas: Romo Domi, Jejakmu Tak Pernah Menyeberang, untuk mengenang jejak-jejak kehadiran dan karyanya di lembaga ini.

Ada dua alasan mendasar untuk mengatakannya dengan judul dimaksud. Pertama, Romo Domi dengan karya-karyanya yang spektakuler, yang saat ini menjadi referensi lembaga dan para pengelola dalam membangun pendidikan calon imam. Pada poin ini, terdapat sejumlah hal yang bisa disebutkan.

1. Sesudah perayaan Intan, 75 tahun Seminari pada tahun 2004, Romo Domi menjadi ketua tim penyusun buku Pedoman Pembinaan Calon Imam. Buku pedoman ini, termasuk buku yang sangat lengkap dari segi Isi, Metode, dan Aplikasinya. Karena itu buku ini memuat hal-hal khas Seminari St. Yoh. Berkhmans Todabelu – Mataloko seperti : tentang Nama, Pelindung Seminari, arti Logo Seminari, Visi, Misi, Komitmen, Profil para seminaris sebagai calon peserta bina dan profil lulusan, Asas-asas, Prinsip dan Isi Pembinaan, Materi Dasar Pembinaan, Lingkungan Pembinaan, Pelbagai Komponen Pembina, Pelbagai Sarana Penunjang, serta Peraturan dan Tata Tertib Sekolah dan Asrama.

Buku pedoman dengan isi yang sangat lengkap ini, tercatat di lembaga ini sebagai buku pedoman pertama yang disusun dengan mengadopsi dari berbagai sumber semenjak seminari ini didirikan. Karena itu pada awal pengantar buku ini ia menulis, “Baru untuk pertama kali inilah Seminari kita mengeluarkan sebuah Buku Pedoman Pembinaan Para Calon Imam, sebagai perwujudan kenekatan kita bersama dalam rangka merayakan 75 tahun seminari kita, yang berpuncak pada tanggal 15 September 2004 yang lalu.”

2. Sebagai guru dan pendidik para calon imam yang mengasuh mata pelajaran bahasa Latin, Romo Domi, telah menerbitkan beberapa modul pembelajaran Bahasa Latin. Modul-modul ini dihasilkan dari dasar pengalaman mengelola pembelajaran bahasa Latin, di satu pihak; dan pada pihak lain Romo Domi berkeinginan agar bahasa Latin sebagai bahasa liturgi gereja ini, harus mempunyai tempat khusus di dalam sistem kurikulum seminari dan kurikulum nasional. Karena itu, ketika masih aktif mengajar sampai dengan 4 tahun yang lalu, Romo Domi sangat tidak puas dengan alokasi waktu mengajar Bahasa Latin yang sangat terbatas yaitu dua jam seminggu. Padahal, menurutnya, dan hal ini juga diamini oleh banyak orang yang pernah belajar bahasa Latin, bahasa Latin adalah pemicu membentuk nalar untuk berpikir kritis dan teliti, serta sebagai alat pembentuk humaniora dalam konteks ilmu-ilmu bahasa pada umumnya.

3. Pada Januari 2013, kami menggelar satu kegiatan yang kami sebut “Reorientasi Sekolah”. Disebut demikian karena sepuluh tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2003, kami sudah melaksanakan Orientasi Sekolah. Reorientasi sekolah itu pada prinsipnya ingin kembali meninjau sejauh mana kami menghidupi Visi, Misi, dan Komitmen serta bergumul meramu Materi Dasar Pembinaan sesuai dengan dokumen gereja, “Optatam Totius” dan “Presbyterorum Ordinis,” tentang Pembinaan Calon Imam di lembaga pendidikan ini, yang sudah kami bahas dan temukan sepuluh tahun sebelumnya. Kami merasa bahwa setelah sepuluh tahun berada dalam bingkai pendidikan seminari, ada banyak hal yang menguap hilang dalam rutinitas kami mengelola pendidikan. Selain itu, perubahan zaman pada umumnya, dan tuntutan kurikulum nasional pada khususnya, memang menuntut kami untuk menyesuaikan diri demi menjawab kebutuhan subjek bina dan subjek didik.

