Imam Berbasis Iman

IMAM BERBASIS IMAN

                “…aku percaya, karena itu aku berkata-kata..” (2Kor.4,13), merupakan suatu ungkapan seorang manusia rapuh yang menjadi rasul karena ditangkap oleh Tuhan sendiri. Dalam kerapuhan dan keterbatasannya, kelak kemudian menjadi rasul utusan Tuhan. Ia  menyampaikan  bahwa iman itu adalah harta rohani yang menjadi dasar, kekuatan yang membuat ia mampu mewartakan, menyampaikan kebenaran sejati Tuhan kepada umat Korintus. Dalam kerapuhan dan keterbatasan manusia itu, kekuatan dan kekuasaan Allah menjadi nyata.  Rencana dan kehendak Tuhan yang membuat ia mampu, demikian keyakinan st. Paulus (bdk. Fil, 4,13).

            Mulanya agak sulit mengenal sosok Imam Tuhan yang satu ini: Romo Domi Balo, Pr,  sebatas dibaca dalam daftar Katalogus Alumni Seminari Tinggi st. Petrus Ritapiret atau sebatas ‘kata orang’ tentang beliau. Dalam perjalanan waktu akhirnya tidak cuma mengetahui tetapi lebih dari itu ‘mengenal’ sebagai rekan sekomunitas.

Dalam  putaran pertama,  jilid I  kebersamaan saya dengan Romo Domi Balo, Pr (Agustus 1988 – Maret 1990, masa pelayanan beliau sebagai Praeses Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret, sementara penulis adalah seorang pembina baru di langkah-langkah awalnya)  terlintas kesan bahwa Imam pelayan tertahbis ini, adalah manusia pelayan sedarhana, lugu, tabah, setia dan mencintai tugas. Lebih jauh terlintas juga pelayan tertahbis ini  sedang dengan serius mencari Tuhan dan kehendakNya dalam hidup dan dalam karya pelayanannya. Hidup dan pelayanannya adalah saat untuk mencari Tuhan, seperti yang diungkapkan St. Vincentius a Paolo (Die Zeit Gott zu zuchen, ist dieses Leben). Kehendak Allah terus digali dalam hidup nyatanya, bukan cuma dalam kata-kata pemanis mulut, tetapi dalam tingkah-tindakan hidup, pelayanannya, walau ia harus menghadapi tantangan dari luar diri dan luar komunitas mau pun dari lingkungan komunitas. Semuanya dihadapinya dengan tenang.  Nampaknya beliau sadar bahwa onak dan duri, arus dan gelombang pasti selalu ada di depan mata kita manusia,  namun Tuhan pasti memegang tangannya. Bersama Tuhan dan dengan Tuhan, manusia akan mampu menghadapi segalanya. Tuhan tidak cuma ditemukan dalam situasi serba enak, menyenangkan, tetapi juga dalam situasi batas, keringat dingin, gemetaran dalam tugas karya nyata.

Dalam sebuah permenungan kesempatan rekoleksi komunitas Staf Ritapiret, jelang Prapaskah 1989  ia pernah berujar,  “Allah dapat kita jumpai/kita temukan pada saat kita melaksanakan tugas kita.”  Nafas sesak dalam menghadapi tantangan kesulitan tugas, seorang pelayan tertahbis, tidak boleh membuat kita  melarikan diri dari semuanya itu, tabah dalam tugas, sabar dalam karya (tentu dalam konteks nyata rumah Rita saat itu).  Dalam nada iman  penuh pasrah diri, nyata dalam kata-kata permenungannya itu, ia mengatakan ‘Badai ganas  telah membuat akar pohon semakin kokoh-kuat.’  Akar pohon itu menjadi kuat justru karena Allah yang memberinya kekuatan. Dalam alur pikiran di atas beliau menutup renungan rekoleksi itu dengan kembali menyitir kalimat St. Vincentius a Paolo, “Die Zeit Gott zu besitzen, ist die Ewigkeit,” waktu untuk memiliki Tuhan adalah keabadian/kebangkitan/kebahagiaan abadi.  Hanya lewat Salib dan penderitaan manusia sampai pada kemuliaan kebangkitan. Keringat dan jerih lelah, suka dan duka silih berganti, tidak ada yang ‘gratis’ dalam hidup manusia ini. Lagi-lagi, kalimat ini semua mengungkapkan kedalaman iman seorang imam Allah ini.

