WURI AND THE WAVES
Buku ini untuk kesekian kalinya saya baca kembali. Ditulis bukan oleh orang Indonesia. Namun, dia, penulisnya, pencerita ulung. Kita seperti membaca kembali diri kita sendiri, anak-anak kita dengan segala keceriaan dan mimpi-mimpinya, dan atmosfir pendidikan yang diharapkan, di negeri kita Indonesia ini.
Terima kasih Michael Lacey Freeman. Kisah-kisahnya mengalir, menghanyutkan, ringan, enak dibaca, dan tentu, membawa pesan. 14 kisahnya ada di XReading, perpustakaan digital yang mudah diakses di mana-mana, di seluruh dunia, termasuk di Flores.
Kisah singkatnya demikian. Seorang anak bernama Wuri, tinggal di Jimbaran, Bali, akrab dengan lingkungan di sana, terutama laut dan ombak-ombaknya yang dianggapnya teman. Dia bekejar-kejaran dengan ombak, bercanda, marah, bermain, gembira, sedih. “You may think I’m crazy, but I talk to the ocean, and I really believe that it listens to me – Kau mungkin mengira say agila, tapi saya berbicara sama lautan, dan saya sungguh percaya, dia mendengarku,” kata Wuri.
Sedihnya, dia harus tinggalkan lautan dan ombak-ombaknya itu. Dia pergi ke Jakarta, mengikuti ayah dan ibunya, ke sebuah tempat yang asing sama sekali, tinggal di sebuah apartemen, di lantai nomor 33. Malam harinya dia membuka jendela. Yang dia lihat bukan ombak, tapi lautan cahaya berkelap-kelip.
Sejak berangkat dari Jimbaran ke lapangan terbang, dia membawa serta macam-macam pertanyaan yang dia tidak bisa jawab. Dia membuka peta Jakarta, tapi peta hanya sepotong kertas. Jawaban tidak ada di sana. Dan saat dia membuka jendela dan melihat pernak-pernik cahaya, apakah kegalauan itu hilang? Tidak sama sekali.
Wuri salah satu gadis yang beruntung, karena dia menjumpai Ratna, gadis seumur dia, penghuni apartmen sebelah, yang kemudian jadi sahabatnya. Melalui Ratna dan teman-teman lainnya, Wuri pelan-pelan menemukan tempatnya di Jakarta.
Bersama Ratna pula, mereka sering ke kolam renang di Gelora Bung Karno. Di sana memang tidak ada lautan, tidak ada ombak, tapi sekurang-kurangnya ada air, dan Wuri mencintainya.
“When I swim, I forget about everything else. It makes me smile inside – saat aku berenang, aku lupa segalanya. Berenang membuatku tersenyum di batin,” katanya. “Actually”, Wuri melanjutkan, “I don’t swim in the water. I swim WITH the water – Sesungguhnya, aku tidak berenang di air, aku berenang BERSAMA air.”
Sampai di situ, Wuri lega. Air menjawab segala kegalauannya. Dia punya tempat di Jakarta yang asing, jauh dari ombak.
Fase berikutnya adalah ketajaman mata Budi Gunawan. Diam-diam dia memperhatikan Wuri, dan dia menangkap kapasitas alaminya. Gadis desa ini bisa berenang lama dan lincah, seakan tak kenal lelah.
Budi sendiri mantan atlet renang. Pada tahun 2012 dia bertarung di Olimpiade, di London. Saat ini dia menjadi pelatih renang. “You have a great potensial – kemampuanmu luarbiasa,” katanya tulus pada Wuri.
Wuri tertegun. Yang dia lakukan itu sesuatu yang alami, keluar dari hatinya. Dia tidak pernah merasa ada sesuatu yang besar di dalam dirinya. Dia terkejut orang lain melihatnya. Dan itu Budi, guru, coach, mantan perenang nasional.
Maka jadilah. Bersama Budi, Wuri terus berenang. Kali ini dia lakukan itu bukan secara alami. Dia dibekali teknik. Dia belajar dan terus belajar di bawah bimbingan Budi, sampai suatu waktu orang tuanya tertegun, “One day, your daughter will swim for Indonesia – Suatu saat nanti anak gadismu ini akan berenang untuk Indonesia”. Wow!

Ekosistem
Kebetulan saya membaca kembali kisah ini di awal semester ke-2, Januari 2026. Seperti Wuri, saya membayangkan anak-anak sekolah yang datang dari mana-mana – dengan latar belakang yang berbeda, dengan kegalauan yang berbeda, dengan kesenangan-kesenangan berbeda yang mereka tinggalkan di rumah, di kampung halaman, di desa – sudah mulai (mudah-mudahan!) mendapat tempat di sekolah.
Karena sudah cukup lama di sekolah, seperti Wuri yang mempunyai Ratna, mereka pasti mempunyai teman yang kehadirannya membuat mereka (mudah-mudahan) tidak merasa sendirian.
Namun pertanyaannya, apakah mereka menemukan Budi di sekolahnya, yang hatinya bening, matanya tajam untuk melihat kapasitas-kapasitas yang mereka miliki dan membantu dengan setulus-tulusnya tumbuh-kembang kapasitas-kapasitas itu secara merdeka?