Berhadapan dengan tuntutan yang demikian, kami mencoba menjawab dalam bentuk dialog tanya jawab di antara kami para formator. Ada yang bertanya tentang tantangan riil yang dialami dan perlu dirumuskan secara konkret sehingga bisa mencari solusi. Ada yang meminta resep manjur apa yang bisa ditawarkan agar pendidikan calon imam tetap aktual, kontekstual, dan selaras zaman. Banyak pendapat yang diajukan saat itu dengan narasi argumentasi yang kuat dan masuk akal. Tetapi ketika tiba saatnya berbicara, Romo Domi merangkum semua pendapat dan berdiri pada jalan tengah untuk menjembatani arus pikiran yang berkembang serta menjaga keseimbangan antara hal-hal baru yang harus diperhatikan dalam pendampingan siswa dengan ketentuan-ketentuan umum pedoman pembinaan calon imam. Untuk tidak mengurangi pendapat asli yang terekam dalam dokumen Reorientasi Sekolah yang dilaksanakan pda tanggal 25-27 Januari 2013, di sini saya mengutipnya apa adanya:

Dua tahun lalu, redaktur majalah Seminari, Florete, datang pada saya dengan sepuluh pertanyaan. Judul umum Florete saat itu adalah “Pendidikan Calon Imam Dalam Arus Globalisasi”. Saya betul heran bahwa anak-anak itu punya pemikiran yang kritis. Mereka kelihatan cemas dengan globalisasi, tetapi di pihak lain mereka ingin agar pendidikan disesuaikan dengan arus globalisasi itu. Saya bergerak dari pemikiran mengenai globalisasi dan menempatkan pendidikan calon imam dalam era globalisasi. Globalisasi adalah arus yang tidak kita ketahui ujung pangkalnya, tetapi menyerbu masuk dan menyerang segala prinsip yang kita pegang. Kelihatan anak-anak itu ingin supaya pendidikan seminari menjawabi arus globalisasi itu. Intinya ialah: kalau kita menginginkan agar pendidikan calon imam itu harus kontekstual, apa konsekwensinya? Apakah kita mengalah dan membiarkan arus globalisasi itu masuk? Saya kira kita harus membedakan yang harus diperhatikan dan dipegang teguh, dan upaya-upaya untuk menjawab globalisasi tanpa mengorbankan prinsip. Untuk pendidikan calon imam, prinsip-prinsip itu adalah berpegang pada Kitab Suci, Pedoman Gereja, dan Ajaran Para Paus. Kalau prinsip-prinsip ini kita lepaskan, kita akan jadi korban dari globalisasi. Apa kontektualisasinya? Pertama, bergegang teguh pada prinsip-prinsip itu. Kedua, kita tidak boleh memenuhi seluruh keinginan anak-anak, misalnya bebas keluar dari seminari, nonton video sebebasnya, bermain play station, dan lain-lain. Ini justru salah. Dikaitlan dengan pertanyaan ROMO Selly mengenai tuntutan dari pemerintah kita: tantangan untuk seminari kita adalah bahwa pendidikan nasional diwarnai gerakan politik pendidikan tertentu, dan banyak kali kita dituntut mengikuti gerakan politik pendidikan itu. Sering peraturan seminari jadi korban karena hal-hal seperti itu. Di banyak seminari lain, anak-anak mengikuti pendidikan umum di sekolah lain, lalu baru ketika pulang ke asrama mereka mengikuti pendidikan seminari. Kita beruntung mempunyai sekolah dan asrama di satu tempat, sehingga pendidikan itu bisa berjalan bersama. Dan karena itu kita masih bisa mendamaikan kedua tuntutan itu, yakni tuntutan pemerintah dan prinsip-prinsip pendidikan di seminari. Semua kita adalah formator. Kita harus betul menjaga agar tidak ada perpecahan antara sekolah dan asrama. Kita harus betul bekerja sama. Di sekolah kita bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Di asrama ada hal-hal praktis yang diperlukan untuk pendidikan para calon imam”.

