SISWA SEMINARI LIVE IN DI TIGA LOKASI

St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko

 Siswa seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko melaksanakan live in di tiga lokasi, yakni Jerebuu untuk para siswa yang tergabung dalam kelompok etnis PERSIBA (Persatuan Seminaris Asal Bajawa), Moni untuk kelompok etnis GASSELI (Gabungan Seminaris Asal Ende-Lio), dan Boawae untuk kelompok etnis TARSANTO (Tergabungnya Seminaris Asal Nagekeo-Toto), pada Kamis-Minggu (15-17/06/2017).

            Kegiatan di awal liburan musim panas yang adalah program tahunan tersebut  wajib diikuti semua seminaris, tak terkecuali para siswa dari luar kelompok-kelompok  etnis tersebut, seperti dari Manggarai, Larantuka, Lembata, Kupang, ataupun  dari luar NTT. Mereka diberi kebebasan memilih bergabung di dalam salah satu dari ketiga kelompok etnis itu.

            Dalam kegiatan tersebut para siswa disebar ke dalam KUB-KUB di paroki tujuan, tinggal di tengah keluarga, untuk sejenak merasakan denyut riil kehidupan keluarga dari umat yang menjadi konteks pendidikan mereka, dan kelak pelayanan mereka di masa mendatang.

            Para siswa dari kelompok etnis GASSELI, misalnya, pada Kamis 17/06/2017, disebarkan dalam 32 KUB di paroki Moni. Keesokan harinya, mereka mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan bersama umat di KUB masing-masing. Kegiatan sore hari adalah pertandingan sepak-bola persahabatan dengan OMK (Orang Muda Katolik) paroki Moni.

            Kegiatan serupa dilakukan para siswa kelompok etnis PERSIBA di Jerebuu dan TARSANTO di Boawae. Kegiatan malam adalah katekese umat di KUB masing-masing dengan tema Meneladani Keluarga Kudus Nasareth. Perayaan Ekaristi hari Minggu diadakan di pusat paroki, dengan koor yang ditanggung para siswa. Seluruh kegiatan live in diakhiri dengan Malam Hiburan berupa pentasan acara seperti drama, tarian atau pun nyanyian untuk menghibur umat setempat.

Pengalaman Berharga

            Kegiatan live in menyediakan banyak pengalaman berharga bagi para siswa. “Saya ditempatkan di KUB yang cukup jauh dari pusat paroki. Kami harus berjalan menurun cukup dalam, kemudian mendaki lagi”, ujar Mario Degho (17), siswa kelahiran kota Semarang, yang memilih live in di Jerebuu, sebuah paroki dengan perbukitan serba menjulang dan jalan yang curam.  Perjalanan turun naik bukit dengan tangga yang curam harus dilewatinya setiap kali pulang-pergi dari KUB ke paroki atau sebaliknya. Dia merasakan sendiri kerasnya perjuangan hidup yang tidak dialaminya di seminari. “Namun saya bahagia merasakan kehangatan keluarga di sana. Saya merasa diteguhkan”, lanjutnya.

            Hal serupa dialami Ito Funan Pineul (16), siswa asal Kefa, Timor, yang memilih live in di Moni. “Tempat saya jauh dari pusat paroki. Saat pertama saya ke tempat penginapan, saya diantar dengan motor. Hari-hari berikutnya waktu saya pergi ke pusat paroki untuk merayakan Ekaristi, baru saya sadar, ternyata lokasinya jauh. Umat kalau pergi ke pusat paroki harus berjalan jauh sekali. Saya sadar, saya tidak boleh cepat menyerah atau putus asa kalau mengalami kesulitan di seminari”, kisahnya.

            “Keluarga tempat saya tinggal adalah petani. Saya pergi bersama mereka ke kebun. Saya ingin sekali bekerja bersama mereka, tetapi mereka melarangnya. Saya sedih sekali”, kata Nando Magho (16), siswa asal Kalimantan yang memilih live in di Moni. “Tapi saya tahu, ini bentuk penghargaan mereka terhadap saya”.

            “Kampung tempat kami diinapkan jauh sekali dari pusat paroki. Kami diantar dengan satu motor. Belakangan saya tahu, itulah satu-satunya kendaraan ke kampung itu. Saat ke paroki hari-hari selanjutnya, motor digunakan untuk adik-adik siswa SMP, sedangkan saya dan teman-teman dari SMA memilih jalan kaki, kadang-kadang sambil berlari, karena jauh. Kami pernah berangkat dari paroki dan tiba kembali di kampung jam 9 malam. Yang mengharukan, umat masih setia menunggu”, syering Erik Senda (20), dan Stanley Novendra (18), keduanya siswa XII SMA.

            Manfaat lain dari kegiatan live in adalah pengalaman berorganisasi dan kolaborasi yang nyata. “Kami sendiri harus berkomunikasi dengan pastor paroki dan umat dari paroki tujuan, mempersiapkan seluruh acara, mengatur jadwal kegiatan, dan menghubungi kendaraan”, kata Andi A. Lowa, salah seorang pengurus kelompok etnis PERSIBA. Ada kegembiraan tapi juga tantangan yang tak jarang getir. Ada sukacita, tapi tak kurang kecemasan: tentang keselamatan, tentang jalannya acara, tentang ketepatan waktu, dan lain-lain.

Para siswa umumnya merasa amat diteguhkan dalam panggilan mereka. Kepolosan, keramahan umat, penghargaan mereka, kerendahan hati mereka, perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan mereka untuk mengembangkan hidup, kerinduan mereka untuk mendapatkan kunjungan lanjutan, keterampilan berorganisasi, berkomunikasi dan berkolaborasi, tanggungjawab untuk menyelesaikan seluruh kegiatan secara tuntas adalah sedikit dari sekian banyak bekal rohani yang dinikmati para siswa dan meneguhkan mereka.

Live in adalah salah satu kegiatan yang selalu dinantikan para siswa (Nani. Kontributor: Mario, San Sera, Alfian).