            Pada kebersamaan saya dengan beliau – putaran kedua, jilid II,  (di Seminari Menengah St. Yoh. Berkhmans Todabelu-Mataloko: Januari 2006 sampai dengan  Januari 2019,  hari-hari terakhir sebelum ia meninggal), Romo Domi masih tetaplah seperti yang dahulu, masih dalam kemasan warna dasar yang sama. Iman dan keyakinan akan kekuatan kekuasaan Allah tetap menjadi sandaran dan harapan utamanya. Allah adalah akar kekuatan yang menahan terjangan badai hidup.

Romo Dominikus Balo, Pr adalah seorang imam Praja Keuskupan Agung Ende generasi-generasi awal, produk binaan jaman itu yang terbilang sebegitu kuat dan mendalam menanamkan sesuatu dalam hati anak binaan kala itu. Tempaan tangan para misionaris barat rupanya sulit tercabut dari sanubari Romo Domi. Akar iman sebegitu kokoh kuat, walau sayap kebebasan seorang  manusia/pemuda tetap ia menjadi acuan tindaknnya. Beliau, adalah salah satu sosok pribadi imam karena iman, yang  merangkaikan seluruh hidup dan karya pelayanannya sebagai manusia-pelayan tertahbis, yang tekun-setia, mencintai tugasnya karena ia sadar sungguh bahwa ia menjadi imam karena pilihan Allah sendiri.. Dalam rentang waktu jelang emas imamatnya, hidup dan karya sosok imam  yang satu ini telah membenarkan bahwa ia adalah figur pelayan tertahbis yang tekun setia dan manusia dedikatif dan konsisten dalam melaksanakan tugasnya. Imamat yang digapainya bukanlah sebuah usaha manusia pribadinya atau perjuangan sanak-keluarganya tetapi murni karena iman akan  suara panggilan Allah. Imam karena iman.

Justru dalam ziarah pelayanan kepada sesama, ia telah mencari dan menemukan Allah. Dalam  suatu pengabdian tanpa batas kepada Dia yang telah memilih dan memanggilnya. Iman  membara akan apa yang dikehendaki Allah atas dirinya itu membuat selalu terpancar dalam tingkah perbuatannya Romo Domi ‘Homo proponit, Deus disponit’  – Manusia merencanakan tetapi Allah menentukan. Kalimat yang terpampang mantap di depan pintu kamarnya, bukan cuma sekedar tanda bahwa ia adalah seorang guru bahasa Latin yang handal tetapi lebih sebagai ungkapan iman keyakinannya, bahwa manusia merencanakan segalanya tetapi, tapi Allahlah yang menentukan segalanya itu. Suatu ungkapan iman dan pasrah diri kepada taqdir Allah, cuma Allah yang memiliki daya dan kekuatan penentu atas hidup dan karya kita.

Ziarah karya pelayanannya sebagai imam: dari Lembaga Pendidikan Calon Imam baik di Seminari Menengah (di Lela) pun di Seminari Tinggi, kemudian kembali lagi  ke Seminari Menengah (Mataloko), diselangi dengan tugas pelayanan pastoral parokial, tugas pelayanan di Pendidikan Persekolahan, Pusat Pastoral…semuanya merupakan bentuk pelayanan seorang hamba Tuhan yang taat-setia dan mencintai tugas tanpa memilih-milih lapangan/tempat kerja yang sesuai dengan kemauan, selera diri sendiri, tetapi tunduk-taat total kepada kehendak Allah, taat dan setia kepada putusan Pimpinan, demi kelancaran karya pengabdian kepada Allah dan demi kelancaran karya pelayanan kepada sesama.  Kesetiaan dan cinta akan tugas membuat Romo Domi walau usia semakin uzur, ia tidak mau mundur dalam tugas- tugasnya. Usia uzur tidak menghalangi langkahnya menuju ke kelas, sambil duduk membimbing para calon imam Tuhan. Selain itu, pelayanan karya pastoral: pelayanan sakramen tobat/pengakuan, mendengarkan keluhan dan berbagi dari umat yang datang, pelayanan perayaan Ekaristi bagi  orang yang membutuhkannya, tidak ia lewatkan, tetap dan selalu siap, walau di tempat saja…bukti nyata betapa ia mencintai tugasnya…