4. Tidak hanya pada batas memberi pendapat dalam pertemuan yang kami gelar saat itu. Tetapi Romo Domi pun konsekuen, ketika solusi konkret kerja sama, kedisipilinan, tanggung jawab, sebagai nilai yang turut ditemukan untuk membangun kohesi para formator dengan media doa bersama sebelum dan sesudah proses pembelajaran, ia pun siap mengerjakan sebuah Buku Doa dengan tema dan masa liturginya untuk digunakan sehari-hari di lembaga pendidikan ini. Buku doa inipun harus dicatat sebagai yang pertama dihasilkannya selama seminari ini ada dan hidup.

Tentu hal yang harus dimengerti lebih jauh adalah kehendak Romo Domi yang tersembunyi di balik lahirnya buku doa ini, yaitu agar pembiasaan hidup rohani, pembiasaan memberi bobot spiritual dalam setiap kegiatan, harus mendapat tempat pertama dalam setiap aktivitas. Dan persis di situlah suasana ke-seminari-an, tradisi-tradisi lembaga pendidikan calon imam dijaga dan dirawat bersama seluruh komponen.

Pengalaman saat ini, rasanya menarik ketika para guru dan pegawai mengawali dan mengakhiri proses pembelajaran dengan doa di ruang guru, dan para siswa di masing-masing kelas. Terdengar di setiap sudut ruang tempat dan ruang hati bergema lagu pujian dan doa hormat bakti kepada Allah di tempatNya yang tinggi seperti yang dilantunkan dalam Kitab Mazmur ini, “Pujilah Tuhan di surga, pujilah Dia di tempat yang tinggi. Pujilah Dia, hai segala malaekatNya, pujilah Dia hai segala tentaraNya. Pujilah Dia hai matahari dan bulan, pujilah Dia hai segala bintang terang! Pujilah Dia hai langit yang mengatasi segala langit, hai air yang di atas langit. Baiklah semuanya memuji nama Tuhan, sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta”(Mzr 148 : 2- 5).

Kedua, Romo Domi adalah figur teladan pemimpin, tempat saya belajar. Sebagai orang yang saat ini diberi kepercayaan memimpin lembaga ini, terkadang saya mengalami kebuntuan berpikir dan bertindak untuk sesuatu yang butuh kecepatan beraksi. Biasanya saya menggunakan forum pertemuan staf Pembina untuk urung rembuk. Tetapi untuk memastikan cara beraksi yang tidak berdampak negatif, saya berkonsultasi kepada sang sepuh dengan segudang pengalaman dan wawasan yang luas. Dengan itu saya bisa katakan bahwa kehadiran figur sepuh seperti Romo Domi, adalah kehadiran yang meneguhkan dan memberi kepastian untuk mengurai benang kusut permasalahan.
Selain pengalaman dan wawasan yang luas, Romo Domi juga, menjadi tempat saya bercermin tentang ketekunan dan kesetiaan dalam membina imamat. Seandainya Tuhan berkenan memberinya umur yang panjang lebih dari sekarang, di tahun 2020 nanti, bersamanya kita merayakan pesta emas 50 tahun imamatnya. Emas imamat dalam hitungan waktu memang tidak tercapai. Tetapi kebertahanan dalam imamat sampai maut menjemput, itulah nilai emas dalam kesetiaan.

Ketekunan dan kesetiaan yang lain ialah dengan membina disiplin belajar terus menerus, belajar yang tidak pernah berhenti. Ia sangat disiplin mengembangkan diri dengan wawasan yang luas sehingga tidak pernah terasa ia ketinggalan zaman dalam perspektif pastoral sosial politik, ekonomi, dan budaya. Dalam hal ini, Romo Domi, bisa menjadi “narasumber” tersendiri ketika kami berkomunikasi dan berdialog di meja makan. Ia sepertinya sungguh menghayati aksioma Latin yang menjadi bidang kompetensinya, “Ama disciplinam, et disciplina tibi qualitatem praebet” (Cintailah kedisiplinan, maka kedisiplinan akan memberikan anda suatu mutu).

Selamat jalan sang sepuh, guru, dan sahabatku dalam imamat. Kini kau berdiri di tepian waktu untuk menegaskan bahwa kau memang pergi, tapi jejakmu tak pernah menyeberang. Di sini geliat karya dan pelayananmu menyatu dalam harumnya “mawar putih,” lagu kebanggaan laskar Berkhmawan.

Romo Gabriel Idrus