Saya teringat Ki Hadjar Dewantara yang sangat percaya bahwa anak diberi anugerah kapasitas alami yang istimewa, dan sekolah tidak akan bisa menambah kapasitas itu. Dia membantu agar kapasitas-kapasitas itu bertumbuh, mengalir dan mekar semerdeka-merdekanya.
Namun sekolah hanya bisa membantu anak-anak secara maksimal kalau dia menjadi ekosistem yang menumbuh-kembangkan, dimana relasi yang terjadi antara berbagai komponen: kepala sekolah, guru, siswa, orang tua adalah relasi yang menumbuh-kembangkan (life-giving relationship), komunikasi yang terjalin dilandasi trust, karena semua terbuka dan rendah hati untuk mendengar, menghargai dan belajar, semua penuh tanggung jawab, dan semua menghayati kesepenuh-hatian (wholeheartedness).
Saya teringat perbincangan intensif dengan Dr. Itje Chodidjah, MA di aula SMP Seminari, 18-19 Desember 2025 silam. Saya tertegun ketika menyadari banyak hal penting yang menenun soliditas ekosistem di sekolah intangible, tak kelihatan, tak kasat mata, tapi kalau tidak diperhatikan ekosistem jadi rapuh, berantakan.
Komunikasi yang cair dan non violent yang membuat orang merasa bahwa dia ada tempat di sekolah, koordinasi dan kolaborasi yang mengalir atas dasar trust, yang membuat orang merasa tidak disisihkan, dihakimi, disalahkan, keterbukaan dan kerendahan hati untuk saling mendengar dan belajar, tanggungjawab yang melampaui ego, kesepenuh-hatian karena mau repot melayani dengan gembira, keteladanan yang mengungkapkan living values sebagai kesaksian, semua ini intangible, tak kasat mata, tapi betapa berartinya!
Butir-Butir Refleksi
Banyak sekali hal menarik dalam perbincangan itu. Salah satunya, ungkapan-ungkapan yang thought-provoking, yang membuat kami, para guru Seminari, bermenung, dan berbagi dengan tulus.
“Setiap murid sebenarnya ingin selalu membangun komunikasi dengan gurunya”. Ini salah satu kalimatnya. Kami diajak untuk berefleksi apa yang sudah dilakukan, dan apa yang perlu diperbaiki ke depan.
“Murid membutuhkan guru yang percaya pada potensinya. Murid membutuhkan ruang untuk membuat kesalahan dan belajar darinya. Murid belajar dari teladan perilaku gurunya, bukan hanya dari penjelasan. Hubungan positif antara guru dan murid memperkuat motivasi belajar. Murid berkembang ketika mereka merasa aman untuk bertanya. Tugas kita adalah membuat lingkungan yang membuat murid berani mencoba. Guru berkembang melalui refleksi dan dialog. Kolaborasi yang baik membutuhkan kerendahan hati dan keterbukaan. Selalu ada yang dapat kita pelajari dari rekan yang berpikir berbeda”.
Ini kalimat-kalimat yang memancing kami untuk berefleksi, dan kemudian berbagi dalam kelompok. Hasilnya dituliskan delegatus kelompok untuk kemudian melaporkannya dalam kelompok yang lain. Kelompok yang lain menambahkan apa yang terasa kurang. Delegatus kelompok kemudian melaporkannya kepada forum.
Refleksi itu membumi. Menyengat. Membuat semua terlibat. Membuat semua momen berharga. Dan time flies – waktu mengalir, tak terasa.
Banyak sekali hal menarik yang didapatkan. Semuanya bermuara pada satu hal, agar Wuri di sekolah kami tertegun karena menyadari dalam dirinya ada gunung api, ada magma, ada potensi kemanusiaan yang besar, yang siap meledak. Agar dia bertumbuh kembang dalam kemerdekaannya.
Sekolah unggul? Ungkapan ini menyesakkan dada. Ada aroma kompetisi yang saling menyingkirkan. Kadang ada aroma manipulasi, dan anak-anak jadi korban untuk bendera sekolah, daerah. Bukan mimpi anak-anak, tapi ambisi orang dewasa yang mengubur mimpi anak-anak.
Dengan membaca Wuri and the Waves mungkin keunggulan sekolah harus dipikirkan berbeda. Ketika para muridnya merasa diterima, in place, punya tempat. Ketika ada ekosistem yang memerdekakan. Ketika para guru bermata bening, terbuka, rendah hati, penuh tanggung jawab, dan memiliki kesepenuh-hatian melayani. Ketika benar-benar ada living values yang mengikat, dimana komunitas sekolah menjadi komunitas kesaksian dan para guru teladannya.
Ah, Wuri and the Waves. Kisahnya ringan, seru, enak, mengalir. Imajinasi kita hidup. Cover bukunya benar-benar Indonesia. Seorang gadis berdiri memandang lautan, sambil mengenakan kebaya merah dan rok putih – Merah Putih. Berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira (Nani Songkares).