Hari-hari jelang  emas imamat yang sudah di mata, dalam  keterbatasan seorang anak manusia, ia tetap berpegang teguh pada apa yang telah terpampang di depan kamarnya itu, ungkapan imannya bahwa manusia merencanakan tetapi akhirnya Allahah yang menentukannya. Kini ia sudah berada di garis finish, sambil mengancungkan tangan tanda kemenangan, ia naik podium untuk dikalungi medali kemenangan: Ia telah menjadi Imam Allah dalam Iman sampai akhir hayatnya, ia telah menjadi sahabat Tuhan untuk selamanya. Saat Kematiannya adalah saat ia menemukan dan memiliki Tuhan yang ia imani (Die Zeit Gott zu besitzen, ist die Ewigkeit). Ia sadar bahwa menghadapi hal satu ini, “Kematian,” manusia tidak mampu  mengajukan  protes terhadap kehendak Allah,  Allah tidak bisa disogok, Tuhan tidak bisa disuap untuk meminta tunda, Allah telah menentukan, menetapkan segalanya Kekuatan dan kekuasaan Allah telah menyata dalam seluruh ziarah hidup dan karya sang imam Allah yang memiliki iman tangguh ini.. Homo proponit, Deus disponit.

Rm. Domi: Imam lansia yang milenial

Dalam kebersamaan hidup selama lebih dari 13 tahun di Lembaga Pendidikan Calon Imam – Mataloko ini, dapat saya katakan bahwa Imam Allah yang lansia ini, jangan dikira ia ketinggalan jaman dan tidak memiliki minat terhadap hal-hal aktual-kontekstual.  Ia adalah imam lansia yang milenial, senior yang berjiwa yunior, imam tua dengan semangat dan berwawasan muda. Ia tetap aktif di depan laptopnya untuk menulis sesuatu, entah artikel, renungan, materi bahan ajar (bahasa Latin, atau bahan apa saja).   Suatu pagi jelang siang (sewaktu saya masih Praeses), dalam nada kelakar saya mengatakan, “Ah…romo sibuk sekali ya? Setiap kali saya lewat di depan kamar, Romo selalu asik duduk di depan laptop, jangan terlalu duduklah,… nanti sakit tu, istirahat-istirahat juga toh!…” Dalam nada kelakar juga beliau mengataka, “Setiap kali saya di depan laptop, Praeses lewat…salah siapa. Sebenarnya saya tidak terlalu sibuk,.. siapa suruh lewat dan lihat ke sini…”

Rm. Domi selalu mengikuti gerak perkembangan dunia politik dengan situasi terbaru, baik lewat TV, malajah, pun sarana-sarana media sosial lainnya.   Minat dan perhatiannya terhadap segala perkembangan terbaru tidak ia abaikan, ia tahu: siapa dari partai apa, dukung pasangan  mana, demonstrasi di mana…ia selalu ikuti, selalu terus  ia belajar dan belajar terusss. Program-program terbaru dalam laptop, dengan pelbagai variasi ia pelajari, obat-obat baik herbal pun generic produk-produk terbaru, ia tahu semua…ketika ditanya selalu ia katakan, “Ada di internet tu, obat itu bagus direkomendasikan dan sangat dianjurkan oleh dokter.”  Obat-obat kebutuhannya didatangkan via internet/on line. Segalanya tentu demi mencoba memperpanjang hidupnya. Rencana dan ketetapan Tuhan telah final, akhirnya Tuhan menjemput sang sahabatNya, untuk duduk di sebelah kananNya… Beliau telah tiada, namun contoh dan teladan seorang imam yang beriman kokoh, imam yang tabah setia dan mencintai tugas,.. nasihat dan petuah kaya makna kiranya tetap terpatri dalam hati kami para warga komunitas, para  anak bina-calon imam, semua  keluarga besar Berkhmawan. Selamat jalan! Doa kami untukmu, doamu kami dambakan selalu.  Requiescat in Pace – R I P.

Mataloko, 05 Februari 2019

Rm. Benediktus Daghi, Pr

 

Tags: No tags

Comments are closed.